Hari berikutnya datang dengan cara yang hampir sama seperti sebelumnya, tanpa hujan dan tanpa tanda bahwa sesuatu akan berubah dalam waktu dekat, dan Aruna menjalani pagi itu seperti rutinitas biasa tanpa perlu berpikir terlalu banyak tentang apa yang akan terjadi. Ia sampai di kelas, duduk, membuka buku, lalu mulai menulis dengan ritme yang sudah terasa lebih stabil, tidak lagi terganggu oleh jeda panjang atau pikiran yang terlalu jauh, seolah semuanya kembali ke jalur yang seharusnya.
Namun di balik itu, ada satu hal kecil yang tetap bertahan, bukan sebagai gangguan, tapi lebih seperti lapisan tipis yang tidak benar-benar terlihat, yaitu kesadaran bahwa ada sesuatu yang berjalan di luar kebiasaan normal, walaupun tidak selalu terasa setiap saat. Aruna tidak mencoba mencarinya, juga tidak berusaha menghindarinya, ia hanya membiarkan hal itu ada di belakang pikirannya sambil tetap fokus pada apa yang sedang ia lakukan.
Raka datang seperti biasa, menjatuhkan tasnya ke meja lalu duduk sambil melihat ke arah Aruna yang sudah lebih dulu membuka buku. "Lo sekarang jadi rajin banget," katanya dengan nada santai, dan Aruna hanya menjawab tanpa mengalihkan pandangannya, "Lagi pengen aja," seolah itu cukup untuk menjelaskan semuanya tanpa perlu ditambah alasan lain.
Pelajaran berjalan tanpa hambatan, suara guru terdengar jelas, dan Aruna mencatat seperlunya tanpa kesulitan, namun di tengah itu ada satu momen kecil ketika ia membaca kembali apa yang baru saja ia tulis dan merasa bahwa kalimat itu sedikit berbeda dari yang ia ingat beberapa detik sebelumnya, bukan salah atau berubah, hanya terasa seperti ia melihatnya dari jarak yang sedikit lebih jauh.
Ia tidak berhenti lama pada perasaan itu, hanya menyesuaikan diri dan melanjutkan, karena sejauh ini tidak ada yang benar-benar hilang, hanya sedikit bergeser.
Saat istirahat tiba, Aruna tetap di tempat untuk beberapa saat sebelum akhirnya berdiri dan keluar kelas, bukan karena ingin ke kantin atau bertemu seseorang, tapi hanya untuk berjalan sebentar tanpa tujuan yang jelas, seperti memberi ruang pada pikirannya untuk tetap tenang tanpa harus diisi.
Di koridor, suasana cukup ramai, tapi Aruna tidak terlalu memperhatikan, langkahnya tetap lurus sampai akhirnya ia berhenti di dekat jendela yang menghadap ke luar sekolah. Langit masih sama seperti pagi tadi, tidak gelap, tidak juga sepenuhnya terang, dan tidak ada tanda bahwa hujan akan turun dalam waktu dekat.
Ia berdiri di sana beberapa saat, tidak benar-benar menunggu, tapi juga tidak langsung pergi, seolah ada kebiasaan lama yang masih tersisa walaupun ia sudah mulai bisa berjalan tanpa mengandalkannya.
"Aku sekarang nggak nunggu… kan," ia berkata pelan pada dirinya sendiri, bukan sebagai pertanyaan, tapi lebih seperti memastikan sesuatu yang sudah ia pahami.
Jawabannya tidak perlu diucapkan.
Karena langkahnya tetap ringan saat ia kembali berjalan menuju kelas.
Setelah itu, waktu berjalan seperti biasa sampai pelajaran terakhir selesai, dan tidak ada hal yang benar-benar berubah sepanjang hari itu, setidaknya di permukaan. Aruna mengikuti semuanya tanpa kesulitan, berbicara seperlunya, menulis seperlunya, dan tidak ada momen di mana ia merasa harus berhenti lebih lama dari yang seharusnya.
Namun menjelang sore, saat ia kembali duduk di tempatnya setelah sebagian siswa mulai berkemas, ada satu kesadaran kecil yang muncul tanpa peringatan, yaitu bahwa hari itu terasa terlalu normal dibanding hari-hari sebelumnya, dan justru karena itu, ada sesuatu yang terasa sedikit tidak pas.
