Masih di hari yang sama, setelah percakapan itu.
Hujan di luar mulai melemah.
Tidak langsung berhenti.
Tapi suaranya berubah.
Dari yang stabil jadi lebih jarang.
Aruna menyadarinya lebih dulu.
Bukan karena dia melihat ke jendela.
Tapi karena Hana jadi lebih diam.
Dia masih duduk di sana.
Masih sama.
Tapi ada jeda lebih panjang sebelum dia merespons.
Seperti sesuatu yang mulai tertahan.
“…Hana.”
Aruna memanggil pelan.
Hana menoleh.
“Iya.”
Masih normal.
Masih sama.
Aruna menghela napas kecil.
“…kalau hujannya berhenti sekarang…”
Hana tidak langsung menjawab.
Beberapa detik.
“…aku akan hilang.”
Aruna menatap meja.
Tangannya perlahan mengepal.
“…aku tau.”
Dia sudah tau.
Tapi mendengarnya lagi tetap tidak enak.
Hujan di luar semakin pelan.
Tetesannya mulai terputus-putus.
Aruna berdiri tiba-tiba.
Kursinya bergeser sedikit.
Hana menatapnya.
“…kamu mau ke mana?”
Aruna tidak langsung jawab.
Dia mengambil tasnya.
“…bentar.”
Hana mengerutkan sedikit alis.
“…Aruna?”
Tapi Aruna sudah jalan keluar kelas.
Langkahnya cepat.
Tidak berlari.
Tapi jelas terburu-buru.
Koridor hampir kosong.
Beberapa siswa sudah pulang.
Suara hujan masih ada.
Tapi makin tipis.
Aruna berhenti sebentar di dekat tangga.
Menatap keluar.
Langit masih abu-abu.
Tapi terang mulai balik.
“…belum berhenti.”
Dia langsung lanjut jalan.
Turun tangga.
Keluar gedung.
Udara dingin langsung terasa.
Hujan masih turun.
Tipis.
Aruna berdiri di bawah atap sebentar.
Lalu
Dia melangkah keluar.
Air langsung kena seragamnya.
Dingin.
Cepat meresap.
Tapi dia tidak berhenti.
Dia jalan menjauh dari gedung.
Ke area lapangan.
Yang tidak ada atap sama sekali.
Hujan lebih terasa di sana.
Aruna berhenti di tengah.
Menarik napas.
Air jatuh ke wajahnya.
Rambutnya mulai basah.
Seragamnya ikut.
“…kalau hujannya harus ‘cukup’…”
Dia bergumam.
“…berarti tinggal dibiarin aja kan.”
Tidak ada yang menjawab.
Tentu saja.
Tapi untuk pertama kalinya
Dia mencoba melakukan sesuatu.
Bukan cuma menunggu.
Beberapa menit berlalu.
Hujan tidak berhenti.
Tapi juga tidak jadi deras.
Tetap di tengah.
Aruna berdiri di sana.
Tidak bergerak.
Sampai
“…Aruna.”
Suara itu.
Tepat di belakangnya.
Aruna langsung menoleh.
Hana berdiri di sana.
Tidak pakai payung.
Rambutnya sedikit lebih basah dari biasanya.
Seperti dia benar-benar datang dari hujan.
Aruna terdiam.
Beberapa detik.
“…kamu di sini?”
Hana melihat sekeliling.
Lalu kembali ke Aruna.
“Iya.”
Aruna sedikit tertawa kecil.
Napasnya masih agak berat.
“…aku kira kamu cuma bisa di kelas.”
Hana menggeleng pelan.
“…aku bisa di mana saja.”
Dia berhenti sebentar.
“…selama hujannya ada.”
Aruna mengangguk pelan.
Lalu melihat ke langit.
Hujan masih turun.
“…bagus.”
Hana memperhatikannya.
“…kamu kenapa keluar?”
Aruna tidak langsung jawab.
Dia mengusap wajahnya.
Air hujan bercampur dengan napasnya yang masih belum stabil.
“…aku cuma mikir.”
Dia berhenti sebentar.
“…kalau aku diam aja di kelas, hujannya tetap bakal berhenti.”
Hana diam.
