Keesokan harinya, Aruna datang lebih pagi dari biasanya tanpa benar-benar memikirkan alasannya. Langit masih tertutup awan tipis, cukup untuk membuat cahaya terasa lebih redup, dan ia sempat berhenti beberapa detik di depan kelas sebelum masuk, seperti memastikan sesuatu yang tidak benar-benar ia tunggu.
Ia duduk di tempatnya, membuka buku, lalu mulai menulis seperti biasa. Tangannya bergerak stabil, tidak terburu-buru, dan untuk beberapa menit semuanya terasa normal tanpa gangguan. Namun di tengah itu, pandangannya bergerak ke samping secara otomatis, lalu kembali lagi ke buku sebelum sempat berhenti lama.
Kursi itu kosong.
Ia tidak menatapnya lagi.
Tangannya terus menulis, seolah tidak ada yang berubah.
Raka datang tidak lama kemudian dan langsung duduk sambil menjatuhkan tasnya ke meja. "Lo makin pagi sekarang," katanya sambil membuka botol minum. Aruna hanya menjawab singkat tanpa mengangkat kepala. "Kebangun aja." Raka melirik sebentar, lalu mengangguk kecil tanpa melanjutkan.
Pelajaran dimulai seperti biasa. Suara guru terdengar jelas, dan Aruna mencatat seperlunya tanpa kesulitan. Namun saat ia membaca ulang satu kalimat yang baru saja ia tulis, tangannya berhenti sebentar karena kalimat itu terasa sedikit berbeda dari yang ia ingat beberapa detik sebelumnya. Bukan salah, hanya terasa seperti tidak sepenuhnya dekat.
Ia tidak lama memikirkan itu, hanya menyesuaikan lalu melanjutkan menulis.
Waktu berjalan tanpa terasa sampai bel istirahat berbunyi. Raka langsung berdiri dan melirik ke arah Aruna. "Kantin?" Aruna menutup bukunya setengah, lalu mengangguk. "Iya."
Mereka berjalan keluar bersama, melewati koridor yang mulai ramai. Suara percakapan bercampur dengan langkah kaki, dan Aruna berjalan tanpa terlalu memperhatikan sekitar sampai akhirnya mereka duduk di salah satu meja kosong.
Raka membuka bungkus makanannya lebih dulu. "Sekarang lo kelihatan lebih normal," katanya sambil mulai makan. Aruna menoleh sedikit. "Kemarin juga normal." Raka tertawa kecil. "Versi lo aja itu."
Aruna tidak membalas, hanya mengambil makanannya dan mulai makan pelan. Beberapa detik berlalu sebelum Raka kembali bicara. "Hujan lagi nanti?" Aruna berhenti sebentar, lalu mengangkat bahu ringan. "Nggak tahu."
Raka menatapnya beberapa detik. "Tapi kalau hujan, lo bakal nunggu lagi kan." Aruna tidak langsung menjawab. Ia melihat ke meja, lalu berkata pelan, "Iya."
Jawaban itu keluar tanpa banyak pertimbangan.
Setelah makan, mereka kembali ke kelas. Langit di luar masih sama, tidak ada tanda hujan akan turun dalam waktu dekat. Aruna duduk kembali di tempatnya, membuka buku, lalu menatap halaman kosong tanpa langsung menulis.
Tangannya memegang pulpen, tapi tidak bergerak.
Beberapa detik.
Lalu ia mulai menulis.
"Ada hal yang harus aku ingat hari ini."
Ia berhenti setelah satu baris, lalu menatap tulisan itu lebih lama dari biasanya, seolah mencoba memastikan apakah kalimat itu benar-benar punya arti yang jelas.
Ia tidak menambahkan apa pun.
Hanya membiarkannya seperti itu.
Pelajaran berlanjut, dan waktu bergerak perlahan menuju sore. Suasana kelas mulai lebih tenang, sebagian siswa terlihat lelah, sementara cahaya dari jendela mulai berkurang sedikit demi sedikit.
Aruna duduk dengan posisi yang sama, menulis seperlunya, lalu berhenti saat menyadari sesuatu.
Ia belum melihat ke samping sejak tadi.
Ia tidak langsung menoleh.
Hanya menyadarinya.
Beberapa detik.
Lalu perlahan, ia menoleh.
Kursi itu masih kosong.
Ia melihatnya sebentar, lalu kembali ke depan tanpa perubahan.
Tangannya kembali bergerak di atas kertas.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu memastikan lebih dari itu.
Setelah jam terakhir dimulai, suasana kelas terasa lebih tenang dari biasanya, sebagian siswa mulai kehilangan fokus sementara suara guru tetap berjalan dengan ritme yang sama. Aruna duduk di tempatnya, menulis seperlunya tanpa terburu-buru, lalu sesekali berhenti untuk membaca ulang apa yang baru saja ia tulis, bukan karena ragu, tapi karena ingin memastikan semuanya masih terasa cukup jelas untuk dipahami.
Beberapa menit berlalu sampai tangannya kembali berhenti, kali ini bukan karena kalimatnya terasa salah, melainkan karena ia tidak langsung ingat kenapa ia menulis bagian itu. Ia melihat tulisan tersebut lebih lama, mencoba mengingat konteksnya, lalu menghela napas kecil sebelum melanjutkan, seolah memutuskan bahwa tidak semua hal harus diingat secara utuh.
Di sampingnya, kursi itu masih kosong.
Ia tidak menoleh lagi.
Bel pulang akhirnya berbunyi, dan kelas langsung berubah jadi lebih ramai. Aruna menutup bukunya pelan, memasukkan ke dalam tas tanpa terburu-buru, lalu berdiri bersama yang lain. Raka menepuk mejanya ringan sambil berkata, "Langsung pulang?" dan Aruna mengangguk. "Iya."
Mereka berjalan keluar kelas bersama, melewati koridor yang mulai padat, lalu turun tangga tanpa banyak bicara. Saat sampai di dekat gerbang, Raka berhenti sebentar. "Besok kalau hujan, kabarin gue," katanya sambil tersenyum setengah bercanda. Aruna menoleh sedikit. "Buat apa?" Raka mengangkat bahu. "Pengen lihat aja lo berubah lagi atau nggak."
Aruna tersenyum kecil.