Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Setelah panggilan telepon terakhir, Firdaus berhasil memaksa pria misterius itu untuk bertemu secara langsung.
Syaratnya sederhana.
Tidak ada polisi.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada orang lain.
Hanya mereka berdua.
Empat mata.
Dan entah kenapa, pria itu setuju.
Beberapa jam kemudian.
Halaman belakang rumah Firdaus tampak sepi.
Lampu taman menyala redup.
Angin malam berembus pelan.
Firdaus berdiri dengan kedua tangan di saku celana.
Tatapannya tajam.
Raut wajahnya dingin.
Namun di dalam hatinya, amarah sedang bergejolak.
Karena sampai sekarang ia belum tahu di mana Riana berada.
Belum tahu bagaimana keadaan Sarah dan Nana.
Belum tahu siapa dalang di balik semua kekacauan ini.
Langkah kaki terdengar mendekat.
Firdaus menoleh.
Seorang pria muda berjalan keluar dari balik bayangan.
Usianya sekitar dua puluh tahunan.
Tubuhnya tinggi.
Rambutnya sedikit berantakan.
Wajahnya terlihat lelah.
Namun sorot matanya penuh emosi.
Pria itu berhenti beberapa meter dari Firdaus.
Untuk beberapa detik mereka saling menatap.
"Jadi kamu?" tanya Firdaus.
Pria itu tersenyum tipis.
"Iya."
"Siapa namamu?"
"Rio."
Firdaus mengingat nama itu.
Tidak pernah mendengarnya.
Tidak pernah mengenalnya.
Dan tidak pernah melihat wajahnya sebelumnya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?"
Rio tidak langsung menjawab.
Ia justru menatap rumah besar di belakang Firdaus.
Lalu tertawa pelan.
"Karena hidup memang tidak adil."
Firdaus mengernyit.
"Apa maksudmu?"
Rio menatapnya lagi.
"Kamu tahu siapa Riana buatku?"
Firdaus diam.
Rio menarik napas panjang.
"Aku mencintainya sejak SMP."
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
"Aku menyukainya bertahun-tahun."
Rio tersenyum pahit.
"Aku selalu ada saat dia sedih."
"Aku selalu membantu saat dia kesulitan."
"Aku selalu memperhatikannya."
Firdaus tetap diam.
Rio melanjutkan.
"Tapi pada akhirnya..."
Pria itu mengepalkan tangan.
"...dia memilihmu."
Firdaus akhirnya memahami arah pembicaraan itu.
Jadi ini alasannya.
Bukan bisnis.
Bukan uang.
Bukan balas dendam.