Keesokan harinya.
Hari itu terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa minggu terakhir.
Setidaknya begitulah yang dirasakan Firdaus.
Masalah di kantor masih ada.
Target bisnis masih menumpuk.
Namun hubungan dirinya dengan Riana perlahan mulai membaik.
Setelah percakapan mereka beberapa hari lalu, senyum Riana mulai kembali.
Meski belum sepenuhnya seperti dulu.
Tetapi cukup untuk membuat Firdaus merasa lega.
Siang hari.
Firdaus akhirnya pulang lebih cepat dari biasanya.
Begitu masuk ke rumah, ia langsung melepas jam tangannya sambil menghela napas panjang.
Riana sedang duduk di ruang keluarga sambil membantu Sarah mewarnai gambar.
Nana bermain boneka di lantai.
Suasana rumah terasa hangat.
Dan saat itulah...
Grrrkkk...
Perut Firdaus berbunyi cukup keras.
Ruangan langsung hening.
Sarah mengangkat kepala.
Nana ikut menoleh.
Bahkan Riana sampai berhenti memegang pensil warna.
Beberapa detik kemudian...
Riana tertawa.
Firdaus langsung memerah.
"Jangan ketawa."
"Aku nggak ketawa."
"Tadi jelas ketawa."
Riana menutup mulutnya.
Tetapi bahunya masih bergerak menahan tawa.
"Mas CEO ternyata bisa lupa makan siang juga ya."
Firdaus mengusap wajahnya.
"Hari ini banyak rapat."
Sarah ikut tertawa kecil.
"Papa lapar."
Firdaus menunjuk putrinya.
"Kamu juga ikut-ikutan?"
Nana mengangguk polos.
"Papa lapar."
Semua orang kembali tertawa.
Akhirnya Riana berdiri.
"Ayo makan."
Firdaus langsung menurut.
Karena memang ia benar-benar lapar.
---
Beberapa menit kemudian.
Mereka makan siang bersama di ruang makan.
Suasana terasa jauh lebih nyaman dibanding beberapa minggu terakhir.
Firdaus beberapa kali mencuri pandang ke arah istrinya.
Melihat Riana tertawa bersama anak-anak.
Melihat cara wanita itu menyuapi Nana.
Melihat senyum hangatnya.
Dan entah kenapa...
Firdaus merasa sangat merindukannya.
Padahal mereka tinggal serumah.
Tidur di kamar yang sama.
Bertemu setiap hari.
Tetapi beberapa minggu terakhir terasa seperti ada jarak yang tidak terlihat.
Kini jarak itu perlahan menghilang.
Dan Firdaus sangat menyukainya.
Setelah Sarah dan Nana berlari kembali ke ruang keluarga, suasana menjadi lebih sepi.
Firdaus menatap Riana.
Riana yang sadar sedang diperhatikan langsung mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Bohong."
Firdaus tersenyum.
"Aku cuma kangen."
Wajah Riana langsung memerah.
"Mas."
"Apa?"
"Kita lagi di ruang makan."
Firdaus tertawa pelan.
Memang ada beberapa pelayan yang sesekali lewat membawa minuman atau membereskan meja.
Riana langsung salah tingkah.
Firdaus hanya tersenyum melihat reaksinya.
Salah satu hal yang paling ia suka dari istrinya adalah...
Setelah menikah bertahun-tahun pun, Riana masih mudah malu.
"Ayo."
Firdaus berdiri.
"Mau ke mana?"
"Kamar."
"Mas!"
Firdaus tertawa.
Lalu menarik pelan tangan istrinya.
Membuat Riana semakin salah tingkah.
---
Sesampainya di kamar.
Suasana menjadi jauh lebih tenang.
Tidak ada anak-anak.
Tidak ada suara televisi.