The Girl Who Only Exists When It Is Raining: And the Days I Waited for Her to Return

Lyneetra
Chapter #18

E17

Episode 17

( The Quiet Before The Next Rain )

Setelah gerimis malam itu berhenti, suasana kembali tenang seperti biasa. Tidak ada suara hujan di atap rumah, tidak ada udara dingin yang masuk dari sela jendela, dan tidak ada hal aneh yang terjadi setelah itu. Namun justru karena semuanya kembali normal, Aruna mulai sadar kalau dirinya terus memikirkan hal yang sama bahkan saat hujan sudah tidak ada.

Pagi datang dengan langit yang lebih terang dibanding kemarin. Cahaya matahari masuk lewat jendela kamar dan mengenai meja belajarnya yang masih berantakan dengan buku pelajaran dan buku kecil yang belum dipindahkan sejak semalam.

Aruna duduk di kursinya sambil menatap buku kecil itu beberapa detik.

Tangannya bergerak pelan membukanya.

Tulisan-tulisan beberapa hari terakhir memenuhi hampir seluruh halaman. Kalimat pendek, catatan kecil, dan beberapa bagian yang ditulis tergesa seolah takut lupa sebelum sempat menyimpannya.

Ia membaca semuanya perlahan.

“Aku mulai lupa suaranya.”

“Aku mulai lupa wajahnya.”

“Aku lebih gampang inget suasananya.”

Matanya berhenti di kalimat terakhir cukup lama.

Lalu tanpa sadar ia melihat ke luar jendela kamar.

Langit cerah.

Tidak ada hujan.

Aruna menutup buku itu pelan lalu memasukkannya ke tas sebelum akhirnya berdiri dan bersiap pergi ke sekolah.

Di kelas, suasana pagi berjalan seperti biasa. Beberapa siswa masih mengobrol sebelum pelajaran dimulai, sementara yang lain sibuk melihat ponsel atau menyalin tugas.

Aruna duduk di tempatnya tanpa banyak bicara.

Tasnya diletakkan di samping kursi, lalu ia membuka buku pelajaran seperti rutinitas biasa.

Namun sebelum mulai menulis, pandangannya bergerak pelan ke kursi di sebelahnya.

Kosong.

Ia tidak menahan pandangannya terlalu lama kali ini.

Beberapa detik setelah itu, Raka datang dan langsung duduk sambil menarik kursinya sedikit ke belakang.

“Cuacanya terang banget,” katanya sambil melihat keluar jendela.

Aruna mengangguk kecil.

“Iya.”

Raka melirik ke arahnya sebentar.

“Hari ini nggak hujan kayaknya.”

Aruna tidak langsung menjawab. Tangannya masih membalik halaman buku sebelum akhirnya berhenti.

“Mungkin.”

Jawabannya pendek, tapi cukup membuat Raka memperhatikan wajahnya sedikit lebih lama.

“Lo sekarang jadi sering liatin langit.”

Aruna menoleh sebentar lalu tersenyum tipis.

“Kelihatan ya.”

“Iya,” jawab Raka santai. “Kayak lagi nunggu sesuatu.”

Aruna tidak membalas.

Namun beberapa detik setelah itu, tangannya berhenti di atas buku.

Karena Raka benar.

Ia memang menunggu sesuatu.

Pelajaran dimulai tidak lama kemudian. Guru masuk seperti biasa dan suasana kelas perlahan menjadi lebih tenang. Suara halaman buku dibuka dan bunyi pulpen mulai memenuhi ruangan.

Aruna mencoba fokus menulis, tapi beberapa kali pandangannya tetap bergerak ke arah jendela tanpa sadar.

Langit masih cerah.

Awan ada, tapi tipis.

Belum cukup untuk turun hujan.

Ia kembali melihat bukunya lalu melanjutkan menulis.

Namun kali ini pikirannya terasa sedikit berbeda.

Beberapa hari lalu, ia hanya menunggu Hana muncul lagi.

Sekarang, ia mulai memikirkan hal lain.

