The Girl Who Only Exists When It Is Raining: And the Days I Waited for Her to Return

Lyneetra
Chapter #12

Episode 11 : The Things That Felt Closer, and the Distance I Didn't Notice

Hari berikutnya dimulai dengan langit yang sedikit lebih gelap dari biasanya, cukup untuk membuat Aruna melihat ke atas lebih lama sebelum masuk ke kelas, seolah tanpa sadar ia mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak terlalu ia pikirkan.

Ia duduk, membuka buku, lalu mulai menulis seperti biasa. Tangannya bergerak stabil, tidak terburu-buru, dan untuk beberapa saat ia benar-benar fokus pada apa yang ia kerjakan tanpa gangguan.

Namun setelah beberapa menit, pandangannya bergerak ke samping.

Kursi itu kosong.

Ia tidak langsung kembali ke bukunya.

Beberapa detik.

Lalu ia menarik napas kecil dan melanjutkan menulis.

"Lo lagi nunggu ya."

Suara Raka datang tanpa peringatan, membuat Aruna berhenti sebentar.

Ia tidak langsung menyangkal.

"Nggak juga."

Raka menatapnya dengan ekspresi setengah yakin.

"Tapi lo lihat ke situ terus."

Aruna melirik sebentar ke kursi di sampingnya, lalu kembali.

"Kebiasaan aja."

Raka mengangguk kecil.

"Berarti tetep nunggu."

Aruna tidak membalas, hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan tulisannya.

Pelajaran berjalan seperti biasa.

Suara guru terdengar stabil, dan Aruna mencatat seperlunya tanpa kesulitan. Namun di tengah itu, tangannya sempat berhenti saat ia membaca ulang satu kalimat yang baru saja ia tulis.

Kalimatnya benar.

Tidak ada yang salah.

Tapi terasa sedikit… jauh.

Ia tidak lama memikirkannya, hanya menyesuaikan lalu melanjutkan.

Bel istirahat berbunyi.

Sebagian siswa langsung keluar, termasuk Raka yang berdiri lebih dulu.

"Kantin?"

Aruna menutup bukunya setengah.

"Nanti."

Raka mengangkat bahu.

"Ya udah."

Ia pergi tanpa menunggu.

Aruna tetap duduk.

Tangannya membuka kembali halaman kosong di bagian belakang buku.

Ia melihat beberapa detik, lalu mulai menulis.

"Hana ngomongnya pelan."

Ia berhenti.

Menatap kalimat itu.

Lalu menambahkan di bawahnya.

"Lebih gampang diinget."

Tangannya berhenti lagi.

Aruna menatap tulisan itu lebih lama dari biasanya, seolah memastikan apakah kalimat itu masih terasa miliknya.

Beberapa detik.

Ia mengangguk kecil.

"Masih."

Ia menutup buku itu, lalu bersandar sebentar sebelum akhirnya berdiri dan keluar kelas.

Koridor tidak terlalu ramai.

Aruna berjalan tanpa tujuan jelas sampai akhirnya berhenti di dekat jendela.

Langit terlihat lebih gelap dari pagi tadi.

Awan mulai menebal.

Ia melihat ke sana cukup lama, tanpa mengatakan apa-apa.

"Kamu nunggu hujan?"

Suara itu datang dari samping.

Aruna menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia diam sebentar.

Lalu menggeleng kecil.

"Bukan nunggu."

Ia berkata pelan, lebih seperti memperbaiki kalimatnya sendiri.

"Aku cuma… di sini."

Jawaban itu terdengar cukup.

Ia tidak menambahkan apa pun.

Beberapa menit berlalu sebelum ia kembali ke kelas.

Ia duduk, membuka buku, dan melanjutkan menulis seperti biasa.

Namun kali ini, ada satu hal kecil yang terasa berbeda.

Ia tidak lagi melihat ke kursi di sampingnya sesering tadi.

Bukan karena lupa.

Tapi karena ia sudah tahu.

Sore mulai mendekat.

Langit semakin gelap.

Dan untuk pertama kalinya hari itu

Aruna tidak menoleh ke jendela saat tetes pertama jatuh.

Ia tetap menulis.

Sampai suara hujan cukup jelas.

Baru kemudian ia berhenti.

Menoleh.

Kursi itu masih kosong.

Ia tidak bereaksi.

Hanya menunggu.

Beberapa detik.

Lalu, Kursi itu bergeser secara pelan.

Hana sudah duduk di sana.

Seperti biasa.

Aruna menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil.

"Kamu datang."

Hana menatap balik.

"Aku datang."

Dan kali ini, Aruna tidak merasa perlu memastikan apa pun lagi.

Hujan masih turun dengan ritme yang stabil, tidak berubah sejak tadi. Aruna tetap duduk dengan posisi yang sama, tangannya di atas meja tanpa menulis, sementara sesekali ia melirik ke samping untuk memastikan Hana masih di sana tanpa perlu terlihat seperti sedang memastikan.

Beberapa saat berlalu tanpa percakapan, tapi suasananya tidak terasa kosong. Aruna bersandar sedikit, lalu menggeser pandangannya ke jendela sebelum kembali lagi.

"Kamu kalau hujan kayak gini, biasanya ngapain," tanya Aruna pelan sambil tetap menghadap ke depan.

Hana berpikir sebentar sebelum menjawab, "Duduk."

Aruna tersenyum kecil.

"Ya iya, maksudku selain itu."

Hana sedikit memiringkan kepala, lalu melihat ke luar.

"Aku lihat hujannya."

Aruna mengangguk pelan.

"Iya… sama sih."

Ia tidak menambahkan apa-apa, tapi kali ini ia tidak merasa perlu membuat percakapan tetap berjalan. Beberapa detik berlalu, lalu ia menggeser sedikit kursinya, tanpa sadar mendekat beberapa centimeter.

Tidak terlalu terlihat, tapi cukup untuk mengubah jarak.

Hana melirik sebentar, tapi tidak mengatakan apa pun.

"Kamu selalu duduk di sini ya," lanjut Aruna setelah beberapa saat, nadanya lebih seperti memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia tahu.

Hana mengangguk.

"Iya."

Aruna menatap meja sebentar.

"Berarti kalau aku pindah tempat duduk… kamu bakal ikut pindah juga?"

Lihat selengkapnya