The Girl Who Only Exists When It Is Raining: And the Days I Waited for Her to Return

Lyneetra
Chapter #10

Episode 9 : The Things I Tried to Keep but the Details Quietly Shifting

Hari berikutnya datang tanpa hujan.

Langit cukup cerah, dengan awan tipis yang tidak cukup tebal untuk berubah jadi sesuatu. Cahaya masuk ke dalam kelas dengan stabil, tidak terlalu terang, tapi cukup untuk membuat semuanya terlihat jelas tanpa bayangan yang berlebihan.

Aruna duduk di tempatnya seperti biasa, membuka buku dan mulai menulis tanpa banyak jeda. Tangannya bergerak lebih konsisten dibanding beberapa hari lalu, seolah ia sudah menemukan kembali ritme yang sempat hilang. Tidak ada kalimat aneh atau potongan pikiran yang tertinggal setengah. Semuanya terlihat seperti catatan pelajaran biasa.

Sesekali, tanpa sadar, pandangannya bergeser ke samping.

Kursi itu kosong.

Ia tidak menatapnya lama, hanya cukup untuk memastikan, lalu kembali ke bukunya. Tidak ada perasaan mendesak, tidak juga rasa kehilangan yang berlebihan, hanya kebiasaan kecil yang belum sepenuhnya hilang.

"Lo lagi beneran fokus sekarang?"

Suara Raka datang dari samping, sedikit mencondongkan badan untuk melihat isi buku Aruna.

Aruna tidak langsung menutup bukunya, hanya melirik sebentar.

"Harusnya kelihatan begitu."

Raka memperhatikan beberapa detik, lalu mengangguk kecil.

"Lebih normal sih dibanding kemarin."

Aruna tersenyum tipis.

"Kemarin juga masih normal."

Raka mengangkat alis.

"Versi lo mungkin."

Aruna tidak membalas, hanya kembali menulis, membiarkan percakapan itu berhenti dengan sendirinya.

Pelajaran berjalan tanpa gangguan.

Waktu terasa lebih cepat saat tidak ada yang ditunggu secara langsung. Aruna menyadari itu, tapi tidak merasa perlu mengubah apa pun. Ia hanya mengikuti alurnya, dari satu halaman ke halaman berikutnya, tanpa memaksakan dirinya untuk tetap memikirkan hal yang sama seperti kemarin.

Namun di sela itu, ada satu hal kecil yang tetap muncul.

Bukan perasaan.

Lebih seperti kebiasaan yang tertinggal.

Bel istirahat berbunyi.

Sebagian siswa langsung berdiri dan keluar kelas. Raka ikut berdiri, mengambil tasnya dengan gerakan santai.

"Kantin?"

Aruna berhenti menulis sebentar, lalu mengangguk.

"Iya."

Mereka berjalan keluar bersama, melewati koridor yang cukup ramai. Suara langkah dan percakapan bercampur, membuat suasana terasa lebih hidup dibanding waktu hujan. Aruna memperhatikan itu tanpa benar-benar fokus, hanya menyadari perbedaan yang sudah mulai terasa biasa.

Di kantin, mereka duduk seperti biasa.

Aruna membuka makanannya tanpa banyak bicara, sementara Raka masih memperhatikannya dari seberang.

"Lo masih kepikiran hujan?"

Aruna tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu suapan terlebih dulu, lalu baru menoleh sedikit.

"Kadang."

Raka menyandarkan punggungnya.

"Kenapa sih."

Aruna mengangkat bahu ringan.

Lihat selengkapnya