CHAPTER 1
Episode 1 : First Time I Start to Waiting
Beberapa hari setelah kejadian itu.
Pada Siang hari di kelas.
Pelajaran sedang berlangsung, Namun Aruna tidak sepenuhnya memperhatikan. Suara guru terdengar jelas, menjelaskan materi di depan, tapi tidak ada yang benar-benar dipahaminya.
Pulpen di tangannya. Buku terbuka di depannya. Halaman masih kosong.
Pandangannya sesekali naik ke papan tulis, lalu kembali turun, lalu berakhir di jendela.
Langit cerah.
Terlalu cerah.
Aruna menahan napas sebentar, lalu mengalihkan pandangan.
“…tadi…”
Kalimat itu muncul lagi.
Sejak beberapa hari terakhir, itu selalu terjadi. Setiap kali dia mencoba mengingat, pikirannya selalu berhenti di bagian yang sama.
Ada sesuatu yang hilang.
Atau mungkin, ada sesuatu yang seharusnya ada.
Aruna menunduk, mencoba fokus.
Dia mencoba mengingat dengan lebih jelas.
Seorang gadis.
Dia yakin itu.
Dia duduk di sebelahnya. Mereka sempat bicara. Tidak lama, tapi cukup untuk diingat.
Harusnya.
Tapi wajahnya tidak jelas. Suaranya tidak bisa dia tangkap lagi. Bahkan kesan yang tersisa pun mulai pudar.
Seperti sesuatu yang perlahan ditarik menjauh.
Aruna menghela napas pelan.
Dia menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Kenapa malah kepikiran…”
Dia bergumam pelan, hampir tidak terdengar.
Tangannya mengetuk meja sekali, lalu berhenti.
Tidak ada yang berubah.
Pelajaran terus berjalan.
Waktu tetap bergerak.
Bel istirahat akhirnya berbunyi.
Suasana kelas langsung berubah. Kursi bergeser, suara percakapan muncul dari berbagai arah. Beberapa siswa langsung berdiri, sebagian tetap duduk.
Aruna tidak bergerak.
Dia tetap di tempatnya.
Matanya kembali ke jendela.
Langit yang tadi cerah mulai berubah.
Awan berkumpul perlahan. Tidak langsung gelap, tapi cukup untuk membuat cahaya berkurang.
Aruna memperhatikan itu lebih lama dari yang seharusnya.
Ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut menunggu.
Padahal dia sendiri tidak yakin apa yang dia tunggu.
Beberapa menit berlalu.
Lalu tetesan pertama jatuh.
Pelan.
Satu titik di kaca.
Lalu disusul yang lain.
Hujan mulai turun.
Aruna tidak langsung berdiri.
Dia hanya melihat.
Perasaan itu kembali.
Sama seperti beberapa hari lalu.
Tidak jelas, tapi kali ini dia tidak mengabaikannya.
Tangannya perlahan menegang di atas meja.
“…hujan.”
Dia berdiri.
Langkahnya pelan, tapi langsung menuju jendela.
Dia berhenti di sana.
Melihat ke luar.
Suara hujan mulai terdengar lebih jelas.
Tidak deras, tapi cukup untuk menutupi sebagian suara di dalam kelas.
Aruna menahan napas sebentar.
Lalu menoleh ke kursi di sebelahnya.
Kosong.
Dia tidak langsung bergerak.
Hanya menatap.
Beberapa detik.
Tidak ada apa-apa.
Aruna mengerutkan dahi.