Aruna melanjutkan,
“…tapi kalau aku di luar…”
Dia membuka tangannya sedikit.
“…setidaknya aku bisa ngerasain waktunya.”
Hana menatapnya.
Tidak langsung bicara.
Ada sesuatu di ekspresinya.
Bukan bingung.
Lebih ke… memperhatikan lebih dalam.
“…itu tidak mengubah apa-apa.”
Akhirnya dia berkata.
Aruna tersenyum tipis.
“Iya.”
Jawabannya ringan.
“…tapi aku jadi nggak cuma nunggu.”
Hana tidak membalas.
Hujan terus turun.
Pelan.
Konsisten.
Untuk beberapa saat
Mereka hanya berdiri di sana.
Tanpa bicara.
Tanpa bergerak.
Aruna sesekali melihat ke Hana.
Memastikan dia masih ada.
Dan setiap kali
Dia masih di sana.
Beberapa menit kemudian.
Hujan mulai berubah lagi.
Lebih ringan.
Lebih jarang.
Aruna menyadarinya.
Dia menoleh ke Hana.
“…sebentar lagi ya.”
Hana tidak langsung menjawab.
Tapi kali ini
Dia mengangguk duluan.
“Iya.”
Aruna menghela napas pelan.
Tangannya turun.
“…besok hujan nggak ya.”
Hana melihat ke langit.
“…aku tidak tahu.”
Aruna tertawa kecil.
“Jawaban kamu selalu itu.”
Hana sedikit memiringkan kepala.
“…kamu masih tanya.”
Aruna berhenti.
Lalu tersenyum tipis lagi.
“Iya juga.”
Hujan semakin jarang.
Jarak antar tetesan mulai terasa.
Aruna melihat ke sekeliling.
Lapangan mulai mengering di beberapa bagian.
“…Hana.”
“Iya.”
Aruna menatapnya.
Lebih serius.
“…kalau suatu hari aku bisa bikin hujan…”
Hana mengangkat alis sedikit.
“…aku bakal bikin tiap hari.”
Aruna lanjut.
“…biar kamu nggak hilang.”
Hana diam.
Lebih lama dari sebelumnya.
Hujan tinggal sedikit.
Tetes terakhir mulai terasa.
“…itu tidak semudah itu.”
Suaranya lebih pelan.
Aruna tidak langsung jawab.
Dia mengangguk.
“Iya.”
Dia tahu.
Tapi tetap bilang.
Karena itu yang dia pikirkan.
Tetes terakhir jatuh.
Lalu, Hujan berhenti.
Sunyi.
Tanpa suara hujan.
Aruna langsung melihat ke Hana.
Dia masih di sana.
Seperti sebelumnya.
Tidak ada efek dramatis.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada suara.
Hana..
Tidak ada lagi.
Aruna berdiri diam.
Air masih menetes dari rambutnya.
Seragamnya basah.
Udara terasa lebih hangat sekarang.
“…cepet banget.”
Dia bergumam pelan.
Tangannya sedikit mengepal lagi.
Tapi kali ini, dia tidak menunduk.
Melainkan ia melihat ke arah langit dengan posisi awan yang mulai terbuka.
Cahaya sore muncul pelan.
“…kalau nggak bisa nahan hujan…”
Dia menarik napas.
“…aku cari cara lain.”
Kalimat itu keluar pelan.
Tapi lebih jelas dari sebelumnya.
Untuk pertama kalinya
Aruna tidak cuma menunggu.
Dia mulai berpikir.
Dan itu
Mengubah arah semuanya.
Sore itu berakhir tanpa banyak suara.
Aruna pulang dalam keadaan basah. Seragamnya berat, sepatu sedikit berisik setiap melangkah. Tapi dia tidak terlalu peduli.
Yang ada di kepalanya bukan dingin.
Bukan juga rasa tidak nyaman.
Tapi satu hal yang terus berputar.
Hujan.
Dia berdiri sebentar di depan rumah sebelum masuk. Menatap langit yang sudah mulai cerah lagi.
Seolah hujan tadi tidak pernah ada.
“…terlalu cepat.”
Dia bergumam pelan.
Lalu masuk.
Malamnya, Aruna tidak langsung tidur.
