The Flower That Tells Lies

Ryana Dea Aprilia
Chapter #1

Nahan Pipis Pas Mau Interview

Riana duduk di kursi ruang tunggu sambil menggoyangkan kaki pelan.

Tangannya menggenggam map berisi berkas lamaran kerja yang sudah diperiksa berkali-kali sejak pagi. Padahal tidak ada yang salah. Semua dokumen lengkap. Fotokopi KTP ada. CV ada. Surat pengalaman kerja juga ada.

Tetapi tetap saja ia gugup.

Di depannya, beberapa pelamar lain tampak sibuk memainkan ponsel. Ada yang menghafal jawaban wawancara. Ada yang sesekali menghela napas panjang.

Riana melirik jam dinding.

Pukul 09.18.

Namanya belum dipanggil.

"Tenang, Riana. Ini cuma wawancara kerja," gumamnya pelan.

Namun masalahnya bukan wawancara.

Masalahnya adalah...

Ia kebelet pipis.

Sangat kebelet.

Sejak berangkat dari rumah tadi pagi, ia terlalu fokus memastikan semua berkas lengkap sampai lupa ke toilet.

Awalnya masih bisa ditahan.

Sekarang?

Tidak lagi.

Riana segera berdiri lalu menghampiri seorang satpam yang berjaga di dekat lobi.

"Pak, numpang tanya. Toiletnya di mana ya?"

"Oh, toilet perempuan ada di lantai dua, Bu."

"Lantai dua?"

"Iya."

Riana menoleh ke arah tangga.

Lumayan juga.

Kalau naik tangga sebenarnya tidak masalah.

Tapi saat itu ia benar-benar malas.

Matanya lalu tertuju ke elevator di ujung koridor.

"Nah, itu lebih cepat."

Ia pun berjalan menuju elevator.

Saat pintu terbuka, cukup banyak orang yang masuk.

Riana ikut masuk.

Di dalam elevator sudah cukup sesak.

Di sampingnya berdiri seorang wanita sekitar empat puluh tahunan.

Wanita itu mengenakan jaket kasual dan celana jeans yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usianya.

Kalau tidak diperhatikan baik-baik, mungkin orang akan mengira usianya masih awal tiga puluhan.

Riana tersenyum sopan.

Wanita itu membalas senyum kecil.

Tak lama kemudian...

Biiip!

Elevator mengeluarkan bunyi peringatan.

Semua orang langsung saling berpandangan.

Tanda bahwa kapasitas elevator sudah melebihi batas.

Beberapa orang harus keluar.

Namun tidak ada yang bergerak.

Biiip!

Bunyi itu terdengar lagi.

"Kayaknya harus ada yang turun dulu," kata seseorang.

Tetap tidak ada yang mau mengalah.

Saat itulah tiba-tiba terjadi sesuatu.

Dari belakang kerumunan, seseorang mendorong cukup keras.

"Eh!"

Wanita empat puluh tahunan yang berdiri di samping Riana kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya terdorong ke depan.

Bruk!

Ia jatuh tepat di dekat pintu elevator yang terbuka.

"Aduh!"

Riana langsung kaget.

Beberapa orang hanya melirik sekilas.

Ada yang bahkan pura-pura tidak melihat.

Sementara wanita yang tadi mendorong sudah berpindah posisi seolah tidak terjadi apa-apa.

Riana mengernyit.

Ia tidak suka melihat orang diperlakukan seperti itu.

Tanpa berpikir panjang, ia segera keluar dari elevator.

"Ibu, nggak apa-apa?"

Wanita itu meringis sambil memegang lutut.

"Kayaknya cuma kaget."

Riana membantu wanita itu berdiri.

Pelan-pelan.

"Pelan ya, Bu."

"Terima kasih."

"Sakit nggak?"

"Nggak terlalu. Cuma kesel aja."

Riana tersenyum kecil.

"Saya juga lihat tadi."

Wanita itu mendengus.

"Anak muda sekarang ya. Kalau mau masuk elevator nggak harus dorong orang juga."

Riana tertawa kecil.

Wanita itu akhirnya bisa berdiri dengan normal.

"Terima kasih ya."

"Sama-sama, Bu."

Saat itulah...

Pintu elevator perlahan mulai menutup.

Riana menoleh.

"Eh..."

Terlambat.

Pintu sudah tertutup rapat.

Elevator bergerak naik.

Riana membelalakkan mata.

"Lho?"

Ia baru sadar.

Tas dan map lamarannya masih ada di dalam elevator.

"Ya ampun..."

Untungnya seseorang di dalam sempat menekan tombol darurat.

Beberapa detik kemudian elevator berhenti.

Pintu kembali terbuka.

Seorang pria muda menyerahkan map miliknya.

"Ini punya Mbak?"

"Iya!"

Riana langsung mengambilnya.

"Terima kasih banyak."

"Untung saya lihat."

Riana mengangguk berkali-kali.

Setelah memastikan semuanya aman, ia akhirnya benar-benar menuju toilet.

Kalau tidak, bisa berbahaya.

Di tempat lain.

Firdaus sedang duduk di ruang kerjanya.

Lihat selengkapnya