Hari berikutnya.
Langit tidak sepenuhnya cerah, tapi juga belum cukup gelap untuk hujan.
Cahaya masuk dengan lembut lewat jendela, menyentuh meja dan lantai tanpa bayangan yang terlalu tajam.
Aruna duduk di tempatnya.
Buku terbuka.
Tangannya bergerak menulis, pelan dan cukup rapi, berbeda dari beberapa hari sebelumnya.
Tidak ada catatan aneh.
Tidak ada kalimat yang terpotong.
Semuanya terlihat normal.
Sesekali, ia berhenti.
Bukan karena kehilangan fokus.
Hanya menarik napas, lalu lanjut lagi.
Kursi di sampingnya kosong.
Dan kali ini, ia tidak langsung melihat ke sana.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya pandangannya bergeser.
Hanya sekilas.
Lalu kembali ke bukunya.
Seolah itu bukan sesuatu yang perlu dipastikan terus-menerus.
"Lo sekarang beneran beda."
Suara Raka datang dari samping.
Aruna tetap menulis.
"Beda gimana."
"Lebih tenang."
Aruna berhenti sebentar, lalu menutup bukunya sebagian.
"Harusnya bagus."
Raka mengangkat bahu.
"Iya sih. Cuma agak aneh aja."
Aruna tersenyum tipis.
"Aku juga ngerasa gitu."
Raka menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil.
"Ya udah, selama nggak tiba-tiba ngomong sendiri lagi."
Aruna tidak langsung menjawab.
Hanya membuka bukunya lagi.
"Aku masih kadang ngomong sendiri."
Raka terdiam sebentar.
"Hah?"
Aruna melirik.
"Cuma pelan."
Raka menghela napas.
"Serem juga."
Aruna tersenyum kecil.
Tidak membantah.
Pelajaran berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang berbeda.
Dan justru karena itu, Aruna mulai sadar sesuatu.
Ia tidak lagi merasa hari tanpa hujan itu kosong.
Masih ada sesuatu yang tertinggal.
Walaupun tidak selalu jelas bentuknya.
Bel istirahat berbunyi.
Sebagian siswa langsung keluar.
Raka berdiri.
"Kantin?"
Aruna mengangguk kali ini.
"Iya."
Mereka berjalan bersama.
Koridor ramai seperti biasa, suara langkah dan percakapan bercampur jadi satu.
Aruna berjalan di samping Raka, tidak terburu-buru.
Matanya sesekali melihat ke jendela.
Langit masih sama.
Belum turun.
Di kantin.
Aruna duduk, membuka bungkus makanannya.
Raka memperhatikannya sebentar.
"Lo masih nunggu hujan?"
Aruna tidak langsung menjawab.
Sendok di tangannya berhenti sebentar.
"Mungkin."
Raka menghela napas.
"Gue nggak ngerti sih, tapi ya udah."
Aruna tersenyum kecil.
"Aku juga nggak sepenuhnya ngerti."
Beberapa detik hening.
Suara kantin cukup ramai.