Sinar matahari siang menembus celah ukiran jendela, melukis garis-garis cahaya di atas lantai kayu kamar. Namun, kehangatan itu tak sedikit pun mampu mengusir udara dingin yang bersarang di dada Nara.
Sudah setengah hari ia mondar-mandir di dalam kamar seperti harimau di dalam sangkar. Sesekali ia mengetuk daun pintu, berharap ada pelayan yang lewat, namun yang terdengar hanyalah keheningan yang mencekam.
Sampai kapan aku akan dikurung di sini? batin Nara frustrasi. Ia mengusap wajahnya kasar. Jika aku terus diam, aku tidak akan pernah tahu cara kembali ke duniaku. Aku bahkan tidak tahu siapa yang ingin membunuh tubuh ini.
Suara kunci yang diputar dari luar membuat Nara terlonjak mundur. Pintu terbuka pelan, menampilkan sosok Meiyun yang membawa nampan berisi makan siang. Di belakang dayang itu, Wei Liang berdiri tegak dengan tangan bertumpu pada gagang pedang, matanya menyapu seluruh sudut kamar dengan waspada sebelum mengangguk dan menutup pintu kembali dari luar.
Nara menatap Meiyun lekat-lekat. Gadis dayang itu meletakkan nampan di atas meja dengan gerakan kaku, wajahnya sedikit pucat.
"Meiyun, apa yang sebenarnya terjadi di luar?" tanya Nara bingung
Meiyun menelan ludah. "Tuan Muda Zhaoyang baru saja kembali dari istana, Nona. Kediaman kita sekarang dijaga ketat oleh prajurit lapis kedua. Tuan Muda memerintahkan agar tidak ada satu pun orang yang boleh mendekati sayap barat ini selain saya dan Liang."
Nara mengerutkan kening. Mengingat kengerian di hutan semalam, penjagaan ketat ini memang masuk akal. Namun, ada satu hal yang terus mengganjal di pikirannya sejak ia terbangun.
"Meiyun," Nara mendekat, merendahkan suaranya. "Pria bertopeng yang menolongku semalam... apakah kau tahu siapa dia?"
Meiyun menggeleng cepat, matanya memancarkan ketakutan. "T-tidak, Nona. Kami tidak melihat pria bertopeng mana pun. Tuan Muda Zhaoyang juga melarang kami membicarakan insiden semalam kepada siapa pun."
Nara mengembuskan napas panjang. Jadi pria itu benar-benar menghilang seperti hantu. Tapi dia nyata. Aku melihat darah di pedangnya.
Nara berbalik menuju sudut ruangan tempat tumpukan pakaian kotor yang ia kenakan semalam diletakkan pakaian yang terkena noda lumpur dan debu saat ia berjongkok ketakutan di balik pohon. Ia bermaksud memberikannya pada Meiyun untuk dicuci.
Namun, saat ia mengangkat jubah luar sutra itu, tangannya merasakan sesuatu yang keras di dasar saku bagian dalam. Saku yang tersembunyi di balik lapisan kain.
Nara merogohnya. Sebuah benda kecil yang dingin jatuh ke telapak tangannya.
Nara menahan napas. Itu adalah sebuah liontin giok yang sangat unik. Warnanya biru keunguan, memantulkan cahaya matahari dengan pendar yang memukau. Bentuknya berupa ukiran kepala serigala kecil yang dililit oleh seekor ular. Alih-alih terlihat mengerikan atau buas, ukiran itu justru terlihat luar biasa cantik, elegan, dan seolah memancarkan aura magis.
"Meiyun..." panggil Nara, mengangkat liontin itu agar terkena cahaya. "Apakah kau tahu ini milik siapa? Apa ini milikku?"
Meiyun meletakkan cangkir teh di atas meja dan mendekat. Dahinya berkerut dalam saat menatap benda di tangan Nona Mudanya. Ia menggeleng perlahan.