Masih di hari yang sama.
Hujan turun cukup stabil, menahan suasana di dalam kelas tetap tenang. Suara tetesannya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk mengisi ruang yang mulai sepi.
Aruna duduk seperti tadi.
Tangannya terletak di atas meja, tidak lagi menulis. Pandangannya perlahan beralih ke samping, berhenti pada Hana yang duduk dengan posisi yang sama seperti biasanya.
Tidak banyak bergerak.
Seolah memang selalu ada di sana.
"Hanа."
"Iya."
Aruna tidak langsung melanjutkan. Ia sedikit menyandarkan punggungnya, menatap lebih lama dari biasanya.
Ada sesuatu yang ingin ia pastikan.
"Aku mau coba sesuatu."
Hana memiringkan kepala sedikit.
"Apa?"
Aruna menarik napas pelan, lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku mau lihat apa aku masih ingat kamu."
Hana tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Aruna, diam, seolah membiarkan Aruna melanjutkan dengan caranya sendiri.
Aruna menggeser duduknya sedikit.
"Rambut kamu… hitam."
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan lebih pelan.
"Ujungnya biasanya sedikit basah."
Hana tetap diam.
Aruna melanjutkan.
"Cara kamu ngomong… pelan. Kayak lagi mikir dulu sebelum jawab."
Hana mengangguk kecil.
"Iya."
Aruna menatapnya beberapa saat, lalu menghela napas perlahan.
"Masih ingat."
Nada suaranya tidak lega.
Lebih seperti memastikan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.
Beberapa detik hening.
Hujan masih turun, ritmenya tetap sama.
Aruna menunduk sedikit, jemarinya menyentuh permukaan meja.
"Tadi aku lupa sesuatu."
Hana menoleh.
"Apa?"
Aruna tidak langsung menjawab.
"Aku nulis sesuatu tentang kamu."
Ia berhenti sebentar.
"Tapi aku nggak ingat kapan aku nulis itu."
Hana memperhatikannya lebih lama.
"Kamu lupa?"
Aruna mengangguk pelan.
"Sedikit. Bukan hilang, tapi kayak jauh."
Hana tidak langsung membalas.
Matanya turun sebentar, lalu kembali ke Aruna.
"Itu mulai ya."
Aruna mengangkat pandangannya.
"Apa?"
Hana melihat ke jendela, lalu kembali.
"Yang kamu takutin."
Aruna diam.
Ia tidak langsung menyangkal.
Tidak juga mengiyakan.