Episode 18
The Days That Slowly Started To Feel Different
Setelah hujan sore kemarin berhenti, malam berjalan lebih tenang dari biasanya.
Aruna masih sempat membuka buku kecilnya beberapa kali sebelum tidur, membaca ulang tulisan terakhir yang ia buat di kelas. Namun kali ini ia tidak terus menambahkan catatan baru seperti hari-hari sebelumnya. Ia hanya membaca pelan, lalu membiarkan pikirannya diam lebih lama tanpa memaksa apa pun.
“Hari ini aku nggak terlalu takut.”
Kalimat itu terus tertinggal di kepalanya bahkan setelah lampu kamar dimatikan.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, ia benar-benar merasa itu bukan sekadar tulisan untuk menenangkan diri.
Pagi datang dengan langit yang jauh lebih cerah.
Cahaya matahari masuk memenuhi kelas sejak jam pertama dimulai, membuat suasana sekolah terasa lebih ramai dibanding beberapa hari terakhir yang terus dipenuhi mendung dan hujan.
Aruna duduk di tempatnya sambil membuka buku pelajaran seperti biasa. Tasnya diletakkan di samping meja, sementara buku kecil itu tetap berada di dalam saku depan tanpa ia keluarkan sejak tadi.
Beberapa siswa di belakang sedang membicarakan cuaca yang akhirnya kembali terang, sementara suara kipas angin dan obrolan kecil memenuhi ruangan.
Raka datang tidak lama kemudian sambil menjatuhkan tasnya ke kursi.
“Akhirnya panas juga,” katanya sambil melihat keluar jendela. “Gue kira minggu ini bakal hujan terus.”
Aruna ikut melihat ke luar sebentar.
Langit memang terlihat bersih pagi ini.
“Iya.”
Jawabannya pelan.
Raka melirik ke arahnya sambil tersenyum kecil.
“Lo malah kayak kecewa.”
Aruna langsung menoleh.
“Kelihatan banget?”
“Lumayan.”
Raka tertawa kecil sambil membuka bukunya.
“Biasanya orang seneng kalau cuaca cerah.”
Aruna tersenyum tipis lalu menunduk melihat halaman bukunya lagi.
Ia tidak menjawab.
Namun di dalam kepalanya, ia tahu Raka benar.
Sekarang hari cerah justru terasa aneh baginya.
Terlalu tenang.
Terlalu kosong.
Seolah ada sesuatu yang hilang dari rutinitas kecil yang mulai terbentuk tanpa ia sadari.
Pelajaran dimulai beberapa menit kemudian. Guru masuk seperti biasa, menjelaskan materi sambil sesekali menulis di papan tulis. Suasana kelas perlahan kembali tenang, hanya menyisakan suara halaman buku dibalik dan bunyi pulpen yang bergerak.
Aruna mencoba fokus mencatat, namun beberapa kali pandangannya tetap bergerak ke arah jendela.
Langit masih cerah.
Tidak ada awan gelap.
Tidak ada tanda hujan.
Tangannya berhenti menulis sebentar.
Lalu tanpa sadar ia menghela napas kecil.
Beberapa hari lalu, dirinya mungkin akan langsung panik memikirkan apakah Hana akan muncul lagi atau tidak.
Namun sekarang rasa itu berbeda.
Ia tetap ingin bertemu Hana.
Tetap menunggu hujan.
Tapi tidak lagi dengan rasa takut yang terus menekan dadanya.
Mungkin karena kemarin, untuk pertama kalinya, ia benar-benar menikmati waktu yang mereka punya tanpa terus memikirkan kapan semuanya akan berakhir.
—
Saat istirahat tiba, Aruna keluar kelas lebih dulu sebelum Raka sempat mengajaknya ke kantin. Langkahnya berjalan santai menyusuri koridor sampai akhirnya berhenti di dekat jendela seperti biasa.
Namun kali ini, yang menyambutnya hanyalah langit biru terang dan cahaya matahari yang memantul di halaman sekolah.
Tidak ada suara hujan.
Tidak ada udara dingin.
Hanya angin siang yang bergerak pelan.
Aruna berdiri cukup lama sambil melihat keluar.
Lalu tanpa sadar, ia tersenyum kecil sendiri.
