Keesokan harinya.
Langit mendung sejak pagi.
Tidak langsung turun hujan.
Tapi membuat langit lebih gelap dari biasanya.
Aruna duduk di kelas.
Lebih cepat dari hari-hari sebelumnya.
Tas sudah diletakkan.
Buku sudah dibuka.
Tapi dia belum benar-benar membaca.
Matanya lebih sering ke jendela.
Lalu ke kursi di sebelahnya.
Kosong.
“…belum.”
Dia bergumam pelan.
Jam di dinding bergerak perlahan.
Suara kelas mulai ramai seiring siswa berdatangan.
Raka masuk, menjatuhkan tasnya ke meja.
“Kamu pagi banget.”
Aruna hanya mengangguk.
“Iya.”
Raka duduk, meliriknya.
“Kamu lagi nunggu sesuatu ya?”
Aruna berhenti sebentar.
Lalu menggeleng.
“Nggak.”
Raka menyipitkan mata.
“Bohong.”
Aruna tidak membalas.
Dia kembali melihat ke jendela.
Awan semakin tebal.
Angin mulai terasa.
“…kayaknya bakal hujan,” kata Raka, ikut melihat keluar.
Aruna hanya menjawab pelan,
“Iya.”
Ada jeda.
Raka menatapnya lagi.
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?”
Aruna berpikir sebentar.
“…nggak tau.”
Raka menghela napas.
“Jawaban itu lagi.”
Aruna sedikit tersenyum tipis.
Tidak ada penjelasan yang bisa dia kasih.
Bel masuk berbunyi.
Pelajaran dimulai.
Waktu berjalan.
Lebih lambat dari biasanya.
Atau mungkin hanya terasa begitu.
Aruna beberapa kali menoleh ke jendela.
Masih belum hujan.
Hanya mendung.
Kursi di sebelahnya tetap kosong.
Tangannya mulai mengetuk meja lagi.
Pelan.
Berulang.
Sampai akhirnya
Tetes pertama jatuh.
Kecil.
Hampir tidak terlihat.
Aruna langsung berhenti bergerak.
Matanya ke jendela.
Lalu
Dia menoleh ke samping.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Aruna mengerutkan dahi.
“…kenapa?”
Hujan mulai turun.
Perlahan.
Lalu semakin jelas.
Suara tetesannya terdengar.
Sama seperti sebelumnya.
Harusnya.
Aruna menatap kursi itu lebih lama.
Tidak ada perubahan.
Tidak ada pergerakan.
Tidak ada tanda.
“…Hana?”
Dia memanggil pelan.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan.