Jam makan siang akhirnya tiba.
Riana menatap layar ponselnya untuk kesekian kalinya.
Pesan anonim yang diterimanya sejak kemarin masih ada di sana.
«Kalau ingin tahu siapa wanita yang ada di foto bersama suamimu, datanglah ke lantai tujuh besok jam makan siang.»
Sejak pagi, pesan itu terus mengganggu pikirannya.
Ia sudah mencoba mengabaikannya.
Sudah mencoba fokus bekerja.
Sudah mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya kesalahpahaman.
Tetapi rasa penasaran jauh lebih kuat.
Akhirnya ia berdiri dari kursinya.
"Mbak, mau makan?" tanya salah satu rekan kerja.
"Nanti aja."
Riana memaksakan senyum.
Lalu berjalan menuju elevator.
Sepanjang perjalanan ke lantai tujuh, jantungnya berdegup semakin cepat.
Entah kenapa.
Perasaannya tidak enak.
Sangat tidak enak.
Ding.
Pintu elevator terbuka.
Koridor lantai tujuh terlihat jauh lebih sepi dibanding lantai tempatnya bekerja.
Riana melangkah perlahan.
Matanya menyapu ke kiri dan kanan.
Tidak ada siapa-siapa.
Sunyi.
Hanya terdengar suara pendingin ruangan.
"Hallo?"
Tidak ada jawaban.
Riana mengernyit.
Apa seseorang sedang mempermainkannya?
Ia berjalan lebih jauh.
Tetap tidak ada siapa-siapa.
Namun beberapa langkah kemudian, matanya menangkap sesuatu.
Sebuah amplop cokelat.
Terletak di atas bangku panjang dekat jendela.
Riana berhenti.
Jantungnya berdebar.
Perlahan ia mendekat.
Amplop itu tidak bertuliskan nama.
Tidak ada identitas pengirim.
Hanya amplop biasa.
Tangannya mulai gemetar saat membukanya.
Lalu...
Beberapa lembar foto jatuh ke pangkuannya.
Napas Riana langsung tercekat.
Firdaus.
Lagi.
Dan kali ini bukan hanya satu wanita.
Ada beberapa foto.
Di foto pertama, Firdaus terlihat sangat dekat dengan seorang wanita berambut pendek.
Di foto kedua, ia sedang berdiri berhadapan dengan wanita lain.
Di foto ketiga, sudut pengambilan gambar membuat mereka terlihat seperti sedang berpegangan tangan.
Di foto keempat...
Riana tidak sanggup melihat lebih lama.
Tangannya mulai bergetar.
Dadanya terasa sesak.
"Ini..."
Matanya mulai panas.
Selama ini ia selalu percaya kepada suaminya.
Selalu.
Bahkan ketika melihat foto pertama.
Ia masih berusaha mencari alasan.
Masih berusaha berpikir positif.
Namun sekarang?
Empat foto sekaligus.
Lima foto.
Enam foto.
Seolah semuanya sedang berteriak mengatakan hal yang sama.
Firdaus tidak setia.
Air mata mulai menggenang.
Riana buru-buru memasukkan foto-foto itu kembali ke amplop.
Ia tidak ingin menangis di tengah koridor.
Tidak mau dilihat orang.
Langkahnya menjadi cepat.
Ia mencari toilet terdekat.
Begitu masuk ke dalam salah satu bilik toilet...
Pertahanannya runtuh.
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.
Satu per satu.
Riana menutup mulutnya dengan tangan.
Berusaha agar tidak terdengar menangis.
Tetapi tetap saja sulit.
Karena yang paling menyakitkan bukan foto itu.
Melainkan kenyataan bahwa ia mulai meragukan orang yang paling ia percaya.
"Kenapa..."
Air mata kembali mengalir.
Ia teringat saat pertama kali bertemu Firdaus.
Saat pria itu masih membangun bisnisnya dari nol.
Saat mereka makan sederhana bersama.
Saat mereka tertawa karena uang mereka nyaris habis di akhir bulan.
Saat Firdaus berjanji akan selalu menjaganya.
Semua kenangan itu muncul satu per satu.
Dan sekarang...
Foto-foto itu seperti berusaha menghancurkan semuanya.
Beberapa menit berlalu.
Riana akhirnya mengusap air matanya.
Tidak.
Ia tidak boleh langsung percaya.
Ia mengenal Firdaus.
Sangat mengenal.
Bahkan lebih dari siapa pun.
Perlahan ia mengeluarkan kembali foto-foto tersebut.
Lalu memperhatikannya satu per satu.
Lebih teliti.