
Sesuatu berdentum-dentum dalam tempurung kepala Logan. Rasanya, seakan seseorang memukul-mukul sesuatu dengan sangat keras hingga kepalanya bergetar. Brak brak brak! Dan suara gebrakan itu diikuti dengan teriakan yang sama kerasnya.
"Uugh!" Logan mencengkeram kepalanya dan mengerang. Terutama kini, ketika suara-suara itu terdengar makin keras dan mengganggunya.
"Paman! Paman, bangun!" Brak brak brak!
Logan melenguh dan mendorong bantal yang menutupi kepalanya. "Sialan!" Sesuatu yang dikiranya mimpi, ternyata sama sekali bukanlah mimpi. Saat ini, seseorang memang tengah menggedor-gedor pintu rumahnya, hingga Logan tidak akan heran jika benda itu roboh karena terlepas dari engselnya.
"Paman, cepat buka pintunya!"
Bocah itu tidak akan berhenti, Logan tahu itu. Jadi dia tidak punya pilihan selain bangun dan menyeret dirinya menuju pintu, sebelum benda itu benar-benar roboh. Logan menyingkirkan selimut dan mengucek mata, sebelum duduk dengan kebingungan.
Di mana aku? Logan mengamati sekelilingnya dengan panik. Ini bukan kamarnya. Meski entah bagaimana, semua barang-barang di ruangan itu adalah miliknya.
"Logan, apa kau sudah bangun?" Kali ini, Logan mendengar suara kakak perempuannya. "Logan!"
Setelah beberapa saat, barulah Logan menyadari keadaannya. Ini adalah rumah barunya. Rumah yang dia beli dan baru ditempatinya belum sampai dua puluh empat jam yang lalu. Jadi, tidak mengherankan jika sekarang dia tampak seperti orang linglung.
"Logan!"
"Iya, iya sebentar!" Logan menjawab panggilan sang kakak, yang sudah terdengar tidak sabar. Pria itu memungut kaos kusut yang semalam dia lemparkan dengan asal, sebelum berjalan menuju bagian depan rumah dengan mata masih setengah terpejam.
Saat membuka pintu, Logan tidak tahu mana yang lebih membuatnya terkejut. Sinar matahari pagi yang menyilaukan matanya, atau kakak perempuan yang melotot kesal padanya. "Hai!" Logan menggaruk perut dari bagian bawah kaosnya yang sedikit tersingkap.
Emilia memandangi adiknya, dari ujung rambut hingga kaki. Rambut Logan berantakan khas orang yang baru bangun tidur, dan dia mengenakan kaos serta celana hitam pendek. Emilia bersedekap dan menelengkan kepala. "Kau pikir, jam berapa ini? Aku yakin kau tidak akan bangun hingga tengah hari jika kami tidak datang ke sini."
"Kami sudah memanggil-manggilmu dari tadi. Tapi Paman tidak bangun-bangun!" Nathaniel, keponakan Logan yang berusia delapan tahun, tampak cemberut karena harus menunggu terlalu lama.
"Maaf, aku tidak mendengar kalian. Ada apa? Tidakkah ini terlalu pagi untuk berkunjung?"
Logan mengacak rambut Nathaniel, hingga bocah itu tidak lagi cemberut.
"Pagi kau bilang? Ini sudah siang!" Emilia membuka pintu bagasi mobilnya, tempat tumpukan kotak berwarna biru cerah berdiri berjajar.
"Apa itu kue? Siapa yang berulang tahun hingga kau membeli kue sebanyak itu?" Logan menatap kotak biru muda yang sudah sangat dikenalnya itu, yang berasal dari toko kue langganan ibu serta kakaknya.
"Tidak ada yang berulang tahun." Emilia memeriksa kotak-kotak kuenya, memastikan isinya tidak ada yang rusak atau hancur akibat guncangan. "Sekarang, cepat mandi dan bagikan kue-kue ini."
"Membagikannya? Kepada siapa?"
Wanita itu menghela napas. "Tentu saja ke para tetanggamu. Ayo, cepat!"
"Apa? Tapi, aku tidak mengenal tetanggaku."
"Tepat itulah tujuannya. Kau baru pindah ke lingkungan ini, dan kau perlu mengenal semua tetanggamu. Jadi, kau akan membagi-bagikan kue ini pada mereka."
"Aku? Kenapa harus aku? Semua ini kan idemu. Kenapa tidak kau bagikan saja sendiri?"
Emilia kembali memberikan pelototannya yang khas, sesuatu yang dilakukannya saat menurutnya Logan melakukan sesuatu yang sangat bodoh. "Yang akan tinggal di sini adalah kau, bukan aku. Jadi yang perlu berkenalan dengan tetanggamu adalah kau, bukan aku!"
"Memangnya itu perlu?" Logan membuka salah satu kotak untuk mengintip isinya. Enam buah cupcake berjajar rapi, dengan krim dan berbagai topping yang membuatnya menjilat bibir. "Aku lebih suka jika tidak mengganggu minggu pagi tetanggaku."
"Tetangga adalah orang pertama yang akan menolongmu saat kau kesusahan. Jadi, setidaknya kau perlu mengenal mereka." Emilia membenahi salah satu kotak yang sedikit miring. "Jadi, cepat mandi dan ganti bajumu." Wanita itu memukul tangan Logan yang hendak mencomot kue dari salah satu kotak. "Yang ini bukan milikmu!"
Logan buru-buru pergi, sebelum tendangan Emilia mendarat di bokongnya. Karena jika dia tidak menurut, wanita galak itu tidak akan segan-segan melakukannya. Dan dia tidak ingin memberikan tontonan yang menyenangkan pada keponakannya, yang kini tertawa-tawa saat melihat dirinya dimarahi.
Saat Logan selesai mandi, Emilia tengah menyusun kotak-kotak cupcake sambil menghitungnya. "Kau bisa bawa empat? Atau apakah ini terlalu berat untukmu?" Wanita itu bertanya pada putranya, yang terlihat bersemangat untuk membantu.
"Ya, aku bisa." Nathaniel mengangguk antusias.
"Hati-hati, jangan miringkan kotaknya agar kuenya tidak rusak." Emilia menyeimbangkan kotak-kotak kue di tangan putranya. "Oh, kau sudah selesai mandi? Baguslah. Kau bawa ini." Wanita itu menyerahkan setumpuk kotak ke tangan Logan, saat dilihatnya pria itu muncul dengan pakaian bersih dan rambut yang masih setengah basah dan sudah disisir rapi.
Emilia memberikan intruksi pada kedua laki-laki di hadapannya, soal kemana mereka harus pergi. Wanita itu memastikan agar Logan menyapa semua tetangganya, dan bersikap sopan pada mereka.