Fitness Centre, London.
Maura kembali datang ke fitness center itu. Tubuhnya mulai pulih. Napasnya tak lagi sependek beberapa minggu lalu, dan rona wajahnya perlahan kembali. Namun ada satu hal yang tak berubah, tatapan matanya masih menyimpan kegelisahan. Di sekelilingnya, orang-orang berlari di atas treadmill, mengangkat beban, dan tertawa seolah hidup akan berlangsung selamanya. Maura tahu, tidak semua orang memiliki kemewahan untuk berpikir demikian.
Rinaya melirik monitor sepeda di samping ibunya.
"Mama... serius? Dua belas kilometer?"
Maura tersenyum sambil mengusap keringat di dahinya.
"Memangnya kenapa?"
Rinaya mengangkat kedua tangannya menyerah.
"Aku baru tujuh kilometer. Ini nggak adil."
Ditha ikut melirik monitor di sebelahnya.
"Mama memang juara kalau urusan sepeda. Dari dulu."
Maura tertawa kecil. "Kalau Mama tidak pernah mengantar kalian ke sekolah dengan sepeda, Mama mungkin tidak akan pernah menang dari kalian."
Ditha dan Rinaya mengayuh sepeda lebih cepat sambil tertawa.
"Ayo kita kejar! Jangan sampai Mama sampai ke garis Finish sendirian!" kata Rinaya.