The Fate Interwoven in Time: A Whisper of the Lost Hour

Aurelyn
Chapter #5

Aroma Cendana dan Rahasia

Angin malam kembali berhembus, menerbangkan tirai ranjang dan membuyarkan lamunan Nara. Gadis itu masih berdiri mematung di tengah kamar, matanya terpaku pada bingkai jendela yang kosong.

Sosok pria berjubah biru gelap itu benar-benar lenyap ditelan kegelapan, seolah ia tak pernah menginjakkan kaki di lantai kayu ini. Namun, detak jantung Nara yang masih bergemuruh liar dan sisa kehangatan dari tangan besar yang sempat membekap mulutnya adalah bukti bahwa Shen Jingyuan sungguh ada di sana beberapa detik yang lalu.

Dia tahu soal percakapanku dengan Meiyun dan Liang kemarin malam. Apa dia tidak benar-benar pergi saat itu? Apa dia mengikutiku? Tapi... untuk apa? batin Nara.

Tangannya yang sejak tadi memainkan liontin itu mendadak berhenti karena ketakutan saat memikirkan berbagai kemungkinan buruk.

Asalkan dia tidak memakan manusia, dan aku tidak punya masalah dengannya, sepertinya semua akan baik-baik saja, batin Nara, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Ia menunduk, menatap ukiran giok serigala dan ular yang memancarkan pendar biru keunguan di telapak tangannya.

Liontin ini... kenapa terlihat tidak asing? Apa ini milikku? ...Tapi sepertinya tidak. Sejak kapan aku punya koleksi liontin? batin Nara bingung. Ia membolak-balik liontin itu dengan saksama. Hah, entahlah. Aku hanya perlu mencari jalan keluar dari sini, dan kembali ke tempat asalku. Ya, aku harus cari cara, aku tidak boleh mati di sini.

Nara tersentak dari pikirannya saat mendengar derap langkah kaki yang berat dari lorong luar, disusul suara Wei Liang yang memberi hormat.

"Tuan Muda!"

"Buka pintunya," suara bariton Zhaoyang terdengar, dingin dan memerintah.

Kepanikan menyergap Nara. Ia berlari kecil ke arah ranjang, menyembunyikan liontin giok itu di bawah bantal tebalnya tepat saat kunci berputar dan pintu berderit terbuka.

Lian Zhaoyang melangkah masuk. Pria itu masih mengenakan pakaian latihan yang dilapisi jubah luar, menandakan ia baru saja kembali dari barak militer. Wajahnya tampak lelah, namun matanya setajam elang.

Begitu kakinya melewati ambang pintu, langkah Zhaoyang terhenti. Alisnya bertaut tajam. Tatapannya langsung menyapu seluruh penjuru kamar sebelum akhirnya terkunci pada daun jendela yang terbuka lebar.

Nara menelan ludah, berusaha mengatur napasnya agar tampak senatural mungkin.

"Siapa yang membuka jendela itu?" tanya Zhaoyang rendah, suaranya memancarkan bahaya.

"A-aku," jawab Nara cepat, melangkah maju. "Kamar ini sangat pengap. Aku hanya ingin mencari udara segar."

Zhaoyang berjalan melewati Nara tanpa mengatakan apa pun. Ia berdiri di depan jendela, menatap ke arah pekarangan gelap di bawah sana. Tangan kanannya bertumpu santai di gagang pedangnya, sebuah gestur kebiasaan yang tak pernah lepas dari jenderal muda itu.

Lalu, Zhaoyang memejamkan mata dan menarik napas panjang.

Jantung Nara seolah berhenti berdetak. Aroma cendana. Apakah aroma pria itu masih tertinggal di udara? batinnya panik.

Lihat selengkapnya