
Pertemuannya dengan Logan setelah sekian lama adalah sesuatu hal yang tidak pernah Ariane duga. Setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu, dia benar-benar tidak pernah menduga bahwa mereka akan menjadi tetangga.
Selama hidupnya, Ariane sempat memiliki beberapa orang kekasih. Dan selain suaminya, Logan adalah seseorang yang meninggalkan kesan mendalam, mengingat pria itu adalah cinta pertamanya.
Sebagai remaja berusia empat belas tahun, tidak banyak hal menarik yang bisa mereka lakukan. Mereka berkencan di mall, menonton film di bioskop, atau sekadar berjalan-jalan di taman, dengan sebungkus snack yang mereka bagi bersama. Ariane bahkan lupa alasan mereka berpisah.
Ah, ya. Logan meneruskan SMAnya di luar kota, di tempat sang paman mengajar, sehingga mereka memutuskan untuk berpisah karena jarak yang membentang di antara mereka. Jadi setelah hari kelulusan, mereka tidak pernah bertemu lagi. Ariane hanya sesekali mendengar kabar Logan dari teman-teman mereka, yang kebetulan bertemu atau berkomunikasi dengan pria itu.
Namun setelah sekian lama, setelah dipisahkan oleh jarak dan waktu, di sinilah Logan berada. Di ruang bersantai rumahnya, tengah bermain dengan putrinya. Dan pemandangan itu membuat hati Ariane campur aduk. Terutama, saat Logan dan Maddie tertawa seolah keduanya sudah lama saling mengenal.
Ariane terlalu larut dalam pemandangan yang menghangatkan hati tersebut, sampai deringan ponsel membuat wanita itu terlonjak. "Mommy, ada telepon!" Maddie menunjuk ponsel yang berada di atas meja, yang berada tidak jauh dari sana.
Ariane merasa malu karena kedapatan mengamati Maddie dan Logan secara diam-diam. Jadi wanita itu buru-buru menyambar ponselnya, sebelum masuk ke kamar untuk mendapatkan privasi. Richard yang menelepon, memberitahunya mengenai meeting online yang harus mereka lakukan sekarang, karena ada masalah yang tidak dapat ditunda dan menunggu besok.
"Aku minta maaf, ada meeting online yang harus kuhadiri. Aku tidak bisa menemani kalian."
"Pergilah, lakukan pekerjaanmu." Logan meyakinkan Ariane. "Aku dan Maddie akan baik-baik saja di sini. Benar begitu kan, Maddie?"
"Ya!" Maddie menjawab penuh semangat.
"Kau tidak punya kewajiban untuk mengasuh Maddie. Aku tidak ingin dia menahanmu di sini." Ariane kembali meyakinkan Logan.
"Hei, aku dan Maddie sudah menjadi teman. Kami senang bermain bersama. Pergilah!" Logan mengibaskan tangan, meminta Ariane pergi. Wanita itu meminta maaf sekali lagi sebelum masuk ke kamarnya, dan Logan memastikan pitu kamar itu tertutup sebelum dia bertanya lagi pada Maddie.
"Jadi, siapa Richard?" Logan berharap, Ariane tidak mendengar pertanyaannya yang sebelumnya. Karena dia tidak tahu, kapan tepatnya wanita itu masuk ke dalam ruangan.
"Dia pamanku." Maddie menjawab dengan binar cinta di matanya. "Paman Lichad sangat baik. Dia suka membelikanku mainan dan es klim. Dia juga seling mengajakku pelgi jalan-jalan."
Logan mencoba mengingat-ingat. Dan seingatnya, Ariane tidak memiliki saudara kandung. Dia adalah anak tunggal. Jadi Logan penasaran, apakah Richard ini adalah sepupu Ariane?
"Dia suka memberi apa lagi?"
"Dia suka membeli Mommy bunga."
Informasi terakhir ini membuat Logan geram. "Bunga?" Dari ini saja, dia sangat yakin Richard bukanlah sepupu Ariane. Karena laki-laki mana yang suka memberi sepupunya bunga? Dan pria ini, siapa pun dia, pastilah memiliki perasaan pada Ariane, jika dilihat dari upayanya mengambil hati wanita itu dan putrinya.
"Jadi, kau suka es krim?"
"Ya, es klim vanilla." Maddie mengangguk mantap. "Aku suka sekali es klim."
Logan tersenyum lebar. "Ayo, kapan-kapan kita beli es krim. Kau mau makan apa lagi?"
"Emm, kue cokelat. Dan cupcake."