Ia menatap ke samping.
Kursi itu kosong seperti biasa.
Tidak ada yang berubah. Dan seharusnya, itu cukup.
Namun untuk beberapa detik, Aruna tetap melihat ke sana lebih lama dari biasanya, bukan karena berharap sesuatu muncul, tapi karena mencoba memastikan bahwa ia benar-benar sudah terbiasa dengan kondisi itu.
Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan, menutup bukunya dengan pelan, dan bersiap pulang tanpa menambahkan apa pun pada hari itu.
Semua terasa normal. Dan mungkin, itu yang mulai terasa aneh.
Masih di hari yang sama setelah bel pulang berbunyi, Aruna tidak langsung berdiri bersama yang lain, melainkan tetap duduk beberapa saat sambil memastikan tidak ada lagi yang tertinggal di mejanya, bukan hanya buku atau alat tulis, tapi juga sesuatu yang sejak tadi ia rasakan namun belum sepenuhnya bisa ia jelaskan. Kelas perlahan menjadi lebih sepi, suara langkah kaki dan percakapan menjauh ke koridor, hingga akhirnya hanya tersisa beberapa orang yang juga bersiap pulang tanpa banyak bicara, dan di tengah suasana itu, Aruna menoleh ke kursi di sampingnya sekali lagi, bukan karena berharap sesuatu akan muncul, tapi karena ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar sudah terbiasa melihatnya kosong tanpa harus berhenti terlalu lama.
Ia kemudian berdiri, memasukkan tas ke bahunya, lalu berjalan keluar kelas dengan langkah yang tidak terburu-buru, melewati koridor yang sudah jauh lebih lengang dibanding saat istirahat tadi. Cahaya sore masuk dari jendela-jendela besar, membuat bayangan di lantai terlihat lebih panjang, dan untuk beberapa detik, Aruna memperhatikan itu tanpa tujuan khusus, hanya menyadari bahwa hari itu berjalan terlalu normal sampai-sampai ia mulai mempertanyakan apakah sesuatu memang sedang berubah atau justru ia yang mulai menyesuaikan diri terlalu cepat.
Saat sampai di tangga, ia bertemu Raka yang sudah lebih dulu turun setengah lantai, lalu berhenti sebentar sambil menunggu Aruna menyusul. "Lo lama banget lagi," katanya sambil bersandar di pegangan tangga, dan Aruna hanya menjawab dengan nada ringan tanpa berhenti berjalan, "Nggak ada yang dikejar juga," yang terdengar sederhana, tapi cukup untuk menutup percakapan tanpa membuatnya terasa canggung. Raka memperhatikan sebentar sebelum akhirnya berjalan lagi, lalu menambahkan, "Sekarang lo kayak nggak terlalu mikirin itu lagi," dan Aruna tidak langsung menjawab, hanya mengangkat bahu sedikit seolah belum ingin memastikan apakah itu benar atau tidak.
Mereka keluar dari gedung sekolah dan berjalan menuju gerbang bersama, dengan suasana yang tidak terlalu ramai karena sebagian besar siswa sudah pulang lebih dulu. Langit masih berada di antara cerah dan mendung, tanpa tanda pasti apakah akan berubah dalam waktu dekat, dan Aruna sempat melihat ke atas sebentar sebelum kembali menatap jalan di depannya. "Kalau nanti hujan, lo bakal nunggu lagi?" Raka bertanya tanpa melihat langsung, dan Aruna menjawab setelah jeda singkat, "Iya, tapi nggak kayak dulu," yang kali ini terdengar lebih jelas, seolah ia mulai memahami cara menunggu tanpa harus kehilangan hal lain di sekitarnya.
Setelah berpisah di gerbang, Aruna melanjutkan jalan sendirian seperti biasa, dengan langkah yang stabil dan tidak terburu-buru, namun di tengah perjalanan itu, ia kembali merasakan sesuatu yang sama seperti di kelas tadi, yaitu perasaan bahwa ada bagian kecil dari pikirannya yang tidak lagi bergerak dengan cara yang sama. Ia tidak berhenti, hanya memperhatikan sambil tetap berjalan, mencoba memahami tanpa harus langsung menyimpulkan, sampai akhirnya satu hal sederhana muncul di benaknya.
"Tadi aku mikir apa ya."