Karena meskipun hujan belum datang hari ini, pikirannya langsung kembali ke sore kemarin.
Tentang Hana yang mengatakan dirinya terlihat lebih bagus saat tersenyum.
Dan entah kenapa, mengingat kalimat itu sekarang terasa jauh lebih jelas dibanding beberapa detail lain yang perlahan mulai kabur.
Tangannya bergerak kecil menyentuh saku depan tempat buku kecil itu disimpan.
Ia sempat ingin mengeluarkannya.
Namun setelah beberapa detik, niat itu berhenti sendiri.
Tidak semua hal harus langsung ditulis.
Beberapa bisa tinggal sebentar di kepalanya dulu.
Dan kali ini, Aruna ingin mencoba itu.
Beberapa langkah terdengar mendekat dari belakang.
Raka muncul sambil membawa dua roti dari kantin.
“Gue udah nebak lo pasti di sini.”
Aruna menoleh sedikit.
“Kenapa.”
“Soalnya tiap istirahat pasti ngilang ke jendela.”
Raka menyerahkan salah satu roti ke arahnya.
“Nih.”
Aruna menerimanya sambil sedikit tertawa kecil.
“Makasih.”
Raka berdiri di sampingnya sambil ikut melihat keluar.
“Masih nunggu hujan?”
Pertanyaan itu keluar santai, tapi kali ini Aruna tidak langsung mengelak seperti biasanya.
“Iya.”
Jawabannya pelan.
Raka mengangguk kecil seolah sudah menduga.
Namun beberapa detik kemudian ia berkata lagi,
“Tapi sekarang muka lo nggak setegang dulu.”
Aruna diam sebentar sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Mungkin karena sekarang aku nggak terlalu buru-buru.”
Raka terlihat bingung sesaat.
“Buru-buru apaan.”
Aruna tertawa kecil lalu menggeleng.
“Lupa.”
Jawaban itu membuat Raka ikut tertawa meskipun jelas tidak benar-benar mengerti maksudnya.
Dan untuk sesaat, suasana terasa normal.
Sederhana.
Seperti hari sekolah biasa tanpa sesuatu yang aneh.
Namun justru karena itu, Aruna mulai sadar kalau hidupnya perlahan memang berubah sedikit demi sedikit sejak Hana muncul.
Bukan perubahan besar yang langsung terasa.
Lebih seperti kebiasaan kecil yang pelan-pelan menetap tanpa ia sadari.
Dan cara dirinya sekarang mulai menghargai waktu yang sebelumnya selalu ia anggap biasa.
Setelah istirahat selesai, suasana sekolah kembali ramai seperti biasa. Suara langkah kaki memenuhi koridor, kursi-kursi mulai bergeser, dan percakapan kecil perlahan menghilang saat guru masuk ke kelas.
Aruna kembali duduk di tempatnya sambil membuka buku pelajaran. Roti yang tadi diberikan Raka belum habis sepenuhnya, masih tersisa sedikit di meja dekat tangannya.
Langit di luar tetap cerah.
Cahaya matahari masuk cukup terang sampai bayangan jendela terlihat jelas di lantai kelas. Tidak ada tanda mendung sama sekali.
Namun entah kenapa, Aruna tetap beberapa kali melihat keluar tanpa sadar.
Bukan karena berharap hujan turun tiba-tiba.
Lebih seperti kebiasaan yang sudah mulai melekat.
Tangannya bergerak menulis beberapa baris sebelum akhirnya berhenti sebentar.
Kalimat Hana kemarin kembali muncul di kepalanya.
“Kamu sekarang lebih bagus waktu senyum.”
Aruna menundukkan pandangan sambil tersenyum kecil sendiri tanpa sadar.
“Lo kenapa.”
Suara Raka langsung membuatnya sedikit tersadar.
Aruna cepat kembali melihat bukunya.
“Nggak kenapa-kenapa.”
Raka menatapnya beberapa detik dengan wajah curiga.
“Lo senyum sendiri dari tadi.”
Aruna langsung mengusap wajahnya sebentar sambil tertawa kecil malu.
“Masa.”
“Iya.”
Raka menyandarkan badan ke kursi sambil menyipitkan mata sedikit.
“Jangan-jangan lo lagi suka seseorang.”
Kalimat itu keluar begitu santai sampai Aruna langsung diam beberapa detik.
