Hari berikutnya.
Langit mendung, tapi belum turun hujan.
Aruna duduk di tempatnya, membuka buku seperti biasa. Tangannya menulis pelan, tidak terburu-buru, seolah mengikuti ritme yang sudah ia temukan beberapa hari terakhir.
Sesekali, matanya bergerak ke samping.
Kursi itu kosong.
Dan kali ini, dia tidak berhenti lama.
Cukup melihat, lalu kembali.
Seperti seseorang yang sudah tahu sesuatu akan datang, tapi tidak perlu memastikan terus-menerus.
“…pelan aja.”
Dia bergumam kecil, hampir tidak terdengar.
Pelajaran berjalan.
Suara guru, suara halaman, semuanya terasa normal.
Dan untuk beberapa waktu, Aruna benar-benar tenggelam di dalamnya.
Sampai..,
“…Aruna.”
Dia menoleh.
Raka sedang menatapnya, sedikit menyipitkan mata.
“Lo nulis apa sih dari tadi.”
Aruna melihat bukunya.
Baru sadar.
Tulisan di sana bukan catatan pelajaran.
Beberapa baris kalimat.
Tidak beraturan.
Dia menutup bukunya pelan.
“…nggak penting.”
Raka menghela napas kecil.
“Lo makin aneh.”
Aruna tersenyum tipis.
“Iya.”