Tiga hari kemudian.
Riana menarik napas panjang sebelum masuk ke area kerja divisi sales.
Hari ini adalah hari pertamanya bekerja.
Jujur saja, ia masih merasa gugup.
Meski sudah lolos wawancara, tetap saja suasananya berbeda ketika benar-benar menjadi bagian dari sebuah perusahaan.
"Semangat, Riana."
Ia menepuk pelan pipinya sendiri.
Di rumah, Sarah bahkan sempat memberinya pelukan sebelum berangkat.
"Mama kerja yang rajin ya."
Kalimat sederhana itu membuat Riana tersenyum sepanjang perjalanan.
Kini ia duduk di mejanya sambil mempelajari data produk yang diberikan senior sales.
Tidak mudah.
Tapi juga tidak sesulit yang ia bayangkan.
Saat sedang fokus membaca dokumen, ponselnya bergetar.
Nama yang muncul membuatnya sedikit terkejut.
Rini.
Teman lamanya.
"Halo, Rin?"
"Riana, kamu lagi sibuk?"
"Sedikit. Kenapa?"
"Aku mau ke supermarket dekat kantor kamu. Bisa ketemu sebentar?"
Riana melihat jam.
Masih waktu istirahat makan siang.
"Boleh."
"Serius?"
"Iya."
"Oke. Aku tunggu."
Dua puluh menit kemudian.
Riana duduk bersama Rini di sebuah sudut supermarket.
Awalnya mereka hanya mengobrol santai.
Tentang anak-anak.
Tentang pekerjaan baru.
Tentang kehidupan setelah menikah.
Namun lama-kelamaan ekspresi Rini berubah.
Terlihat ragu.
Seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan.
"Kenapa?" tanya Riana.
Rini menggigit bibir bawahnya.
"Aku sebenarnya bingung mau ngomong atau nggak."
Riana mulai penasaran.
"Ngomong apa?"
Rini membuka galeri ponselnya.
Lalu memperlihatkan sebuah foto.
Seketika.
Dunia Riana seperti berhenti berputar.
Matanya membesar.
Jantungnya berdegup keras.
Tubuhnya membeku.
Di foto itu...
Firdaus.
Suaminya.
Dan seorang wanita.
Mereka tampak sedang berciuman.
Ponsel di tangan Riana hampir terjatuh.
"Apa..."
Suaranya nyaris tidak keluar.
"Aku lihat ini dari teman," kata Rini pelan.
Riana masih menatap foto itu.
Tidak berkedip.
Tidak bergerak.
Tidak percaya.
Mustahil.
Firdaus?
Suaminya?
Pria yang selama ini selalu memperhatikan dirinya?
Pria yang bahkan sering mengingatkannya makan tepat waktu?
Pria yang selalu menanyakan kabarnya setiap hari?
Tidak mungkin.
Rasanya seperti sedang melihat orang lain.
"Itu bukan Firdaus."
"Itu Firdaus, Ri."
"Bukan."
"Ri..."
"Bukan."
Suara Riana mulai bergetar.
Matanya terasa panas.
Namun ia masih berusaha tenang.
Ia memperbesar foto itu.
Memperhatikan lebih detail.
Memperhatikan wajah Firdaus.
Memperhatikan ekspresinya.
Lalu sesuatu membuatnya mengernyit.
"Tunggu."
"Apa?"
"Kalau dilihat..."
Riana memperhatikan lagi.
Lama.