The Girl Who Only Exists When It Is Raining: And the Days I Waited for Her to Return

Lyneetra
Chapter #16

Episode 15 : The Pattern That Almost Forms, And Things That Start To Slip

Masih di hari yang sama, setelah Aruna menutup buku kecilnya dan membiarkannya di atas meja, kamar terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena tidak ada suara, tapi karena tidak ada sesuatu yang ia tunggu.

Ia duduk cukup lama tanpa bergerak. Pandangannya beberapa kali jatuh ke buku itu, lalu kembali ke lantai. Seolah ada dorongan kecil untuk membuka lagi, tapi tidak cukup kuat untuk membuatnya langsung bergerak.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya tangannya bergerak.

Ia membuka buku itu lagi, perlahan, tidak terburu-buru. Halaman yang sama masih terbuka, dengan tulisan yang ia buat sebelumnya.

“Aku tahu dia datang, tapi aku tidak tahu kapan.”

“Ada pola yang aku belum ngerti.”

Aruna menatap kalimat kedua cukup lama.

Alisnya sedikit berkerut.

Lalu, tanpa banyak berpikir, ia menggeser pulpen ke tangannya. Ujungnya menyentuh kertas, tapi tidak langsung menulis.

“Ada pola…”

Ia mengulang pelan, hampir tidak terdengar.

Namun kali ini, ia tidak melanjutkan kalimat itu.

Tangannya bergerak, lalu ia mencoret kata terakhir.

Pelan.

Tidak sampai menghilangkan sepenuhnya, tapi cukup untuk membuatnya tidak lagi terbaca jelas.

Ia menarik nafas ringan.

Seolah kata itu terasa terlalu jauh untuk dipahami.

Setelah itu, ia menulis ulang di bawahnya.

“Ada sesuatu yang berulang.”

Pulpen berhenti.

Ia menatap kalimat baru itu beberapa detik, lalu menambahkan satu baris lagi.

“Hujannya nggak selalu sama.”

Tangannya tidak langsung bergerak lagi.

Namun kali ini, pikirannya terasa sedikit lebih terarah.

Ia menambahkan satu kalimat lagi, lebih pelan.

“Tapi dia tetap datang.”

Pulpen berhenti.

Aruna menatap tiga kalimat itu dalam diam.

Tidak ada yang terasa sepenuhnya jelas.

Tapi juga tidak lagi terasa kosong.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, membiarkan pulpen tetap di tangannya tanpa digunakan.

Pandangannya naik ke langit-langit.

“Hujan beda… tapi dia tetap ada…”

Ia bergumam pelan.

Seolah mencoba mendengar ulang kalimatnya sendiri.

Beberapa detik berlalu.

Lalu satu hal muncul.

Bukan jawaban.

Tapi arah.

Kalau sesuatu terus berulang, pasti ada bagian yang bisa diperhatikan.

Ia tidak tahu bagian mana.

Tapi kali ini, ia tidak hanya menunggu.

Ia mulai memperhatikan.

Aruna menutup buku itu perlahan, lalu meletakkannya kembali di meja.

Tangannya masih berada di atasnya beberapa detik sebelum akhirnya ditarik.

Ia tidak langsung berdiri.

Tidak juga kembali ke buku pelajaran.

Ia hanya duduk.

Membiarkan pikirannya bergerak sendiri.

Malam berjalan tanpa perubahan berarti.

Aruna akhirnya membuka buku pelajaran, menulis seperlunya, lalu berhenti sesekali untuk membaca ulang.

Namun kali ini, setiap jeda terasa berbeda.

Setiap kali tangannya berhenti, pikirannya kembali ke hal yang sama.

Bukan lagi sekadar mengingat.

Tapi mencoba memahami dari hal-hal kecil.

Kapan hujan turun.

Seberapa lama.

Bagaimana rasanya saat dia muncul.

Hal-hal yang sebelumnya ia biarkan lewat, sekarang terasa sedikit lebih penting.

Ia tidak terburu-buru.

Tidak juga memaksakan.

Ia hanya… tidak lagi mengabaikan.

Keesokan harinya, langit terlihat lebih terang.

Tidak ada tanda hujan sejak pagi.

Cahaya masuk ke kelas dengan lebih jelas dari hari sebelumnya.

Aruna duduk seperti biasa.

Buku terbuka.

Pulpen di tangan.

Namun sebelum mulai menulis, pandangannya sempat bergerak ke samping.

Kursi itu kosong.

Ia tidak menatap lama.

Hanya satu detik.

Lalu kembali ke bukunya.

Tangannya mulai menulis, meskipun tidak sepenuhnya fokus. Beberapa kali ia membaca ulang bagian yang sama, seolah tidak langsung masuk.

Di tengah itu, Raka datang dan duduk di tempatnya.

Tas dijatuhkan pelan ke meja.

“Lo kelihatan lagi mikir,” katanya sambil membuka buku.

