Hari berikutnya.
Langit masih cerah.
Aruna sudah tidak langsung melihat ke jendela saat duduk.
Dia membuka buku.
Benar-benar membaca.
Mencoba kembali ke ritme yang sempat hilang beberapa hari terakhir.
Tapi tetap saja—
Sesekali, tanpa sadar, matanya bergerak ke samping.
Kursi itu kosong.
Dan kali ini, dia tidak menatapnya lama.
Cukup satu detik.
Lalu kembali.
Seperti membiasakan diri.
“…pelan-pelan aja.”
Dia bergumam pelan.
Tidak jelas ke siapa.
Mungkin ke dirinya sendiri.
Pelajaran berjalan.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang berubah.
Semua kembali normal.
Dan untuk pertama kalinya, Aruna mulai merasa dia bisa hidup di dua keadaan itu.
Hari tanpa hujan.
Dan hari saat hujan datang.
Tanpa harus menghancurkan salah satunya.
Bel istirahat berbunyi.
Raka langsung berdiri.
“Kantin?”
Aruna mengangguk kali ini.
“Iya.”
Raka sedikit kaget.
“Wah, akhirnya.”
Aruna hanya tersenyum tipis.
Mereka berjalan keluar kelas.
Koridor ramai seperti biasa.
Suara langkah, percakapan, tawa.
Semua terasa… hidup.
Berbeda dengan ruang kecil yang hanya berisi dua orang saat hujan.
Aruna menyadari itu.
Perbedaan itu.
Dan anehnya
Dia tidak merasa harus memilih salah satu.
Di kantin.
Aruna duduk di seberang Raka.
Membuka bungkus makanannya.
Raka memperhatikannya sebentar.
“Kamu beneran udah normal.”
Aruna mengangkat alis.
“Dari kemarin lo aneh banget.”
Aruna tertawa kecil.
“Sekarang juga masih.”
Raka menggeleng.
“Enggak. Ini beda.”
Aruna tidak membalas.
Dia hanya mulai makan.
Beberapa detik hening.
Lalu
“Lo lagi nunggu hujan ya?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Aruna berhenti sebentar.
Sendoknya masih di tangan.
Dia tidak langsung menjawab.
“…mungkin.”
Raka menatapnya.
“Kok bisa.”
Aruna mengangkat bahu.
“Gue juga nggak tahu.”
Raka menghela napas.
“Aneh banget.”
Aruna tersenyum kecil.
“Iya.”
Dan untuk pertama kalinya
Dia tidak mencoba menutupi itu.
Sepulang sekolah.
Langit masih sama.
Tidak ada tanda hujan.
Aruna berjalan keluar gerbang.
Langkahnya santai.
Tidak terburu-buru.
Dia berhenti sebentar.
Melihat ke langit.
“…besok juga nggak ya.”
Dia tidak terdengar kecewa.
Hanya berpikir.
Lalu lanjut jalan.
Malam hari.
Aruna duduk di meja belajar.
Buku terbuka lagi.
Tapi kali ini, bukan untuk mencatat.
Dia hanya menatap halaman kosong.
Lebih lama dari biasanya.
Lalu
Dia mulai menulis.
Bukan angka.
Bukan waktu.
Tapi sesuatu yang berbeda.
“Hana suka diam.”
Dia berhenti.
Berpikir.
Lalu menulis lagi.
“Tapi bukan diam yang kosong.”
Tangannya bergerak pelan.
Lebih hati-hati.
Seolah setiap kata harus pas.
“Kalau dia nggak jawab, bukan berarti dia nggak mau jawab.”
Dia berhenti lagi.
Menatap tulisannya.
“…aku mulai ngerti.”
Kalimat itu tidak ditulis.
Hanya ada di kepalanya.
Dia menutup buku pelan.
Bukan karena selesai.
Tapi karena tidak ingin memaksakan.
Sama seperti yang dia pelajari.
Keesokan harinya.
Langit mendung.
Tidak langsung hujan.
Tapi cukup untuk membuat Aruna sadar sejak awal.
Dia duduk.
Lebih siap dari biasanya.
Tapi tetap tenang.
Tidak seperti dulu.
Tangannya di atas meja.
Tidak mengetuk.
Tidak gelisah.
“…kalau datang, ya datang.”
Dia bergumam pelan.
Matanya ke jendela.
Lalu kembali ke depan.
Lalu ke samping.
Masih kosong.
Dan dia tidak apa-apa dengan itu.
Waktu berjalan.
Awan makin tebal.
Suasana kelas sedikit lebih gelap.
Raka melirik keluar.
“Kayaknya bentar lagi.”
Aruna mengangguk.
“Iya.”
Tapi dia tidak berdiri.
Tidak bersiap.
Dia tetap di tempatnya.
Menunggu dengan cara yang berbeda.
Tetes pertama jatuh.
Pelan.
Satu titik di kaca.
Aruna melihat.
Lalu ke samping.
Kosong.
Dia tidak bereaksi.
Hanya menunggu.
Beberapa detik.
Hujan mulai turun.
Lebih jelas.
Suara mulai terdengar.
Aruna tetap diam.
Tidak menghitung.
Tidak mencatat.
Hanya ada di sana.
Sampai
Kursi itu bergerak pelan.
Dan Hana duduk di sana.
Seperti biasa.
Aruna menoleh.
Tatapannya lebih lembut dari sebelumnya.
“…kamu datang.”
Hana menoleh.
“Iya.”
Aruna tersenyum kecil.
“…aku nunggu.”
Hana diam sebentar.
“…aku tahu.”
Aruna sedikit terkejut.
“…kamu bisa tahu?”
Hana mengangguk pelan.
“…rasanya sama.”
Aruna tidak langsung membalas.
Dia melihat ke jendela.
Lalu kembali.
“…kali ini aku nggak ngapa-ngapain.”
Hana memperhatikannya.
“…iya.”
Aruna menghela napas kecil.
“…dan kamu tetap ada.”
Hana tidak menjawab.
Tapi dia tidak mengalihkan pandangan.
Dan itu sudah cukup jelas.
—
Beberapa detik hening.
Tidak canggung.
Tidak kosong.
Aruna sedikit bersandar.
“…Hana.”
“Iya.”
“…kalau suatu hari aku nggak nunggu…”
Dia berhenti.
“…kamu tetap datang?”
Hana tidak langsung menjawab.
Matanya sedikit turun.
“…aku tetap ada.”
Aruna menatapnya.
Lebih dalam.
“…tapi aku mungkin nggak sadar.”
Hana mengangguk.
“Iya.”
Aruna tersenyum tipis.
“…berarti yang penting bukan cuma hujan.”
Hana menoleh.