The Ex Next Door

Sofia Nouva
Chapter #4

4 - Undangan Makan Malam




Sekarang setelah tahu bahwa dirinya tidak tertarik pada istri orang, Logan tidak lagi diliputi perasaan bersalah. Dia adalah pria lajang, dan Ariane tidak memiliki pasangan. Meski sekarang Logan bertanya-tanya, apakah wanita itu memiliki kekasih?


Jangan-jangan, pria yang kemarin itu kekasihnya. Batin Logan geram, saat teringat keakraban pria itu dengan Maddie dan juga Ariane. Siapa namanya? Ah, ya. Richard. Dari namanya saja sudah terdengar menyebalkan bagi Logan. Dan sekarang, dia mulai membenci pria itu.


"Kalau kau begitu ingin tahu, mengapa tidak kau tanyakan langsung saja padanya?" Logan berbicara pada dirinya sendiri. "Berhentilah berperilaku seperti pecundang dan datangi rumahnya!"


Ariane sudah pulang, Logan tahu itu. Dan Richard sialan itu tidak ada di rumah Ariane saat ini. Jadi, Logan mengambil gulungan selang yang sejak awal hanya teronggok tidak berguna di garasi rumahnya, dan menyeberang ke rumah Ariane. Dia bertanya-tanya, sedang apa wanita itu?


Saat Logan mengetuk pintu, lagi-lagi Maddie yang membukakan pintu untuknya. Sekarang, gadis itu tidak lagi bersikap malu-malu padanya. Maddie bahkan tersenyum lebar. "Halo, Maddie."


"Logan!"


"Oh, aku senang kau mengingat namaku. Di mana ibumu?"


"Mommy? Mommy di dapul." Maddie menunjuk ke bagian belakang rumah, tempat aroma enak yang Logan cium sejak di halaman depan berasal. 


"Logan, kaukah itu?" Ariane berteriak dari dapur, setelah dia mendengar putrinya menyebut nama Logan.


"Ya, ini aku! Aku datang mengembalikan selang air." Logan tahu, tidak sopan masuk ke rumah orang tanpa diundang. Tapi, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melihat Ariane.


"Oh, letakkan saja di depan." Ariane tampak sibuk di depan kompor, dengan kedua tungku yang menyala. 


"Ya, sudah kukembalikan ke tempatnya semula, karena garasimu terbuka. Terima kasih." Logan mengamati rambut Ariane yang diikat asal-asalan, serta wajahnya yang bersimbah peluh. Juga celemek pink berenda bermotif bunga-bunga yang Ariane kenakan di atas pakaian santainya, yang entah mengapa justru membuat Logan makin tertarik pada wanita itu.


Ini bukanlah penampilan terbaik Ariane. Wanita itu terlihat begitu apa adanya, bahkan cenderung berantakan. Namun, Ariane memancarkan perasaan teduh dan damai, yang tidak pernah Logan rasakan dari sosok wanita lain, kecuali ibunya.


"Sudah kubilang, kau tidak perlu terburu-buru mengembalikannya."


"Aku sudah tidak membutuhkannya sekarang. Dan kurasa, aku akan membelinya sendiri nanti." Aroma masakan Ariane sangat enak, tetapi Logan sadar dia tidak memiliki alasan untuk tetap tinggal, kecuali jika wanita itu mengundangnya makan malam.


"Kau sudah makan malam?" Ariane bertanya, dan wajah Logan seketika berubah cerah.


"Aku baru saja akan memesan sesuatu." Logan beralasan, hanya agar dirinya tidak terlihat sangat berharap.


"Makanlah di sini saja. Kebetulan, hari ini aku masak lumayan banyak. Tapi aku tidak tahu apakah kau suka semur daging."


"Yah, baiklah jika kau memaksa. Dan aku suka semur daging." Logan mencoba menahan seringainya, dalam hati berseru kegirangan. Dia benar-benar datang di waktu yang tepat. Bukankah ini suatu keberuntungan? "Apa yang bisa kubantu?"


"Tidak ada. Aku sudah selesai." Ariane mematikan kompor, dan mulai mengambil piring dari rak.


"Biar aku saja!" Logan mengambil alih piring dari tangan Ariane, dan menatanya di sebuah meja makan kecil yang terbuat dari kayu pinus. Ada empat buah kursi yang mengelilingi meja tersebut, dan salah satunya adalah kursi balita tinggi, yang pastilah milik Maddie.


Melihat Logan di rumahnya, membuat Maddie mulai merasa nyaman dengan keberadaan pria itu. Mulanya Maddie hanya berdiri mengamati Logan, sebelum pergi ke ruangan lain. Sesaat kemudian gadis itu kembali, dengan membawa sebuah kotak yang penuh dengan Lego. 


"Logan, ayo kita belmain." 

Lihat selengkapnya