Berapa lama ia masih bisa mengingat dengan jelas.

Saat istirahat tiba, Aruna tidak langsung keluar kelas. Ia tetap duduk sambil membuka tasnya pelan lalu mengambil buku kecil itu lagi.

Tangannya membalik beberapa halaman sebelumnya.

Tulisan-tulisan lama masih ada.

Tentang hujan pertama.

Tentang kursi kosong.

Tentang bagaimana Hana selalu muncul setelah hujan mulai turun beberapa menit.

Aruna membaca semuanya perlahan.

Lalu satu hal terasa aneh.

Ia masih tahu semua kejadian itu pernah terjadi.

Namun beberapa bagian mulai terasa jauh.

Seperti membaca sesuatu yang pernah sangat dekat, tapi perlahan bergerak menjauh sedikit demi sedikit.

Tangannya berhenti di satu halaman.

“Hari ini dia datang lebih cepat.”

Aruna mengingat hari itu.

Hujan ringan.

Kelas yang lebih sepi.

Dan Hana yang muncul lebih cepat dari biasanya.

Ia masih ingat suasananya.

Namun wajah Hana di ingatannya terasa semakin kabur.

Aruna menutup bukunya pelan.

Lalu tanpa sadar mengusap wajahnya sebentar sambil menghela napas kecil.

“Jangan cepet-cepet hilang…”

Kalimat itu keluar pelan.

Bahkan ia sendiri tidak yakin sedang bicara kepada siapa.

Beberapa menit kemudian, Aruna akhirnya keluar kelas dan berjalan ke koridor. Udara siang terasa hangat, sementara cahaya dari luar memantul terang di lantai sekolah yang kering.

Ia berhenti di dekat jendela seperti biasa.

Pandangan matanya naik ke langit.

Masih cerah.

Namun di kejauhan, ada beberapa awan abu-abu mulai berkumpul perlahan.

Aruna memperhatikan itu cukup lama.

Lalu tangannya bergerak masuk ke saku, memastikan buku kecil itu masih ada.

Beberapa detik setelah itu, suara langkah terdengar mendekat dari belakang.

Raka berdiri tidak jauh darinya sambil ikut melihat ke luar.

“Lo berharap hujan?”

Aruna diam sebentar sebelum menjawab.

“Iya.”

Jawabannya kali ini lebih jelas dari biasanya.

Raka mengangkat alis sedikit.

“Padahal kebanyakan orang malah males hujan.”

Aruna tersenyum tipis sambil tetap melihat langit.

“Kayaknya sekarang beda.”

Raka tidak langsung membalas. Ia hanya ikut melihat keluar beberapa detik sebelum akhirnya berkata santai,

“Asal jangan sakit aja gara-gara kehujanan terus.”

Aruna tertawa kecil.

“Iya.”

Percakapan berhenti di sana.

Namun setelah Raka pergi lebih dulu, Aruna tetap berdiri di dekat jendela beberapa saat lebih lama.

Pandangan matanya masih tertuju pada awan yang perlahan mulai bertambah.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia sadar kalau dirinya mulai takut pada hari-hari cerah.

Karena semakin lama hujan tidak turun, semakin banyak hal kecil yang terasa menjauh dari ingatannya. Setelah istirahat berakhir, suasana kelas kembali tenang seperti biasa. Suara langkah kaki di koridor mulai berkurang, lalu perlahan digantikan bunyi halaman buku dan suara kursi yang bergeser pelan.

Aruna kembali duduk di tempatnya sambil melihat keluar jendela sebentar sebelum akhirnya membuka buku pelajaran lagi.

Langit masih terang.

Namun awan yang tadi hanya terlihat tipis sekarang mulai lebih banyak berkumpul di kejauhan. Warnanya belum terlalu gelap, tapi cukup untuk membuat cahaya matahari terasa lebih redup dibanding pagi tadi.

Tangannya bergerak menulis beberapa baris tanpa berhenti. Namun setelah itu, ia kembali membaca ulang tulisannya sedikit lebih lama dari biasanya.