Dia duduk di meja belajar, buku terbuka, tapi bukan untuk pelajaran.
Tangannya menulis sesuatu.
Pelan.
Tidak rapi.
Jam.
Durasi.
Perubahan.
Hujan mulai.
Hujan berhenti.
Dia mencoba mengingat kejadian tadi.
Kapan tetes pertama jatuh.
Kapan Hana muncul.
Berapa lama sampai hujan berhenti.
Berapa lama sampai Hana hilang.
Angkanya tidak pasti.
Tapi dia tetap tulis.
“…kalau aku bisa ngerti polanya…”
Pulpen berhenti sebentar.
“…mungkin ada cara.”
Dia menatap catatannya.
Tidak ada yang spesial.
Cuma potongan waktu yang bahkan dia sendiri tidak yakin akurat.
Tapi tetap saja
Itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.
Aruna menutup bukunya pelan.
Lalu bersandar.
Matanya melihat ke jendela kamar.
Langit gelap.
Tidak ada hujan.
Tidak ada suara.
Sunyi.
“…Hana.”
Nama itu keluar lagi.
Masih terasa nyata.
Tidak pudar.
Tidak hilang.
Aruna menutup mata sebentar.
Lalu membuka lagi.
“…besok hujan nggak ya.”
Tidak ada jawaban.
Tentu saja.
Tapi untuk pertama kalinya
Pertanyaan itu terasa penting.
Bukan sekadar harapan.
Tapi sesuatu yang ingin dia pastikan.
Keesokan harinya.
Langit mendung.
Tidak langsung hujan.
Tapi cukup untuk membuat Aruna lebih cepat bersiap.
Dia sampai di kelas lebih awal.
Seperti kemarin.
Tas diletakkan.
Buku dibuka.
Dan kali ini
Dia benar-benar menunggu.
Matanya sesekali ke jam.
Lalu ke jendela.
Lalu ke kursi di sebelahnya.
Kosong.
Masih kosong.
“…belum.”
Dia bergumam pelan.
Beberapa siswa mulai masuk.
Suara kursi bergeser.
Percakapan ringan.
Raka datang seperti biasa, duduk di kursinya.
“Kamu lagi.”
Aruna melirik.
“Kenapa?”
“Datang pagi, bengong, liatin jendela.”
Raka menyender.
“Fix, ada yang kamu tunggu.”
Aruna tidak langsung jawab.
“…mungkin.”
Raka langsung menoleh.
“Serius?”
Aruna mengangkat bahu.
“Gue juga nggak yakin.”
Raka tertawa kecil.
“Aneh banget lo.”
Aruna tidak membalas.
Dia kembali melihat ke jendela.
Awan makin tebal.
Angin mulai terasa.
Ada tekanan di udara.
Seperti sesuatu yang akan terjadi.
Aruna menelan pelan.
Tangannya di atas meja.
Sedikit tegang.
“…ayo.”
Dia tidak sadar bilang itu.
Pelan.
Hampir seperti doa.
Beberapa menit berlalu.
Lalu
Tetes pertama jatuh.
Kali ini Aruna langsung berdiri.
Refleks.
Kursinya bergeser sedikit.
Raka kaget.
“Eh, kenapa?”
Aruna tidak jawab.
Dia hanya melihat ke jendela.
Lalu
Menoleh ke samping.
Kosong.
Aruna diam.
Satu detik.
Dua detik.
Masih kosong.
Jantungnya sedikit turun.
“…belum.”
Dia duduk kembali.
Matanya tetap di kursi itu.
Hujan mulai turun.
Pelan.
Lalu lebih jelas.
Aruna tidak mengalihkan pandangan.
Dia menunggu.
Menghitung dalam diam.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sampai
Kursi itu bergerak sedikit.
Hampir tidak terlihat.
Aruna langsung menegakkan badan.
Hana sudah duduk di sana.
Seperti biasa.
Tenang.
Seolah tidak pernah terlambat.
Aruna langsung menghela napas.
Panjang.
“…kamu muncul di detik ke berapa?”
Hana menoleh.
Ekspresinya sedikit bingung.
“…apa?”
Aruna mengambil pulpen.