Tangannya berhenti di atas buku.
Sementara Raka masih melihatnya sambil menunggu jawaban.
Aruna akhirnya tertawa kecil pelan.
“Nggak segampang itu.”
Jawabannya terdengar ringan, tapi justru setelah mengatakannya, dadanya terasa sedikit aneh.
Karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar memikirkan kemungkinan itu.
Ia menyukai Hana?
Pikirannya langsung kembali ke beberapa hari terakhir.
Dan bagaimana sekarang, suara hujan saja sudah cukup membuatnya memikirkan satu orang yang sama.
Aruna cepat kembali melihat bukunya sebelum pikirannya semakin jauh.
Namun senyum kecil di wajahnya belum benar-benar hilang.
Raka memperhatikan reaksinya beberapa detik lalu tertawa kecil.
“Wah, beneran ada kayaknya.”
“Udah belajar aja sana.”
Aruna langsung memotong sambil menahan senyum.
Raka malah makin tertawa kecil sebelum akhirnya kembali membuka bukunya sendiri.
Namun setelah percakapan itu selesai, Aruna tetap tidak bisa benar-benar fokus beberapa menit berikutnya.
Karena sekarang pikirannya justru dipenuhi satu pertanyaan baru yang sebelumnya tidak pernah benar-benar ia pikirkan.
Kalau semua ini bukan cuma soal takut kehilangan… lalu sebenarnya apa yang ia rasakan sekarang. Pelajaran berjalan lebih lambat dari biasanya hari itu. Mungkin karena cuaca yang terlalu terang atau karena pikirannya yang terus bergerak ke mana-mana.
Aruna masih mencoba menulis dan membaca ulang catatan seperti biasa, tapi beberapa kali ia berhenti cukup lama hanya untuk menatap halaman bukunya sendiri.
Sementara itu, langit di luar tetap biru.
Tidak berubah sedikit pun.
Dan anehnya, semakin lama hari berjalan tanpa hujan, semakin terasa jelas kalau dirinya mulai merindukan suasana yang biasanya datang bersama Hana.
Bukan cuma orangnya.
Tapi semuanya.
Suara hujan.
Udara dingin.
Dan ketenangan kecil yang selalu muncul setiap Hana duduk di sampingnya.
Beberapa saat kemudian, guru akhirnya keluar setelah jam pelajaran selesai. Suasana kelas langsung kembali ramai. Beberapa siswa mulai bercanda keras, sementara yang lain sibuk membereskan buku.
Aruna bersandar sebentar di kursinya sambil melihat keluar jendela.
Masih cerah.
Ia menghela napas kecil.
Namun kali ini bukan karena kecewa.
Lebih seperti sadar kalau dirinya memang sudah berubah cukup jauh dibanding beberapa minggu lalu.
Dulu ia hampir tidak pernah memperhatikan cuaca.
Sekarang, langit cerah justru terasa terlalu sepi.
“Lo beneran suka hujan sekarang ya.”
Raka tiba-tiba bicara sambil memasukkan bukunya ke tas.
Aruna menoleh sedikit.
“Kayaknya.”
Raka tertawa kecil.
“Aneh.”
“Iya.”
Aruna ikut tertawa pelan.
Namun setelah itu, ia kembali diam.
Karena jauh di dalam pikirannya, ia tahu yang sebenarnya ia tunggu bukan hujannya.
Melainkan seseorang yang selalu datang bersamanya.
Dan kesadaran itu perlahan mulai terasa semakin sulit diabaikan.
—
Sepulang sekolah, Aruna berjalan sendiri melewati jalan depan sekolah yang masih kering karena seharian tidak turun hujan. Langit sore mulai berubah warna perlahan, tapi awan gelap tetap belum terlihat.
Ia berjalan lebih pelan dari biasanya sambil mendengarkan suara kendaraan dan angin sore yang lewat ringan di sekitar jalan.
Tangannya masuk ke saku jaket, menyentuh buku kecil yang masih ada di sana.
Namun kali ini ia tidak langsung mengeluarkannya.
Beberapa hari terakhir, buku itu hampir selalu ada di tangannya setiap kali ia mulai takut lupa.
Sekarang rasanya sedikit berbeda.
Bukan karena rasa takut itu hilang sepenuhnya.