Kalimat itu keluar pelan, hampir seperti kebiasaan baru yang mulai terbentuk, bukan karena ia benar-benar lupa sepenuhnya, tapi karena ada jarak kecil antara apa yang ia rasakan dan apa yang bisa ia tangkap dengan jelas. Ia tidak mencoba mengulang langkah atau memaksa ingatan itu kembali, melainkan hanya menerima bahwa hal seperti ini mungkin akan terus terjadi, setidaknya untuk sekarang.
Sesampainya di rumah, Aruna masuk seperti biasa tanpa banyak berpikir, meletakkan tasnya, lalu duduk sebentar sebelum akhirnya masuk ke kamar dan membuka bukunya kembali, bukan karena ada tugas atau pelajaran yang harus diselesaikan, tapi karena ia ingin memastikan satu hal yang sejak tadi terus terasa samar. Ia membuka halaman kosong, memegang pulpen, lalu menulis tanpa terlalu lama berpikir.
"Ada hal yang mulai berubah, tapi aku belum tahu bagian mana."
Ia berhenti sebentar setelah menulis kalimat itu, lalu menatapnya tanpa mencoba menambahkan apa pun, seolah kalimat tersebut sudah cukup untuk mewakili apa yang ia rasakan hari itu. Tidak ada kepanikan, tidak juga rasa mendesak untuk memahami semuanya sekaligus, hanya kesadaran bahwa perubahan itu ada dan sedang berjalan pelan.
Ia menutup bukunya dengan perlahan, lalu bersandar di kursi sambil melihat ke arah jendela kamar yang memperlihatkan langit sore yang mulai berubah warna. Tidak ada hujan, tidak ada suara yang menonjol, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia tidak merasa perlu menunggu sesuatu sebelum hari itu berakhir.
Namun tepat sebelum ia berdiri untuk meninggalkan meja, satu hal kecil kembali muncul, bukan sebagai ingatan yang jelas, tapi sebagai potongan yang hampir bisa ia tangkap.
"Hana… tadi aku mau nulis tentang Hana."
Aruna berhenti sebentar, mencoba melanjutkan kalimat itu di dalam pikirannya, namun bagian berikutnya tidak muncul dengan jelas, hanya terasa seperti sesuatu yang hampir ada tapi tidak cukup dekat untuk dipegang. Ia tidak melanjutkan, hanya menarik napas perlahan, lalu berdiri tanpa membawa perasaan itu lebih jauh.
Malam datang tanpa perubahan.
Dan untuk hari itu, Aruna membiarkan beberapa hal tetap tidak selesai, tanpa mencoba memaksanya kembali. Keesokan harinya datang dengan suasana yang hampir sama seperti hari sebelumnya, namun ada perbedaan kecil yang langsung terasa sejak pagi, yaitu langit yang tidak sepenuhnya cerah dan tidak juga benar-benar mendung, seolah berada di antara dua keadaan tanpa memilih salah satunya, dan hal itu cukup untuk membuat Aruna memperhatikannya sedikit lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya masuk ke kelas dan duduk di tempatnya seperti rutinitas yang sudah kembali ia jalani dengan lebih stabil.
Ia membuka buku, mulai menulis, dan untuk beberapa waktu benar-benar fokus tanpa gangguan, seolah pikirannya sudah tidak lagi mudah terpecah oleh hal-hal yang sebelumnya terasa begitu dekat. Namun tetap saja, di sela-sela itu, ada satu kebiasaan kecil yang belum sepenuhnya hilang, yaitu pandangannya yang sesekali bergerak ke samping, ke kursi yang tetap kosong tanpa perubahan. Kali ini ia tidak berhenti lama, hanya melihat sekilas lalu kembali ke bukunya, seperti seseorang yang sudah menerima sesuatu tanpa perlu terus memastikannya.
Raka datang tidak lama kemudian, duduk seperti biasa dan langsung melirik ke arah Aruna yang sudah lebih dulu menulis. "Lo makin serius aja sekarang," katanya dengan nada ringan, dan Aruna hanya menjawab tanpa mengangkat kepala, "Lagi kebiasa aja," yang terdengar sederhana, tapi cukup untuk menggambarkan bahwa perubahan itu memang terjadi tanpa ia sadari sepenuhnya. Raka mengangguk kecil, lalu tidak melanjutkan pertanyaannya, seolah merasa tidak perlu menggali lebih jauh.