Beberapa hari terakhir, ia mulai terbiasa melakukan itu.

Memastikan sesuatu tetap tinggal sedikit lebih lama di kepalanya.

Guru menjelaskan pelajaran di depan kelas, sementara Aruna sesekali mencatat seperlunya. Namun fokusnya tidak sepenuhnya ada di buku.

Pandangannya beberapa kali bergerak ke jendela.

Awan itu semakin dekat.

Ia tidak tahu kenapa dirinya mulai memperhatikan langit sesering ini. Padahal dulu hujan hanyalah bagian biasa dari hari-harinya.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Karena setiap hujan turun, ada kemungkinan Hana akan kembali muncul.

Dan setiap hujan berhenti, ada kemungkinan dirinya kehilangan lebih banyak lagi.

Beberapa menit berlalu sampai akhirnya suara kecil terdengar dari luar.

Tuk.

Aruna sedikit mengangkat pandangan.

Satu tetes air jatuh di kaca jendela.

Lalu beberapa detik kemudian, tetesan lain menyusul.

Masih ringan.

Belum cukup untuk disebut hujan deras.

Namun cukup membuat udara di dalam kelas terasa berubah pelan.

Aruna diam beberapa detik.

Tangannya berhenti menulis.

Ia tidak langsung menoleh ke samping.

Namun napasnya sedikit tertahan tanpa sadar.

Tetesan air mulai semakin rapat di luar jendela.

Gerimis.

Suara kecil hujan perlahan terdengar memenuhi kelas.

Beberapa siswa mulai mengeluh pelan karena jemuran mereka mungkin belum diangkat, sementara yang lain justru terlihat senang karena udara menjadi lebih dingin.

Namun Aruna tidak mendengar semuanya terlalu jelas.

Pandangannya masih tertuju ke jendela.

Menunggu. Beberapa menit berlalu.

Gerimis tetap turun stabil.

Aruna perlahan menoleh ke samping.

Kursi itu masih kosong.

Ia diam beberapa detik lebih lama.

Lalu kembali melihat ke depan.

Tangannya bergerak pelan membuka tas, mengambil buku kecilnya tanpa suara.

Ia membukanya di bawah meja.

Halaman terakhir masih dipenuhi tulisan tentang hujan semalam.

“Aku mulai lupa wajahnya.”

Aruna membaca kalimat itu sebentar sebelum akhirnya menambahkan satu tulisan baru di bawahnya.

“Hujan mulai turun.”

Pulpen berhenti.

Tangannya tidak langsung menutup buku itu.

Ia masih menunggu.

Gerimis di luar sedikit lebih rapat sekarang. Suaranya mulai menutup sebagian percakapan kecil di dalam kelas.

Aruna kembali menoleh ke samping.

Masih kosong.

Namun kali ini, ia tidak merasa panik seperti dulu.

Ia mulai memahami bahwa Hana tidak langsung muncul begitu hujan turun.

Selalu ada jeda.

Dan sekarang, tanpa sadar, Aruna mulai hafal rasa menunggu itu.

Beberapa detik.

Kadang beberapa menit.

Lalu semuanya berubah perlahan.

Suara kursi bergeser kecil di sampingnya.

Aruna langsung menoleh.

Hana sudah duduk di sana.

Seperti biasa.

Rambutnya sedikit lembap di bagian ujung, sementara pandangannya mengarah ke luar jendela sebelum akhirnya berpindah pelan ke arah Aruna.

“Kamu lihat terus.”

Suaranya tenang seperti biasanya.

Aruna berkedip pelan beberapa kali sebelum akhirnya menghela napas kecil.

“Soalnya kamu nggak langsung muncul.”

Hana memiringkan kepala sedikit.

“Aku memang nggak pernah langsung muncul.”

Aruna diam beberapa detik.

Lalu tanpa sadar tersenyum tipis.

“Iya juga.”

Ia baru sadar kalau Hana benar.

Selama ini selalu ada waktu sebelum dirinya benar-benar muncul.

Hanya saja dulu Aruna terlalu panik untuk memperhatikannya.