Aruna tidak langsung menjawab.

Pulpen masih bergerak beberapa detik sebelum berhenti.

“Sedikit,” jawabnya pelan.

Raka melirik.

“Masih soal yang kemarin?”

Aruna mengangguk kecil.

“Iya.”

Raka membuka bukunya, lalu bersandar sedikit.

“Udah dapat jawabannya?”

Aruna melihat tulisannya sebentar.

“Belum.”

Ia berhenti, lalu menambahkan pelan,

“Tapi sekarang nggak terlalu bingung.”

Raka mengangkat alis sedikit.

“Maksudnya?”

Aruna tidak langsung menjelaskan.

Ia menutup bukunya setengah, lalu menyandarkan siku ke meja.

“Kayak… ada hal yang sama terus,” katanya pelan.

“Tapi aku belum tahu bagian mana yang penting.”

Raka mengangguk kecil.

“Ya pelan-pelan aja.”

Aruna tersenyum tipis.

“Iya.”

Percakapan berhenti di sana.

Namun kali ini, diam di antara mereka terasa lebih ringan.

Bukan karena tidak ada yang dipikirkan.

Tapi karena Aruna tidak lagi merasa kehilangan arah sepenuhnya.

Hari berjalan seperti biasa.

Tanpa hujan.

Tanpa Hana.

Namun ada satu hal yang berubah.

Aruna tidak lagi merasa hari itu kosong sepenuhnya.

Ada sesuatu yang tetap bergerak.

Pelan.

Tapi ada.

Saat istirahat, ia berdiri di dekat jendela seperti biasa.

Langit cerah, hanya beberapa awan tipis yang bergerak pelan.

Ia menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Kalau hari ini nggak hujan…”

Kalimat itu berhenti di tengah.

Ia tidak melanjutkan.

Tangannya bergerak ke saku, mengambil buku kecil itu lagi.

Ia membukanya.

Halaman yang sama.

Tulisan yang baru.

Ia menambahkan satu kalimat lagi.

“Aku masih nunggu, tapi nggak buru-buru.”

Pulpen berhenti.

Ia menatap kalimat itu cukup lama.

Seolah mencoba memastikan apakah itu benar.

Lalu menutup bukunya.

Tanpa menambahkan apa pun lagi.

Sore datang tanpa perubahan berarti.

Aruna berjalan pulang seperti biasa.

Langkahnya stabil, tidak cepat, tidak juga lambat.

Jalanan kering.

Udara terasa lebih hangat.

Namun di tengah perjalanan, ia tiba-tiba berhenti.

Bukan karena sesuatu di depan.

Lebih karena sesuatu yang muncul di dalam pikirannya.

Ia mencoba mengingat.

Bukan semuanya.

Hanya hal kecil.

Cara Hana memanggil.

Cara dia melihat.

Cara dia menjawab.

Tangannya sedikit mengepal.

Beberapa detik berlalu.

Cukup untuk membuatnya sadar.

Ada bagian yang tidak bisa ia tangkap lagi dengan jelas.

Bukan hilang sepenuhnya.

Tapi seperti kabur.

Aruna mengerutkan dahi sedikit.

Ia tidak panik.

Tapi kali ini, ia tidak langsung mengabaikannya.

Tangannya bergerak ke saku.

Mengambil buku kecil itu.

Membukanya.

Namun sebelum menulis, ia melihat kembali halaman yang sudah ada.

“Ada sesuatu yang berulang.”

“Hujannya nggak selalu sama.”

“Tapi dia tetap datang.”

Aruna menarik nafas pelan.

Lalu menulis satu kalimat baru.

“Aku mulai lupa bagian kecil.”

Pulpen berhenti.

Ia menatap tulisan itu beberapa detik.

Lalu menambahkan satu baris lagi.

“Tapi rasanya masih sama.”

Tangannya tidak bergerak lagi.

Ia menutup buku itu perlahan.

Namun kali ini, ia tidak langsung menyimpannya.

Ia hanya memegangnya sebentar.

Seolah memastikan sesuatu masih ada.

Malam datang.

Kamar kembali tenang.

Aruna duduk di meja, buku pelajaran terbuka.

Ia menulis.

Berhenti.

Membaca ulang.

Lalu menulis lagi.

Namun di antara itu, pikirannya kembali ke satu hal.

Kalau hal kecil mulai hilang…

sampai mana ia bisa mengingat.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.

Matanya tertutup sebentar.

“Apa ada batasnya…”

Kalimat itu keluar pelan.

Tidak selesai.

Ia membuka mata lagi.

Pandangannya jatuh ke buku kecil di meja.

Tangannya bergerak.

Mengambilnya.

Membuka halaman baru.

Ia menulis satu kalimat.

“Apa aku bisa terus ingat.”

Pulpen berhenti.

Ia menatap tulisan itu cukup lama.

Tidak menambahkan apapun lagi.

