The Girl Who Only Exists When It Is Raining: And the Days I Waited for Her to Return

Lyneetra
Chapter #14

Episode 13 : On Days I Almost Forgot You, the Rain Still Remembered First

Hujan turun lebih stabil dibanding kemarin, tidak terlalu deras, tapi cukup untuk memenuhi suara di dalam kelas. Aruna duduk seperti biasa, bukunya terbuka, tapi tangannya tidak langsung menulis. Ia hanya melihat halaman itu beberapa detik sebelum akhirnya menutupnya setengah, seolah tidak ingin mengisi sesuatu terlalu cepat.

Di sampingnya, Hana sudah ada sejak beberapa saat lalu. Ia tidak langsung menyapanya, hanya menyadari kehadirannya tanpa perlu memastikan lagi seperti sebelumnya.

"Kamu datang lebih cepat hari ini," kata Aruna pelan sambil tetap melihat ke depan.

Hana sedikit menoleh. "Mungkin."

Aruna tersenyum kecil.

"Iya, mungkin."

Ia tidak mencoba memperjelas.

Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Suara hujan terasa cukup untuk mengisi ruang di antara mereka, dan kali ini Aruna tidak merasa perlu mencari topik seperti dulu.

Ia menggeser tangannya sedikit di atas meja, tanpa sadar mendekat ke arah Hana. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk terasa berbeda dari hari-hari awal.

"Kamu kalau duduk di sini terus," lanjut Aruna, "nggak capek?"

Hana melihat ke meja sebentar sebelum menjawab, "Tidak."

Aruna mengangguk.

"Aku juga mulai nggak capek."

Hana meliriknya.

"Bukan duduknya."

Aruna menatap ke depan.

"Nunggunya."

Hana tidak langsung membalas. Ia hanya melihat ke arah jendela, mengikuti suara hujan yang masih turun dengan ritme yang sama.

Aruna tidak melanjutkan, tapi kali ini ia tidak mengalihkan pembicaraan juga. Ia membiarkan kalimat itu tetap ada tanpa ditutup.

Beberapa saat kemudian, ia membuka kembali bukunya, menatap halaman kosong yang tadi belum ia isi. Pulpen di tangannya tidak langsung bergerak, seolah ia menunggu sesuatu muncul tanpa perlu dipaksa.

"Aku tadi nulis sesuatu lagi," katanya pelan.

Hana menoleh.

"Tapi kayaknya sekarang aku lupa sebagian."

Hana memperhatikannya beberapa detik.

Aruna tersenyum kecil, tidak terlihat terganggu.

"Bukan hilang," lanjutnya, "cuma nggak langsung ketemu."

Hana tidak memberi jawaban cepat. Ia terlihat seperti memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berkata, "Kalau begitu, kamu biasanya nunggu atau lanjut."

Aruna berpikir sebentar.

"Kadang nunggu," jawabnya, "kadang lanjut."

Ia berhenti.

"Tapi kalau sama kamu, aku lebih sering nunggu."

Hana menatapnya lebih lama dari biasanya.

Aruna tidak mengalihkan pandangan.

Ia tidak terlihat ingin menarik kembali kalimat itu.

Beberapa detik berlalu sebelum Hana berkata pelan, "Kenapa."

Aruna menghela napas ringan.

"Karena kalau aku lanjut, kadang aku lupa kenapa aku mulai."

Hana tidak langsung menjawab.

Aruna melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, "Tapi kalau aku nunggu… biasanya balik sendiri."

Hana mengangguk kecil.

"Berarti kamu percaya."

Aruna tersenyum tipis.

"Iya."

Ia tidak menambahkan apa pun.

Hujan di luar masih turun, tidak berubah, dan untuk beberapa saat, mereka hanya duduk tanpa bicara, membiarkan waktu berjalan dengan cara yang terasa lebih lambat dari biasanya.

Aruna akhirnya berkata lagi, lebih pelan dari sebelumnya, "Aku mulai kebiasa ada kamu di sini."

Hana menoleh.

Aruna melanjutkan tanpa terburu-buru, "Bukan yang aneh, cuma… kalau nggak ada, rasanya beda sedikit."

Hana tidak langsung menjawab.

Ia hanya melihatnya, lalu berkata pelan, "Itu berubah."

Aruna mengangguk.

"Iya."

Ia tidak menyangkal.

Tangannya bergerak sedikit, lalu berhenti di atas meja, jaraknya kembali cukup dekat dengan Hana, tapi tetap tanpa menyentuh.

Ia tidak menariknya.

Dan kali ini, ia juga tidak merasa perlu.

Hujan masih turun dengan ritme yang sama, cukup untuk membuat suara di luar terdengar lebih lembut dibanding biasanya. Aruna tetap duduk di tempatnya, bukunya terbuka tapi tidak ia isi, sementara perhatiannya lebih sering bergerak ke arah Hana tanpa terlihat seperti sedang memastikan sesuatu.

Beberapa saat berlalu tanpa percakapan, lalu Aruna sedikit menggeser posisi duduknya, membuat jarak di antara mereka terasa lebih dekat dari sebelumnya tanpa perlu disadari.

"Kamu pernah kepikiran nggak," katanya pelan sambil melihat ke depan, "kalau suatu hari aku nggak nanya apa-apa."

Hana menoleh sedikit.

"Maksudnya."

Aruna berpikir sebentar sebelum menjawab, "Kayak hari ini, aku nggak banyak nanya."

Hana melihatnya beberapa detik.

"Itu tidak masalah."

Aruna mengangguk kecil.

"Iya, aku juga ngerasa gitu."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Dulu aku kayak harus terus nanya, biar nggak hilang."

Hana tidak langsung menjawab.

Aruna melanjutkan, "Sekarang aku nggak yakin itu ngaruh."

Hana melihat ke arah jendela, memperhatikan hujan yang masih turun.

"Mungkin bukan pertanyaannya," katanya pelan, "tapi waktunya."

Aruna menoleh sedikit.

"Waktunya."

Hana mengangguk kecil.

Aruna mengulang pelan, "Berarti selama waktunya ada… harusnya cukup."

Hana tidak menjawab langsung, tapi tidak menyangkal.

Beberapa detik berlalu, dan kali ini Aruna tidak mencoba mengisi jeda itu. Ia hanya duduk, membiarkan suasana tetap seperti itu tanpa perlu ditambah.

Tangannya bergerak sedikit di atas meja, lalu tanpa sadar ia mendekat lagi, jaraknya kini hampir bersentuhan dengan tangan Hana.

Ia berhenti di sana.

Tidak menarik.

Tidak juga menyentuh.

"Kamu kalau aku lupa lagi," kata Aruna setelah beberapa saat, suaranya tetap ringan, "kamu bakal jawab hal yang sama nggak."

Hana berpikir sebentar.

"Tergantung."

Aruna menoleh.

"Tergantung apa."

Hana melihatnya.

"Kamu nanya dengan cara yang sama atau tidak."

Lihat selengkapnya