Keesokan harinya, langit masih tertutup awan yang tidak benar-benar gelap, tapi cukup untuk membuat cahaya terasa lebih lembut sejak pagi. Aruna masuk ke kelas tanpa berhenti, langsung duduk lalu membuka buku dengan gerakan yang sudah terasa biasa, dan mulai menulis tanpa banyak jeda seperti hari-hari sebelumnya.
Beberapa menit berlalu sebelum pandangannya bergerak ke samping secara otomatis, lalu kembali ke buku tanpa berhenti lama, seolah kebiasaan itu masih ada meskipun tidak lagi terasa mendesak. Ia tidak menoleh lagi setelah itu, hanya melanjutkan tulisannya dengan ritme yang stabil.
Raka datang dan duduk sambil menjatuhkan tasnya ke meja, lalu melirik ke arah Aruna. "Lo sekarang lebih tenang," katanya sambil membuka buku. Aruna menjawab tanpa mengangkat kepala. "Lebih gampang kalau nggak dipikirin terus." Raka mengangguk kecil, lalu tidak melanjutkan.
Pelajaran berjalan tanpa gangguan. Aruna mencatat seperlunya, lalu berhenti sesekali untuk membaca ulang, memastikan semuanya masih terasa cukup dekat untuk dipahami. Namun di tengah itu, ada satu momen ketika ia menatap tulisannya sedikit lebih lama karena tidak langsung ingat kenapa ia menulis bagian itu, dan setelah beberapa detik, ia hanya melanjutkan tanpa mencoba mengingat kembali.
Saat istirahat tiba, Aruna tidak langsung berdiri. Ia menutup bukunya setengah, lalu menatap halaman kosong beberapa detik sebelum akhirnya bangkit dan keluar kelas. Koridor cukup ramai, tapi ia berjalan tanpa memperhatikan sekitar sampai berhenti di dekat jendela seperti biasanya.
Langit terlihat sedikit lebih gelap dibanding pagi tadi.
Ia berdiri di sana, lalu berkata pelan, "Hari ini bakal hujan lagi nggak."
Kalimat itu keluar tanpa tujuan.
Ia tidak menunggu jawaban.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kelas dan duduk di tempatnya. Buku dibuka, pulpen dipegang, tapi tangannya tidak langsung menulis. Ia hanya melihat halaman kosong, lalu akhirnya menulis satu kalimat.
"Ada yang mulai berubah, tapi aku masih di sini."
Ia berhenti setelah itu, menatap tulisannya beberapa detik, lalu menutup bukunya tanpa menambah apa pun.
Pelajaran berlanjut sampai sore mulai mendekat. Cahaya dari jendela perlahan berkurang, membuat suasana kelas terasa lebih tenang dari sebelumnya.
Aruna duduk dengan posisi yang sama, tidak menulis, tidak juga berbicara. Ia hanya menunggu tanpa benar-benar merasa sedang menunggu.
Tetes pertama akhirnya jatuh.
Suara hujan mulai terdengar pelan di jendela.
Aruna tidak langsung menoleh.
Beberapa detik berlalu.
Baru kemudian ia melihat ke samping.
Kursi itu masih kosong.
Ia tidak bereaksi.
Hanya menunggu.
Beberapa detik lagi.
Lalu kursi itu bergerak pelan.
Hana sudah duduk di sana.
Seperti biasa.
Aruna menatapnya sebentar, lalu berkata pelan, "Hari ini kamu nggak telat."
Hana melihatnya.
"Tidak."
Aruna mengangguk kecil.
"Iya."
Ia tidak menambahkan apa pun.
Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.
Namun kali ini, diam di antara mereka terasa lebih penuh dari sebelumnya, seolah ada banyak hal yang tidak perlu diucapkan untuk tetap ada.
Hujan turun lebih stabil, suaranya cukup untuk menutup percakapan di sekitar tanpa membuat ruangan terasa bising. Aruna tetap duduk menghadap ke depan, tangannya berada di atas meja tanpa menulis, sementara sesekali ia melirik ke samping tanpa terlihat seperti sedang mencari reaksi.
Beberapa saat berlalu sebelum ia berkata pelan, "Aku tadi nulis sesuatu lagi," sambil membuka bukunya setengah. Hana menoleh sedikit. "Tentang apa." Aruna melihat halaman itu sebentar, lalu menjawab, "Nggak terlalu jelas," dan ia tersenyum kecil seolah tidak masalah jika kalimat itu tidak lengkap.
