The Flower That Tells Lies

Ryana Dea Aprilia
Chapter #4

Karyawan Baru Caper

Malam itu, Rani baru saja pulang ke rumah ketika sebuah suara memanggilnya dari ruang kerja.


"Rani."


Langkahnya langsung terhenti.


Ia mengenal suara itu.


Ayahnya.


Pria yang selama puluhan tahun membangun bisnis keluarga mereka.


Rani masuk ke dalam ruangan.


Ayahnya sedang duduk di belakang meja sambil membaca beberapa laporan.


Wajah pria itu terlihat serius.


Terlalu serius.


"Ayah mau bicara."


Rani mulai merasa tidak nyaman.


"Tentang apa?"


Ayahnya meletakkan laporan di atas meja.


"Tentang Firdaus."


Rani langsung membeku.


Beberapa detik ruangan itu menjadi sunyi.


"Ayah nggak tahu kamu pikir Ayah nggak sadar."


Rani menelan ludah.


"Tapi Ayah tahu."


"Tahu apa?"


"Kamu sedang berusaha mengacaukan hidup Firdaus."


Jantung Rani langsung berdegup lebih cepat.


Namun ia berusaha terlihat tenang.


"Aku nggak tahu Ayah ngomong apa."


"Jangan bohong."


Nada suara ayahnya tetap tenang.


Justru itu yang membuat Rani semakin gugup.


"Rani."


"Ayah."


"Kita memang pesaing bisnis."


Rani diam.


"Tapi Ayah nggak pernah mengajarkan kamu menjatuhkan orang dengan cara kotor."


Kalimat itu membuat Rani menunduk.


Ayahnya menghela napas panjang.


"Kalau omzet perusahaan turun, kita cari solusi."


"Tapi Firdaus..."


"Firdaus berhasil karena kerja kerasnya."


Rani mengepalkan tangan.


"Tapi dia merebut banyak klien kita."


Ayahnya menggeleng.


"Kalau klien pergi, berarti ada yang harus kita perbaiki."


"Tapi..."


"Bukan berarti kita menghancurkan hidup orang lain."


Rani terdiam.


Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak tahu harus menjawab apa.


Ayahnya berdiri.


Lalu berjalan mendekatinya.


"Dengar baik-baik."


Rani mengangkat kepala.


"Ayah bisa meningkatkan bisnis tanpa harus menjatuhkan Firdaus."


"Tapi aku cuma mau membalas..."


"Membalas apa?"


Rani tidak menjawab.


Karena sebenarnya ia juga tahu.


Semua ini sudah terlalu jauh.


Foto-foto.


Gosip.


Pesan anonim.


Semuanya tidak lagi berhubungan dengan bisnis.


Sudah menjadi urusan pribadi.


Ayahnya menatapnya lama.


"Lupakan Firdaus."


"Tapi..."


"Janji sama Ayah."


Rani menggigit bibir.


Namun ia tidak menjawab.


Membuat ayahnya kembali menghela napas.


Konflik itu memang tidak selesai.


Belum.


Karena jauh di dalam hati Rani...


Ia masih belum rela melepaskan kebenciannya.


---


Keesokan paginya.


Matahari baru saja muncul ketika Firdaus perlahan membuka mata.


Untuk beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.


Lalu menoleh ke samping.


Dan langsung mengernyit.


Riana masih tidur.


Biasanya tidak seperti ini.


Justru Riana selalu bangun lebih dulu.


Membangunkan Sarah.


Menyiapkan sarapan.


Mengobrol sejak pagi.


Kadang bahkan terlalu banyak mengobrol.


Firdaus tersenyum kecil mengingatnya.


Namun pagi ini berbeda.


Riana masih tertidur memeluk bantal.


Wajahnya terlihat lelah.


Firdaus memperhatikannya cukup lama.


Semakin lama semakin merasa khawatir.


Beberapa minggu terakhir memang terasa aneh.


Lihat selengkapnya