Wajah muram Maya sangat tidak cocok dengan kemeriahan pesta ulang tahun ini. Setidaknya, begitulah yang dikatakan Gina—sahabatnya. Maya tidak terlalu suka berada di bar seperti ini. Selain karena ia tidak minum alkohol, ia juga tidak suka berada di tengah-tengah orang mabuk.
“Lo mau ke party apa kerja kelompok?” cibir Gina sambil tertawa. Lelucon itu sudah dilontarkan beberapa kali oleh teman-temannya hari ini. Penyebabnya adalah Maya salah kostum. Ia mengenakan kemeja flannel dan celana jeans sederhana ke pesta ini. Sedangkan gadis-gadis lainnya memakai gaun dan terusan yang cantik. Hal itu juga yang membuat Maya cemberut sedari tadi.
“Ya, mana gue tahu! Gue kan gak pernah ke party–”
Belum sempat Maya menyelesaikan kata-katanya, seorang pria menarik Gina ke depan stage. Maya menghela napas panjang, kesal. Dia ingin sekali pergi dari tempat ini.
Ia melirik ke arah Gina yang sedang asyik berfoto bersama pacarnya. Maya sudah tidak peduli. Lagipula, tidak mungkin juga Gina pergi duluan dari pesta bersama Maya. Ini kan acara ulang tahun pacarnya Gina.
Akhirnya Maya berjalan menghampiri Andreas yang sedang duduk sendirian di bar. Di depannya ada segelas minuman berwarna kecoklatan, yang Maya sendiri pun tidak tahu namanya.
“Ndre, pulang yuk!” ajak Maya.
Andreas menatap Maya beberapa detik sebelum menjawab. “Baru juga segelas,” protesnya.
Maya mendengus kesal. Ada sedikit penyesalan kenapa ia memilih untuk datang bersama Andreas. Pria ini dikenal sebagai The Party Man—alias manusia yang paling rajin berpesta. Tapi mau bagaimana lagi, Maya hanya kenal dekat dengan Andreas. Karena mereka sama-sama pernah belajar di klub bahasa saat Maya masih sekolah. Teman-temannya yang lain datang dengan pasangannya. Jadi, terpaksa Maya datang dengan Andreas.
Awalnya juga Maya tidak ingin datang ke pesta ini. Ia datang karena tidak enak pada Gina. Lagipula ia berharap Evan juga datang. Ia ingin sekali bertemu dengan Evan. Mereka memang belum sempat bicara lagi setelah putus sebulan yang lalu.
Maya dan Evan sudah berpacaran selama dua tahun. Dan mereka selalu putus-nyambung, meski kali ini agak berbeda. Mereka baru ‘betulan’ putus sekarang. Karena biasanya, tidak sampai dua hari mereka akan balikan lagi.
“Gue naik ojek aja, ah!” Maya mengeluarkan ponselnya dan berniat memesan ojek online. Ia juga sama sekali tidak menikmati pesta ini. Lihat saja, sedari tadi ia hanya bisa minum segelas kola.
“Kalo lo diculik, jangan telepon gue ya,” kata Andreas. Ia lalu meneguk minumannya lagi. Sepertinya dia sudah mulai mabuk.
Belum sempat Maya menjawab, perhatiannya tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam bar. Seorang pria dengan kaus warna putih cerah dan celana pendek warna coklat terang. Wajahnya tampan—seperti biasanya. Ia tersenyum dan menyapa orang-orang.