London.
Ia tidur dengan gelisah. Matanya terbuka, melirik ke arah alarm digital di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul 03:03. Ia mendesah pelan.
"Jesus!"
Selalu waktu yang sama.
Maura percaya, pukul tiga adalah waktu yang terlalu dini atau terlalu terlambat untuk memulai sesuatu. Tapi, kakinya bergerak menuruni ranjang yang terasa dingin sejak Gerald suaminya meninggal tujuh tahun yang lalu.
Ia berjalan perlahan menuju dapur.
Segelas air.
Satu tegukan.
Lalu, bayangan itu kembali.
Air yang tenang.
Tiga anak berdiri di tepinya.
Seekor bangau melintas rendah di atas permukaan muara.
Dan sebuah suara yang begitu pelan, namun terdengar jelas di telinganya.
"Pulanglah."
Maura meletakkan gelas di meja. Jemarinya tanpa sadar meraba dada kirinya. Denyut yang halus menjalar ke ketiak, lalu naik ke leher. Tidak cukup kuat untuk disebut nyeri, tetapi cukup untuk membangunkan ketakutan yang selama ini berusaha ia kubur.
Satu tahun lagi, pikirnya.
Jam 09:15, St Thomas' Hospital.