The Girl Who Only Exists When It Is Raining: And the Days I Waited for Her to Return

Lyneetra Studio
Chapter #3

Episode 2 : The Days That Stayed Dry, and the Things That Quietly Changed

Keesokan harinya.

Langit kembali cerah.

Tidak ada tanda hujan sejak pagi.

Cahaya matahari masuk lewat jendela kelas tanpa terhalang.

Terlalu terang sampai bayangan meja terlihat jelas di lantai.

Aruna duduk di tempatnya.

Buku sudah terbuka.

Pulpen sudah di tangan.

Tapi kali ini, dia tidak menulis karena tidak fokus.

Dia menunggu.

Matanya beberapa kali naik ke jendela, lalu turun lagi.

Lalu kembali ke kursi di sebelahnya.

Kosong.

Masih kosong.

Sejak awal pelajaran dimulai, tidak ada perubahan.

Aruna menghela napas pelan.

“…ya jelas sih.”

Dia bergumam sendiri.

Kalimat Hana kemarin masih jelas di kepalanya.

“Hujannya berhenti.”

Seolah itu satu-satunya syarat.

Aruna mengetuk meja pelan.

Sekali.

Lalu berhenti.

Dia mencoba fokus ke papan.

Guru sedang menjelaskan, tapi kali ini, pikirannya tidak sepenuhnya kosong seperti sebelumnya.

Ada sesuatu yang tertinggal.

Bukan ingatan yang jelas.

Tapi juga bukan sekadar perasaan.

Lebih seperti… jejak.

Aruna menunduk sedikit.

“…Hana.”

Nama itu keluar pelan.

Dia tidak lupa.

Tidak seperti yang dia kira akan terjadi.

Itu aneh.

Kalau semua orang bisa lupa, harusnya dia juga.

Tapi tidak.

Nama itu masih ada.

Suara itu mungkin samar.

Wajahnya juga tidak sepenuhnya jelas.

Tapi keberadaannya…

Masih terasa.

Bel istirahat berbunyi.

Suasana kelas langsung berubah.

Beberapa siswa berdiri, beberapa langsung keluar.

Aruna tetap duduk.

Dia melirik kursi di sebelahnya lagi.

Kosong.

Tangannya bergerak sedikit, menyentuh permukaan meja di sana.

Dingin.

Tidak ada bekas apa pun.

“…kemarin juga gini ya.”

Dia menarik tangannya kembali.

Lalu berdiri.

Langkahnya pelan keluar kelas.

Koridor cukup ramai.

Suara langkah, percakapan, dan tawa bercampur jadi satu.

Aruna berjalan tanpa tujuan jelas.

Sampai akhirnya dia berhenti di depan mesin minuman.

Dia memasukkan uang.

Menekan tombol.

Kaleng minuman jatuh dengan suara kecil.

Aruna mengambilnya, lalu berdiri di sana beberapa detik.

Tidak langsung minum.

“…aneh.”

Dia membuka kalengnya.

Suara ‘psst’ kecil terdengar.

Aruna meneguk sedikit.

Rasa dingin menyebar.

Tapi tidak mengubah apa pun.

Dia tetap berpikir.

Tentang hal yang sama.

Tentang seseorang yang tidak seharusnya bisa dia ingat.

“Aruna.”

Seseorang memanggil dari samping.

Aruna menoleh.

Raka berdiri di sana, membawa roti di tangan.

“Kamu sendirian aja dari tadi?”

Aruna mengangkat bahu sedikit.

“Iya.”

Lihat selengkapnya