Hujan di luar masih turun ringan. Cahaya dari langit menjadi lebih redup, membuat suasana kelas terasa lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya.

Aruna menatap Hana beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Dan kali ini, ia mencoba memperhatikan lebih jelas.

Rambut hitamnya yang sedikit basah.

Cara tangannya berada di atas meja.

Dan ekspresi tenangnya yang hampir tidak pernah berubah.

Namun setelah beberapa detik, Aruna menyadari sesuatu.

Ia masih bisa melihat Hana dengan jelas saat ini.

Tapi saat mencoba mengingat wajah yang sama dari kemarin, pikirannya kembali kabur.

Tangannya bergerak kecil di atas meja.

Hana memperhatikannya sebentar.

“Kamu lagi mikir.”

Aruna mengangguk kecil.

“Iya.”

Tentang apa.”

Aruna diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan,

“Aku takut lupa terlalu cepat.”

Hana tidak langsung membalas.

Pandangan matanya bergerak ke luar jendela sebentar, mengikuti hujan yang masih turun stabil.

“Kamu masih inget.”

Jawabannya pendek.

Namun Aruna menggeleng pelan.

“Sekarang iya.”

Ia berhenti beberapa detik.

“Tapi beberapa hari lalu masih jelas banget.”

Tangannya bergerak pelan membuka buku kecil di bawah meja lalu menunjukkannya sedikit ke arah Hana.

“Aku mulai nulis karena itu.”

Hana melihat halaman yang terbuka beberapa saat tanpa bicara.

Lalu pandangannya kembali ke Aruna.

“Kamu serius mau terus inget?”

Pertanyaan itu membuat Aruna diam lebih lama dari biasanya.

Ia melihat hujan di luar sebentar sebelum akhirnya menjawab pelan,

“Iya.”

Tidak ada keraguan di suaranya kali ini.

Hana menatapnya beberapa detik tanpa bicara.

Lalu akhirnya tersenyum kecil.

Tipis sekali.

Namun cukup jelas untuk membuat Aruna sedikit membeku beberapa saat.

Karena itu pertama kalinya ia melihat Hana tersenyum seperti itu.

Dan anehnya, justru hal kecil itu yang paling takut ia lupakan nanti.

Hujan di luar mulai sedikit lebih rapat dibanding beberapa menit sebelumnya. Suaranya memenuhi kaca jendela dan atap sekolah dengan ritme yang tenang, membuat suasana kelas perlahan berubah lebih sunyi. Beberapa siswa masih berbicara pelan di belakang, namun suara mereka terasa jauh karena tertutup suara hujan yang semakin jelas.

Aruna masih duduk menghadap ke depan, tapi pandangannya sesekali bergerak ke arah Hana tanpa sadar.

Senyum kecil itu sudah hilang.

Ekspresi Hana kembali seperti biasa, tenang dan sulit ditebak. Namun entah kenapa, justru karena hanya muncul sebentar, Aruna merasa dirinya semakin takut melupakannya.

Tangannya bergerak kecil di atas meja sebelum akhirnya berhenti tidak jauh dari buku kecil yang masih terbuka di bawah meja.

Hana memperhatikan gerakannya beberapa detik.

“Kamu jadi sering lihat aku.”

Aruna sedikit tersadar lalu mengalihkan pandangan sebentar ke jendela.

“Soalnya aku takut lupa.”

Jawabannya keluar lebih cepat dari yang ia kira.

Hana tidak langsung membalas.

Ia hanya melihat hujan di luar beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,

“Walaupun nanti lupa sebagian, kamu tetap bakal tahu kalau aku pernah ada.”

Aruna menoleh lagi.

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat dadanya terasa sedikit sesak.

“Kalau nanti aku lupa semuanya gimana.”

Pertanyaan itu keluar pelan.

Tidak terdengar dramatis.

Lebih seperti ketakutan kecil yang akhirnya keluar tanpa sengaja.

Hana diam cukup lama sebelum menjawab.

“Kamu nggak akan lupa semuanya.”

Lihat selengkapnya