Pagi itu, udara di Kediaman Lian terasa lebih menggigit dari biasanya. Kabut tipis masih merayap di atas permukaan kolam teratai, namun Lian Zhaoyang sudah berada di tengah halaman pelataran batu. Ia tidak mengenakan jubah kebesarannya, hanya pakaian latihan berbahan katun ringan yang kini telah basah kuyup oleh keringat.
Trang! Wuush!
Bilah pedangnya membelah udara pagi, menciptakan lengkingan tajam yang memekakkan telinga. Gerakannya cepat, ganas, dan penuh amarah yang tertahan. Mengurung Lian Rou di kamar lagi hari ini bukanlah keinginannya, tapi melihat adiknya pulang semalam dengan wajah pucat pasi dan tatapan kosong membuatnya nyaris gila karena khawatir. Gadis itu menolak bicara sepatah kata pun semalaman.
Apa yang sebenarnya terjadi padamu di festival semalam, Lian Rou? batin Zhaoyang sambil menghujamkan pedangnya ke dada boneka jerami hingga tembus. Napasnya memburu.
"Tuan Muda!"
Sebuah suara memecah konsentrasinya. Zhaoyang menarik pedangnya dengan satu sentakan kasar, menoleh dan mendapati Wei Liang berlari melintasi pelataran.
"Ada apa, Liang? Apakah Lian Rou memberontak lagi?" tanya Zhaoyang dingin, mengusap peluh di dahinya dengan punggung lengan.
Wei Liang menunduk hormat, napasnya terengah. "Bukan, Tuan Muda. Meiyun... Meiyun baru saja berhasil membujuk Nona untuk bercerita tentang apa yang terjadi semalam."
Zhaoyang langsung memasukkan pedangnya ke sarung dengan bunyi berderak keras. Matanya menajam. "Katakan."
"Nona... Nona diserang, Tuan Muda," ucap Liang dengan suara gemetar, menundukkan kepalanya lebih dalam, takut melihat amarah tuannya. "Saat Nona terpisah dari kami dan masuk ke hutan pinggiran desa, sekelompok pasukan bayangan berpakaian hitam mengepungnya. Mereka membawa pedang sungguhan dan berniat membunuhnya."
Udara di sekitar Zhaoyang seolah membeku seketika. "Pasukan bayangan? Di dalam wilayah ibu kota?!"
"Benar, Tuan. Namun Nona berhasil selamat karena... karena seseorang muncul."
"Siapa?" tuntut Zhaoyang, mencengkeram kerah seragam Liang.
"Nona tidak tahu, Tuan Muda. Nona bilang, pria itu mengenakan topeng putih gading dengan garis merah seperti retakan. Pria bertopeng itu membantai semua pasukan bayangan tersebut sendirian, lalu menghilang begitu saja ke dalam gelap tanpa menyebutkan nama."
Zhaoyang melepaskan cengkeramannya, melangkah mundur dengan pikiran berkecamuk. Pasukan bayangan? Pria bertopeng misterius? Tangannya mengepal erat. Ini bukan lagi sekadar insiden adiknya yang nakal menyelinap keluar. Ini adalah ancaman yang terencana. Ada yang mengincar nyawa sisa keluarganya.
Belum sempat Zhaoyang memproses informasi itu, seorang prajurit penjaga gerbang berlari tergesa-gesa menghampiri mereka, membawa sebuah gulungan sutra kuning berhias sulaman naga.
"Lapor, Jenderal Muda!" seru prajurit itu seraya berlutut. "Utusan dari Istana Dalam baru saja tiba. Yang Mulia Raja memanggil Anda. Beliau menunggu di Ruang Baca Pribadi. Pertemuan tertutup."
Zhaoyang menatap gulungan sutra itu seolah benda itu adalah ular berbisa. Rahangnya mengeras. Pertemuan tertutup di Ruang Baca Pribadi berarti Raja tidak ingin menteri lain tahu. Apakah Raja sudah mendengar insiden semalam?
"Siapkan kudaku," perintah Zhaoyang datar, mengambil gulungan itu. "Dan Liang... lipat gandakan penjagaan di sayap barat kediaman. Jangan biarkan satu ekor lalat pun masuk ke kamar Lian Rou. Jika terjadi sesuatu padanya saat aku pergi, nyawamu taruhannya."
"Hamba mengerti, Tuan Muda!" tegas Wei Liang.