Dalam mimpinya, Nara berdiri di tengah jalan sunyi, diapit barisan pohon sakura yang bermekaran. Suasana begitu damai, seolah waktu ikut membeku. Kelopak merah muda jatuh perlahan, menari di udara, tersapu oleh angin yang mengembuskan wangi samar bunga dan aroma hujan yang belum sempat turun.
Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon, menyelubungi dunia seperti tirai sutra. Tidak ada matahari. Tidak ada bulan. Namun, cahaya lembut memancar entah dari mana, cukup untuk memperlihatkan siluet seorang pria yang berdiri diam di antara kabut, jauh di depannya.
Tinggi. Tegap. Dan asing.
Ia tidak berbicara. Tidak bergerak. Hanya berdiri dan menatap Nara seakan telah menunggu sejak lama. Dan meski wajahnya nyaris tak terlihat, Nara tahu bahwa pria itu tersenyum.
Ia tak tahu dari mana keyakinan itu muncul, tapi senyum itu anehnya terasa familiar. Seolah sosok itu pernah hidup dalam kepingan ingatannya yang hilang.
Saat Nara mencoba melangkah maju, kabut mulai menebal. Lalu, kabut itu menyelimuti semuanya. Ia terjatuh. Tubuhnya terasa ringan… melayang… luruh…
Nara terbangun dengan napas tersengal. Dadanya naik turun cepat, seolah jantungnya baru saja kembali dari pertempuran panjang.
Kamar kecilnya masih gelap. Hanya lampu tidur yang menyala redup di sisi ranjang. Di luar, terdengar suara ayahnya sedang menyeduh kopi seperti biasa, dan ibunya bersenandung kecil di dapur. Semuanya masih seperti kemarin. Utuh. Nyaman.
Namun, mimpi itu menempel seperti jejak embun di kulit. Dingin, dalam, dan entah kenapa… terasa sangat nyata.
Hari itu, hidup Nara berjalan biasa saja. Ia pulang sekolah, menyalami kedua orang tuanya, dan tertawa kecil saat adiknya mencoret-coret buku gambarnya dengan pensil warna.
Tapi menjelang malam, langit berubah.
Awan menggumpal perlahan. Angin bertiup membawa aroma yang menyentak kenangan aroma dari mimpinya. Bunga liar dan hujan.
Ia membuka jendela kamarnya. Langit tampak seperti terbelah. Dan tiba-tiba, waktu berhenti.
Sesuatu menariknya. Bukan tangan, bukan suara. Tapi sebuah kekuatan sunyi yang tak terlihat. Dunia berputar, lalu memudar… menjadi gelap… menjadi terang… lalu hening.
Saat Nara membuka matanya, ia bukan lagi di kamarnya.
Tak ada rak buku, tak ada suara ibunya memanggil dari dapur.
Nara berbaring diam sejenak, membiarkan kesadarannya berusaha menghubungkan mimpi dan kenyataan. Tapi segalanya terasa terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur. Ia perlahan duduk, membiarkan jemarinya menyentuh kain seprai halus bersulam benang emas di bawahnya.
Ia turun dari tempat tidur, menapaki lantai dingin dengan hati-hati. Di sudut ruangan, sebuah cermin besar berdiri, berbingkai ukiran burung dan bunga yang tidak ia kenali. Ia mendekat, menatap pantulan dirinya sendiri.
Ini masih dirinya, dengan wajah yang sama. Tapi…
Ada apa dengan pakaianku? Tempat apa ini? Dan di mana aku? batinnya bingung.
Ia mengenakan hanfu lembut berwarna merah muda pucat. Rambutnya disanggul setengah, dihiasi jepit giok.
Dari jendela, langit tampak jernih. Cahaya pagi mulai merambat naik ke pepohonan, menelusuri atap-atap batu bangunan bergaya kuno, dan memantul di permukaan kolam kecil yang dipenuhi bunga teratai.
Ia mendorong pintu perlahan. Halaman kediaman itu luas dan terawat rapi. Tanahnya berlapis batu putih bersih, dan bunga plum bermekaran di sudut-sudut taman. Di kejauhan, beberapa pelayan lewat sambil membawa nampan perak dan teko teh, melangkah dengan tenang seolah kehadiran Nara adalah bagian dari rutinitas mereka.
Nara berdiri diam, membiarkan mata dan hatinya menyerap semua keanehan ini.
Sinar mentari pagi berganti menjadi siang. Awan tipis melintas, dan langit berubah menjadi kanvas biru cerah yang menghampar luas. Di sudut taman, suara denting lonceng bambu terdengar pelan saat angin menyapa. Seekor burung kecil melintas, bersiul nyaring dari dahan ke dahan.
Waktu berjalan lambat. Nara tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya berjalan perlahan di antara lorong dan taman, menghindari pandangan siapa pun. Setiap sudut bangunan seperti menyimpan cerita yang belum ia ketahui. Setiap aroma dan suara membawa memori yang bukan miliknya.
Menjelang sore, langit mulai keemasan.
Cahaya matahari menyelinap masuk lebih hangat dan lembut, membentuk siluet panjang di lantai taman. Saat itulah, dari arah gerbang batu, seorang pria berdiri dengan postur tegas. Jubah perang hitam pekat berlapis benang emas di ujung lengan dan kerah membungkus tubuhnya, sabuk kulit bersulam lambang naga perak mengikat pinggangnya. Di sisi kanannya tergantung pedang panjang berhulu giok.
“Lian Rou!” teriak pemuda itu, membuat Nara terlonjak kaget.
Lian Rou? Siapa itu?
Pria itu bergegas mendekat dengan langkah lebar. “Apa yang kau lakukan, hah? Kenapa kau keluar? Bukankah aku sudah memintamu tetap berada di rumah sebelum festival dimulai?” cecarnya dengan nada marah, membuat bayangan Nara tentang pria berwajah damai dalam mimpinya hilang seketika.