The Girl Who Only Exists When It Is Raining: And the Days I Waited for Her to Return

Lyneetra
Chapter #17

E16

Episode 16

(The Space Between What Stays, And What Quietly Fades)


Setelah malam tanpa hujan, Aruna bangun dan langsung duduk di tepi tempat tidur.

Ia diam beberapa detik, membiarkan pikirannya pelan-pelan menyusul.

Tangannya bergerak ke meja.

Buku kecil itu diambil tanpa ragu.

Ia membukanya.

Halaman terakhir masih sama.

“Aku nggak harus ingat semuanya.”

“Yang penting aku tahu itu pernah ada.”

Aruna membaca dua kalimat itu perlahan.

Ia tidak langsung bereaksi.

Hanya menarik napas ringan, lalu menutup bukunya lagi.

Di sekolah, suasana berjalan seperti biasa.

Langit tidak sepenuhnya cerah, tapi cukup terang untuk membuat kelas terasa tenang.

Aruna duduk di tempatnya.

Buku terbuka. Pulpen di tangan.

Sebelum menulis, ia melirik ke samping.

Kursi itu kosong.

Ia tidak menahan pandangan.

Langsung kembali ke bukunya.

Tangannya mulai menulis.

Gerakannya stabil, tidak tergesa, dan tidak terlalu sering berhenti. Setiap beberapa baris, ia membaca ulang sebentar, lalu lanjut lagi tanpa ragu.

Raka datang dan duduk seperti biasa.

“Lo keliatan lebih santai,” katanya sambil membuka tas.

Aruna tetap melihat bukunya.

Pulpen masih bergerak sebelum akhirnya berhenti.

“Sedikit,” jawabnya pelan.

Raka melirik.

“Masih kepikiran?”

Aruna mengangguk kecil.

“Iya.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan,

“Tapi nggak seberat kemarin.”

Raka mengangguk.

“Bagus.”

Ia tidak bertanya lagi.

Pelajaran berjalan tanpa gangguan.

Aruna mencatat seperlunya.

Saat ada bagian yang tidak langsung ia ingat, ia tidak berhenti lama.

Ia hanya membaca ulang sekali, lalu lanjut.

Saat istirahat, Aruna tetap duduk beberapa detik.

Tangannya bergerak membuka laci kecil di bawah meja.

Kosong.

Ia menutupnya lagi.

Tidak mencari apa-apa.

Hanya memastikan.

Beberapa saat kemudian, ia berdiri dan berjalan ke koridor.

Langkahnya tenang.

Ia berhenti di dekat jendela.

Langit masih sama.

Awan tipis bergerak pelan.

Tidak ada tanda hujan.

Aruna melihat ke luar beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Belum.”

Ia memasukkan tangan ke saku.

Lalu berhenti.

Tangannya kosong.

Ia baru sadar.

Buku kecil itu tertinggal di rumah.

Ia melihat tangannya sebentar.

Lalu menarik napas ringan.

“Ya udah.”

Ia tidak kembali ke kelas.

Tetap berdiri di sana.

Beberapa detik berlalu.

Biasanya, tanpa buku itu, ia akan merasa ada yang kurang.

Namun kali ini tidak terlalu terasa.

Ia masih bisa mengingat beberapa hal.

Walaupun tidak lengkap.

Ia kembali ke kelas.

Duduk.

Membuka buku.

Menulis lagi.

Namun di satu titik, tangannya berhenti.

Ia mencoba mengingat satu hal kecil.

Cara Hana memanggilnya.

Ia menunggu.

Beberapa detik.

Yang muncul hanya samar.

Aruna tidak mengubah ekspresi.

Ia hanya mengangguk kecil.

Lalu melanjutkan menulis.

Siang berjalan tanpa perubahan.

Cahaya mulai sedikit turun, tapi langit tetap kering.

Aruna beberapa kali melihat ke jendela.

Bukan karena berharap.

Lebih seperti kebiasaan.

Setelah kelas selesai, ia tetap duduk sebentar.

Melihat ke kursi di sampingnya.

Kosong.

Ia tidak menunggu lebih lama.

Ia berdiri.

Mengambil tas.

Dan keluar.

Di luar, udara terasa hangat.

Jalanan kering.

Aruna berjalan seperti biasa.

Namun di tengah jalan, ia berhenti.

Hanya beberapa detik.

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Ia mencoba mengingat.

Hari terakhir hujan.

Ia ingat kelasnya.

Percakapannya.

Tulisan di bukunya.

Tapi ada bagian kecil yang tidak bisa ia temukan.

Aruna berdiri diam.

Lalu berkata pelan,

“Ada yang hilang.”

Suaranya datar.

Tidak panik.

Ia melanjutkan langkahnya.

Lebih pelan.

Sampai di rumah, ia langsung ke kamar.

Tas diletakkan.

Ia duduk.

Pandangannya langsung ke meja.

Buku kecil itu ada di sana.

Ia mengambilnya.

Membukanya.

Membaca dari atas.

Perlahan.

Semua tulisannya masih ada.

Tidak berubah.

Namun beberapa bagian terasa lebih jauh.

Aruna berhenti di satu kalimat.

“Aku lebih siap hari ini.”

Ia menatapnya cukup lama.

Lalu mengerutkan dahi sedikit.

Ia tahu kalimat itu penting.

Tapi alasannya tidak terasa jelas.

Tangannya mengambil pulpen.

Ia menulis di bawahnya.

“Aku lupa kenapa aku nulis ini.”

Pulpen berhenti.

Ia menatapnya.

Lalu menambahkan satu baris lagi.

“Tapi rasanya masih ada.”

Ia menutup buku itu perlahan.

Beberapa menit berlalu.

Aruna duduk tanpa bergerak.

Tangannya di atas meja.

Pikirannya tidak ke mana-mana.

Namun satu hal mulai terasa.

Bukan hanya hal kecil yang hilang.

Beberapa bagian lain mulai ikut menjauh.

Pelan.

Ia berdiri.

Berjalan ke jendela.

Langit sore terlihat biasa.

Tidak ada hujan.

Ia melihat beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

Lihat selengkapnya