Pada siang hari berada di dalam kelas.
Hujan sedang turun di luar sekolah. Tidak deras, namun cukup membuat halaman sekolah menjadi basah dan udara terasa lebih dingin.
Sebagian siswa tetap di dalam kelas. Suaranya ramai seperti biasa. Ada yang mengobrol, ada yang bermain ponsel, ada yang tidur di meja.
Aruna berdiri di dekat jendela. Tangannya bertumpu di kusen, matanya melihat ke luar.
Dia tidak sedang memikirkan sesuatu.
Hanya berdiri.
Tapi dia juga tidak kembali ke tempat duduknya.
Ada perasaan aneh yang tertahan.
Kecil, tapi mengganggu.
Aruna menarik napas pelan, lalu kembali ke mejanya.
Dia duduk, membuka buku, melihat sebentar, lalu menutupnya lagi.
Tidak masuk.
Tangannya berhenti di atas meja.
“Kenapa ya…”
Dia bergumam pelan.
Beberapa detik berlalu.
Lalu kursi di sebelahnya bergeser sedikit.
Aruna langsung menoleh.
Seorang gadis sudah duduk di sana.
Seragamnya sama. Rambutnya sedikit basah di ujung, seperti habis terkena hujan.
Dia duduk dengan tenang, menghadap ke depan.
Seolah memang sudah ada di sana sejak tadi.
Aruna diam beberapa detik.
“…kamu dari mana?”
Gadis itu menoleh sedikit.
“Hm?”
“Kamu baru masuk?”
Gadis itu melihat ke arah jendela.
“Hujannya baru mulai.”
Jawabannya tidak menjawab.
Aruna mengerutkan dahi.
Dia yakin belum pernah melihat gadis ini sebelumnya.
Tapi tidak ada yang bereaksi.
Teman-teman di kelas tetap mengobrol seperti biasa. Tidak ada yang memperhatikan.
Seolah ini hal yang normal.
Aruna melirik sekeliling sekali lagi, lalu kembali menatapnya.
“Kamu pindahan?”
Gadis itu menggeleng.
“Bukan.”
Aruna berhesitasi untuk mengucapkan suatu pertanyaan.