Tapi karena ada hal lain yang mulai tumbuh lebih besar dari rasa takut tersebut.
Aruna berhenti sebentar di dekat lampu merah kecil sebelum akhirnya mengangkat pandangan ke langit sore.
Cerah.
Tenang.
Dan anehnya, justru membuat dadanya terasa kosong sedikit.
Ia tersenyum kecil sendiri lalu menggeleng pelan.
“Aku beneran nunggu hujan sekarang…”
Kalimat itu keluar hampir seperti gumaman kecil.
Dan setelah mengatakannya, Aruna akhirnya sadar satu hal sederhana yang selama ini terus ia hindari.
Ia tidak hanya takut kehilangan Hana dan benar-benar ingin bertemu dengannya lagi.
Sore itu berlalu tanpa hujan.
Langit yang sejak pagi cerah perlahan berubah menjadi jingga sebelum akhirnya gelap seperti biasa. Tidak ada gerimis yang turun tiba-tiba. Tidak ada suara air di atap rumah. Tidak ada alasan bagi Hana untuk muncul.
Namun yang mengganggu Aruna bukanlah kenyataan itu.
Melainkan fakta bahwa dirinya terus memperhatikan hal tersebut sepanjang perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, ia langsung menuju kamar sambil membawa tas di bahunya. Setelah meletakkannya di dekat meja, ia membuka jendela sedikit agar udara sore bisa masuk.
Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah kering dan suara kendaraan yang samar dari jalan depan.
Aruna berdiri di sana cukup lama.
Biasanya, saat sampai rumah, ia akan langsung mengambil buku kecilnya lalu menuliskan sesuatu sebelum detail-detail kecil mulai memudar. Namun hari ini ia tidak melakukannya.
Ia hanya melihat langit yang perlahan kehilangan warnanya.
Tanpa sadar, pikirannya kembali ke percakapan bersama Raka siang tadi.
"Jangan-jangan lo lagi suka seseorang."
Saat itu ia berhasil menghindari pertanyaan tersebut.
Sekarang tidak ada siapa-siapa yang bisa ia hindari.
Aruna menghela napas kecil lalu menjatuhkan diri ke kursi.
Ia mencoba mengingat kapan semuanya mulai berubah.
Awalnya hanya rasa penasaran.
Lalu kekhawatiran.
Kemudian rasa takut kehilangan.
Namun belakangan ini, ada sesuatu yang berbeda.
Ia mulai menunggu.
Bukan hanya saat hujan turun.
Tapi bahkan saat langit masih cerah seperti sekarang.
Tangannya bergerak pelan membuka laci meja lalu mengambil buku kecil yang sudah mulai terasa akrab di tangannya.
Ia membuka beberapa halaman terakhir.
Tulisan-tulisan pendek memenuhi hampir seluruh halaman.
Tentang hujan.
Tentang kursi kosong.
Tentang ketakutan yang terus muncul sedikit demi sedikit.
Namun saat membaca ulang semuanya, Aruna menyadari ada satu hal yang hampir tidak pernah ia tulis.
Tentang dirinya sendiri.
Selama ini ia terlalu sibuk mencatat Hana sampai lupa memperhatikan perubahan yang terjadi pada dirinya.
Ia terdiam cukup lama.
Lalu mengambil pulpen.
Ujungnya menyentuh kertas beberapa detik sebelum akhirnya bergerak.
"Hari ini nggak hujan."
Ia berhenti.
Membaca ulang kalimat itu.
Lalu melanjutkan.
"Tapi aku tetap mikirin dia."
Tangannya langsung berhenti setelah menulis kalimat kedua.
Entah kenapa, tulisan itu terasa berbeda dari yang lain.
Lebih jujur.
Dan karena itu, sedikit memalukan.
Aruna menutup wajahnya sebentar dengan satu tangan sambil tertawa kecil sendiri.
Kalau Raka melihat tulisan itu, mungkin ia tidak akan berhenti mengganggunya selama seminggu penuh.
Pikiran itu membuatnya kembali tersenyum.
Namun senyum tersebut perlahan menghilang saat pandangannya kembali jatuh ke kalimat yang baru ditulis.
"Tapi aku tetap mikirin dia."
Beberapa hari lalu, ia mungkin akan menganggap itu karena rasa takut.