Ia menggeser buku itu sedikit lebih dekat ke arah Hana tanpa benar-benar menunjukkannya, lalu berkata, "Aku nulis kalau ada yang berubah, tapi aku masih di sini," dan setelah itu ia menutup bukunya lagi tanpa menunggu tanggapan.
Hana memperhatikannya beberapa detik sebelum berkata pelan, "Kamu sering menulis sekarang." Aruna mengangguk kecil. "Lebih gampang dari pada nyoba inget terus," jawabnya sambil melihat ke depan.
Beberapa detik berlalu. Hujan tetap turun tanpa perubahan.
"Kamu kalau lihat aku," lanjut Aruna, "rasanya masih sama nggak."
Hana tidak langsung menjawab. Ia melihat Aruna lebih lama dari biasanya, lalu berkata, "Masih."
Aruna menarik napas ringan.
"Bagus."
Ia tidak menjelaskan lebih jauh, tapi dari cara ia bersandar sedikit ke kursi, terlihat kalau jawaban itu cukup untuknya.
Tangannya bergerak pelan di atas meja, lalu berhenti tidak jauh dari tangan Hana. Jaraknya tidak terlalu dekat, tapi juga tidak seperti sebelumnya yang selalu ada jarak jelas di antara mereka.
Ia tidak mengubah posisi itu.
"Kamu pernah ngerasa beda," tanya Aruna lagi, kali ini suaranya lebih pelan, "antara hari ini sama kemarin."
Hana melihat ke jendela sebentar sebelum menjawab, "Ada."
Aruna menoleh.
"Apa."
Hana berpikir beberapa detik.
"Kamu lebih diam."
Aruna tersenyum kecil.
"Iya."
Ia mengangguk pelan.
"Soalnya kalau aku banyak ngomong, kadang aku lupa sendiri."
Hana tidak langsung membalas.
Aruna melanjutkan, "Kalau aku diam, rasanya lebih gampang ngikutin."
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Walaupun nggak semua jelas."
Hana melihatnya.
"Itu cukup."
Aruna mengangguk.
"Iya."
Ia tidak mencoba menambah atau menjelaskan lagi.
Hujan di luar mulai berubah sedikit, jaraknya tidak serapat tadi, tapi belum menunjukkan tanda akan berhenti. Aruna memperhatikan itu tanpa langsung menoleh, hanya menyadarinya dari suara yang berubah.
"Kamu kalau nanti hilang," katanya pelan, "aku bakal inget bagian mana dulu ya."
Hana tidak langsung menjawab.
Aruna tersenyum tipis.
"Mungkin yang paling sering."
Hana menatapnya.
"Atau yang terakhir."
Aruna mengangkat bahu ringan.
"Bisa juga."
Ia berhenti sebentar, lalu berkata lagi, "Tapi biasanya yang terakhir cepat hilang."
Hana tidak menyangkal.
Aruna melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, "Jadi aku nggak terlalu ngandelin itu lagi."
Hana memperhatikannya beberapa detik.
"Lalu."
Aruna melihat ke depan.
"Aku ngandelin yang kebiasaan."
Ia berhenti.
"Yang nggak perlu diinget, tapi tetap ada."
Hana tidak langsung menjawab, tapi dari caranya tetap melihat Aruna tanpa berpaling, terasa kalau ia memahami maksudnya.
Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.
Aruna menggeser tangannya sedikit, kali ini cukup dekat sampai punggung jarinya hampir menyentuh tangan Hana, tapi ia berhenti di sana tanpa melanjutkan.
Ia tidak menariknya.
Tidak juga menyentuh.
"Kamu tetap sama," katanya pelan.
Hana menoleh.
Aruna melanjutkan, "Walaupun aku nggak selalu inget, rasanya kamu nggak berubah."
Hana melihatnya beberapa detik sebelum berkata, "Kamu juga."
Aruna sedikit mengernyit.
"Aku."
Hana mengangguk kecil.
"Walaupun kamu bilang berubah."
Aruna tersenyum tipis.
"Iya."
Ia tidak membantah.
Hujan semakin ringan.
Suara di luar perlahan berubah.
Aruna menoleh ke jendela, lalu kembali.
"Sebentar lagi," katanya pelan.