
Suara mesin pemotong rumput berdengung memecah kesunyian pagi. Logan tidak tahu mengapa dia harus repot-repot bangun pagi, di saat dia bisa bangun sesuka hatinya? Ah, ya. Dia harus memotong rumput-rumput ini, sebelum seekor ular atau binatang apa pun memutuskan untuk bersarang di sana.
Semua orang memiliki taman yang terawat. Jadi aku juga harus melakukan hal yang sama pada halaman rumahku. Itu adalah alasan yang Logan katakan pada dirinya sendiri, saat dia mengeluarkan mesin pemotong rumput yang dipinjamnya dari sang kakak.
Karena sejak mesin itu dinyalakan, entah sudah berapa kali Logan melirik rumah Ariane. Yang masih sunyi senyap, dengan pintu depan tertutup rapat. Dia masih penasaran, bedebah beruntung macam apa yang wanita itu nikahi. Atau, yah... Sebenarnya yang ingin dilihatnya adalah Ariane. Meski tentu saja Logan enggan mengakui itu, bahkan pada dirinya sendiri.
Logan sudah memotong lebih dari separuh rumput di halaman rumahnya, saat harapannya terkabul. Pintu garasi Ariane tiba-tiba saja terbuka, menampakkan wanita itu yang berdiri di samping mobil berjenis MPV berwarna putih dengan Maddie di sisinya.
Penampilan Ariane yang rapi dan cantik membuat napas Logan tercekat. Ternyata, apa yang kemarin dilihatnya bukanlah apa-apa. Karena kini Logan tampak seperti bocah linglung, dengan mata yang tidak bisa lepas dari Ariane.
Blouse putih yang dipadukan dengan rok selutut berwarna krem itu tampak melekat sempurna di tubuh Ariane. Pakaian itu tampak sederhana sekaligus modis di saat bersamaan. Dan ditambah dengan sepatu berhak tinggi yang dikenakan wanita itu, sungguh membuat penampilannya teramat sempurna.
"Hai, selamat pagi!"
Logan mematikan mesin pemotong rumputnya dan melambai. "Selamat pagi! Kau mau berangkat bekerja?"
"Ya. Sepertinya kau sangat sibuk. Aku bisa mendengar suara mesin pemotong rumputmu sejak pagi-pagi sekali."
Logan menyeberang ke halaman rumah Ariane dan langsung menyesali perbuatannya. Karena dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma harum parfum wanita itu. Dan itu adalah sebuah kesalahan. Karena dia harus menjauhi Ariane, dan berhenti memikirkan wanita itu.
Dengan membungkukkan tubuh untuk menyamakan ketinggian, Logan menyapa Maddie. "Halo, Maddie."
"Hai, Logan!" Gadis kecil itu membalas sapaan Logan dengan malu-malu.
"Kau mau ke mana dengan seragam serta ransel ini?" Logan menunjuk ransel pink kecil di punggung Maddie, serta seragamnya yang terdiri dari rok terusan biru kotak-kotak serta kemeja putih.
"Aku mau sekolah."
"Sekolah? Anak sekecil dirimu sudah sekolah?" Logan tertawa dengan pertanyaannya sendiri. "Kalau begitu, belajarlah yang rajin."
Ariane mengelus rambut Maddie. "Ayo, Sayang. Naiklah ke mobil."
Logan terkejut saat melihat Maddie merangkak naik ke dalam mobil tanpa kesulitan, meski tidak ada yang membantunya. Padahal ketika seumuran itu, keponakannya masihlah harus dibantu dan diarahkan agar tidak membuat dirinya sendiri terjengkang.
"Apa kau nyaman dengan rumah barumu?"