
"Aku harus berhenti memikirkannya!" Logan berjalan mondar-mandir, dengan cangkir kopi yang sudah dingin di tangannya. "Sialan! Dia istri orang. Bagaimana mungkin aku bisa tertarik pada wanita yang sudah menikah? Dan lagi, dia sudah memiliki anak."
Logan menyesap kopinya, hanya sekadar untuk meredakan ketegangannya. "Kurasa ini hanya karena kami pernah memiliki hubungan di masa lalu. Ya, benar begitu." Pria itu mencoba mencari pembenaran dari perasaannya yang salah ini.
"Aargh, berengsek! Kenapa dia harus sudah menikah? Dan memiliki anak?" Dengan frustrasi, Logan mengacak rambutnya yang sudah kusut masai. Dia teringat pada Maddie. Seandainya dia menikah dengan Ariane, apakah anak mereka juga akan secantik dan semanis gadis kecil itu?
Logan menggeleng keras-keras. "Apa yang kupikirkan? Apa aku sudah gila? Tentu saja anak kami akan jauh lebih menawan. Karena aku berani bertaruh, aku jauh lebih tampan dari suami Ariane." Kata-kata itu membuat Logan menampar pipinya sendiri. "Astaga! Aku ini bicara apa? Kenapa aku jadi makin melantur saja?"
Tapi ngomong-ngomong, seperti apa suami Ariane? Apakah dia tampan? Kaya? Kenapa tiba-tiba saja Logan menjadi penasaran? Ya, tentunya dia ingin tahu apakah pria itu lebih baik daripada dirinya. Logan bergegas menuju jendela dan menyingkap sedikit tirainya. Ini bukan kali pertama dia memata-matai rumah Ariane. Namun seharian ini, wanita itu maupun putrinya tidak tampak keluar rumah. Sepertinya, Ariane lebih suka menghabiskan hari minggunya dengan bersantai di rumah, pikir Logan.
Namun meski begitu, dia juga tidak melihat keberadaan orang lain di sana. Entah itu pengasuh, asisten rumah tangga atau anggota keluarga lainnya. Dan di garasinya yang terbuka, Logan hanya melihat satu buah mobil, jenis MPV berwarna putih.
"Apa suaminya tidak ada di rumah? Mungkinkah dia bekerja di luar kota?"
Karena butuh memuaskan rasa penasarannya, Logan mengambil ponsel dan mencari nama Ariane di media sosialnya. Yang dengan mudah dia temukan, mengingat mereka memiliki lingkaran pertemanan yang sama.