Lalu menutup buku itu.

Kali ini, ia tidak menyimpannya.

Ia membiarkannya tetap di atas meja.

Seolah ingin memastikan bahwa besok, ia tidak perlu mencari lagi.

Malam berjalan tanpa hujan.

Tanpa Hana.

Namun untuk pertama kalinya, rasa menunggu itu tidak terasa kosong.

Lebih seperti sesuatu yang sedang disusun.

Pelan.

Dan belum selesai.

Di tempat tidurnya, sebelum tidur, Aruna menatap langit-langit dengan pandangan yang sedikit lebih tenang.

Bukan karena semua sudah jelas.

Justru karena ia mulai menerima bahwa tidak semuanya harus jelas sekarang.

Ia tidak mencoba menjawab.

Tidak juga memaksa.

Ia hanya membiarkannya tetap ada.

Seperti hujan yang belum turun.

Tapi pasti akan datang.

Aruna menutup mata perlahan.

Dan satu hal terakhir muncul.

Bukan sebagai ingatan yang jelas.

Lebih seperti rasa yang tersisa.

Cara Hana berbicara tanpa terburu-buru.

Ia tidak mencoba menangkapnya.

Ia membiarkannya lewat.

Lalu pelan-pelan, ia tertidur.

Tanpa jawaban.

Tapi tidak lagi benar-benar kosong.

Keesokan harinya, masih di pagi yang sama cerahnya seperti kemarin, Aruna masuk ke kelas tanpa berhenti di mana pun. Langkahnya tenang, tidak tergesa, lalu ia langsung duduk dan membuka buku seperti biasa.

Pulpen sudah di tangan, tapi ia tidak langsung menulis.

Pandangannya sempat bergerak ke samping.

Kursi itu tetap kosong.

Ia tidak menatap lama, hanya cukup untuk memastikan, lalu kembali ke bukunya.

Tangannya mulai menulis pelan. Beberapa baris pertama terasa normal, tapi setelah itu ritmenya sedikit berubah. Ia berhenti lebih sering, membaca ulang lebih lama dari biasanya, seolah ada sesuatu yang tidak langsung masuk.

Namun ia tidak memaksakan.

Ia hanya melanjutkan dengan tempo yang lebih pelan.

Beberapa menit kemudian, Raka datang dan duduk di tempatnya. Tasnya dijatuhkan ringan ke meja, lalu ia melirik ke arah Aruna.

“Lo masih kepikiran?” tanyanya sambil membuka buku.

Aruna tidak langsung menjawab. Pulpen masih bergerak beberapa detik sebelum akhirnya berhenti.

“Masih,” jawabnya pelan.

Raka mengangguk kecil.

“Yang soal itu?”

Aruna Mengangguk.

“Iya.”

Raka tidak langsung melanjutkan. Ia membuka bukunya, lalu menyandarkan badan sedikit ke kursi.

“Udah ada bayangan belum?”

Aruna melihat tulisannya sebentar, lalu menggeleng pelan.

“Belum jelas.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih ringan,

“Tapi sekarang aku tahu harus lihat ke mana.”

Raka melirik lagi.

“Ke mana?”

Aruna tidak langsung menjawab.

Tangannya mengetuk pulpen pelan di atas meja, sekali, lalu berhenti.

“Ke hal kecil,” katanya akhirnya.

Raka mengangguk.

“Masuk akal.”

Percakapan berhenti di sana.

Namun kali ini, diam di antara mereka terasa cukup.

Pelajaran berjalan seperti biasa.

Aruna mencatat seperlunya, lalu berhenti untuk membaca ulang. Kali ini ia tidak hanya melihat isi tulisannya, tapi juga mencoba mengingat kenapa ia menulis bagian itu.

Beberapa kali ia berhasil.

Beberapa kali tidak.

Saat ia tidak ingat, ia tidak memaksa.

Ia hanya melanjutkan.

Saat istirahat tiba, Aruna tidak langsung berdiri.

Ia menutup bukunya setengah, lalu menatap halaman itu beberapa detik.

Tangannya bergerak, menambahkan satu kata kecil di samping salah satu catatan.

“kenapa”

Ia berhenti.

Menatap kata itu sebentar.

Lalu menutup bukunya.

Baru setelah itu ia berdiri dan berjalan keluar kelas.

Koridor cukup ramai, tapi langkahnya tetap tenang. Ia berjalan tanpa memperhatikan sekitar sampai akhirnya berhenti di dekat jendela.

Langit masih cerah.

Awan tipis bergerak pelan.

Ia menatapnya cukup lama.

Lalu berkata pelan,

“Belum ya.”

Kalimat itu keluar tanpa ditujukan ke siapa pun.

Ia tidak menunggu jawaban.

Tangannya masuk ke saku, mengambil buku kecil itu.

Ia membukanya.

Halaman yang sama.

Tulisan yang bertambah.

Lihat selengkapnya