Pelajaran berjalan dengan ritme yang stabil, dan Aruna mengikuti tanpa kesulitan, mencatat seperlunya dan sesekali membaca ulang apa yang ia tulis untuk memastikan semuanya masih masuk akal. Namun di tengah itu, ada satu momen ketika ia berhenti, bukan karena tidak tahu harus menulis apa, melainkan karena satu kalimat yang baru saja ia baca terasa sedikit berbeda dari yang ia ingat beberapa detik sebelumnya, bukan berubah, tapi seperti kehilangan sedikit kedekatannya.
Ia menatap kalimat itu lebih lama, lalu berkata pelan tanpa sadar, "Tadi aku nulis ini kan," dan meskipun jawabannya jelas, tetap ada jeda kecil sebelum ia benar-benar merasa yakin. Raka yang mendengar dari samping menoleh sedikit, lalu bertanya, "Kenapa?" dan Aruna hanya menggeleng ringan sambil kembali menulis, "Nggak apa-apa," karena memang tidak ada penjelasan yang bisa ia berikan selain perasaan itu sendiri.
Saat istirahat tiba, Aruna kali ini ikut berdiri dan keluar kelas bersama yang lain, tidak karena ingin melakukan sesuatu yang berbeda, tapi lebih karena ia merasa tidak perlu terus berada di tempat yang sama. Koridor cukup ramai, suara langkah dan percakapan bercampur, dan ia berjalan tanpa tujuan pasti sampai akhirnya berhenti di dekat jendela yang menghadap ke luar, melihat langit yang masih belum menunjukkan tanda pasti akan hujan.
Ia berdiri di sana beberapa saat, tidak benar-benar menunggu, tapi juga tidak langsung pergi, seolah ada bagian dari dirinya yang tetap memperhatikan kemungkinan itu tanpa harus berharap terlalu jauh. Tangannya bersandar di kusen jendela, dan tanpa sadar ia mencoba mengingat sesuatu yang terasa penting, namun lagi-lagi, bagian yang ingin ia tangkap tidak sepenuhnya muncul.
"Aku tadi… mau ingat apa ya," ia berkata pelan, dan kali ini ia tidak mencoba melanjutkan kalimat itu, hanya membiarkannya berhenti di sana tanpa merasa perlu memaksanya selesai.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kelas dan duduk di tempatnya, membuka buku, lalu melanjutkan menulis seperti sebelumnya, seolah tidak ada yang berubah. Namun di dalam dirinya, ada satu kesadaran yang mulai terasa lebih jelas dibanding sebelumnya, yaitu bahwa bukan hanya ingatan tentang Hana yang perlahan berubah, tapi juga cara ia mengingat sesuatu secara keseluruhan.
Saat pelajaran terakhir hampir selesai, langit di luar mulai berubah sedikit, awan yang sebelumnya tipis kini terlihat lebih tebal, dan cahaya yang masuk ke kelas mulai berkurang perlahan. Aruna memperhatikan itu dari tempat duduknya, tanpa berdiri atau mendekat ke jendela, hanya melihat dengan tenang seolah tidak ingin mengganggu sesuatu yang mungkin akan terjadi.
"Kayaknya bakal hujan," kata Raka dari samping, mengikuti arah pandangnya, dan Aruna hanya mengangguk pelan sebelum menjawab, "Iya," tanpa tambahan apa pun, namun kali ini ada sesuatu yang sedikit berbeda dari responsnya, yaitu tidak adanya dorongan untuk segera bersiap atau memastikan sesuatu.
Ia tetap duduk.
Tidak menghitung.
Tidak menunggu dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
Hanya ada di sana.
Beberapa detik berlalu sebelum tetes pertama akhirnya jatuh di kaca jendela, pelan dan hampir tidak terdengar, lalu disusul oleh tetesan lain yang perlahan menjadi lebih jelas. Suara hujan mulai mengisi ruangan, bercampur dengan suara kelas yang masih berjalan, dan Aruna melihat ke jendela sebentar sebelum akhirnya menoleh ke samping.
Kursi itu masih kosong.
Ia tidak bereaksi.
Hanya menunggu.
Beberapa detik.
Tanpa menghitung.