The Girl Who Only Exists When It Is Raining: And the Days I Waited for Her to Return

Lyneetra
Chapter #20

A Place Beside You

Aruna baru kembali memperhatikan papan tulis ketika suara guru menyebut nomor soal berikutnya. Di buku yang terbuka di depannya, jawabannya berhenti pada satu baris pendek, sementara tulisan di papan sudah memenuhi hampir separuh bagian bawah. Ia segera mencari halaman yang dimaksud, tetapi ujung jarinya justru menyelip di antara dua lembar sekaligus. Dari kursi sebelah, Hana mendekat sedikit untuk melihat bukunya.

“Yang sebelah kiri,” bisiknya. “Tadi sudah pindah soal.”

“Aku kira masih membahas yang pertama.”

“Kamu dari tadi belum membalik halaman.”

Aruna menemukan nomor yang dicari, lalu menahan buku itu dengan telapak tangan agar tetap terbuka. Panas di wajahnya belum sepenuhnya reda setelah ucapan yang terlanjur keluar tadi. Ia ingin mengatakan sesuatu lagi kepada Hana, tetapi guru sedang menjelaskan langkah pengerjaan dan beberapa siswa mulai menyalin. Akhirnya ia menggeser bukunya sedikit ke tengah agar Hana bisa ikut membaca, lalu berusaha mengejar catatan yang tertinggal.

Hana memperhatikan halaman itu cukup lama sebelum berbisik, “Bukunya tetap di depan kamu saja. Dari sini aku masih bisa lihat.”

“Kalau tulisanku terlalu kecil, bilang.”

“Yang itu angka tiga atau delapan?”

Aruna mengikuti arah pandangannya. Di ujung baris, angka yang ditulisnya memang bertumpuk dengan bekas coretan sebelumnya. Ia memperbaikinya sambil mendekatkan wajah ke buku. “Tiga. Tadi pulpennya agak macet.”

Hana menunggu sampai ia selesai, kemudian menunjuk angka serupa di baris atas. “Kalau yang ini?”

Aruna menatapnya sebentar. Hana masih melihat buku dengan sungguh-sungguh, tetapi sudut bibirnya mulai terangkat.

“Yang itu juga tiga,” jawabnya, kini ikut tersenyum. “Sepertinya aku harus menulis ulang semuanya.”

“Pelan-pelan saja. Gurunya belum selesai menjelaskan.”

Ia menurut. Kali ini Aruna menulis lebih rapi, menyisakan jarak antara satu angka dan angka berikutnya. Hana duduk cukup dekat untuk membaca, dengan kedua tangan diletakkan di pangkuan. Sesekali pandangannya beralih ke papan tulis, lalu kembali ke buku Aruna. Hujan terdengar di sela penjelasan guru, jatuh pada atap koridor dengan bunyi yang semakin rapat.

Menjelang akhir pelajaran, angin mendorong beberapa tetes air melewati jendela yang terbuka. Sudut halaman buku Aruna terkena percikannya. Ia segera menarik buku itu, kemudian bangkit sedikit untuk meraih kait jendela. Hana menggeser kursinya agar lengannya bisa lewat. Saat jendela tertutup, suara hujan menjadi lebih rendah, dan Aruna baru menyadari bahwa ia sempat menahan napas.

Hana melihat ke halaman yang basah. “Kena banyak?”

“Sedikit. Untung belum sampai tulisannya.”

Aruna menyeka tepi meja dengan tisu dari tasnya. Ia hampir bertanya apakah Hana kedinginan, tetapi guru kembali menghadap kelas dan meminta mereka mengumpulkan latihan sebelum bel berbunyi. Ia menyelesaikan jawaban terakhir, memeriksa angka-angkanya sekali lagi, lalu membawa buku ke meja guru bersama siswa lain.

Ketika ia kembali, Hana masih duduk di tempat yang sama. Kepalanya sedikit menunduk, memperhatikan bekas air di sisi meja. Aruna meletakkan tas di lantai agar tidak menghalangi kursinya, kemudian duduk.

“Setelah ini istirahat?” tanya Hana.

“Pergantian pelajaran. Masih ada dua jam lagi sebelum pulang.”

“Oh. Aku kira sudah mau selesai.”

“Kamu bosan?”

“Aku ingin ngobrol, tapi dari tadi gurunya masih menjelaskan.”

Aruna sempat lupa menjawab. Hana mengatakannya sambil memandang ke depan, seolah permintaan itu sama wajarnya dengan memintanya menggeser buku. Ia merapikan pulpen yang sebenarnya sudah berada di tempatnya, lalu menoleh ketika bel akhirnya berbunyi.

“Sekarang bisa,” katanya.

Di seberang meja, Raka berdiri sambil membawa botol minum yang sudah kosong. Ia mengetuk pelan tepi buku Aruna untuk menarik perhatiannya. “Gue isi air dulu. Kalau guru berikutnya masuk, bilang gue sebentar.”

“Jangan sekalian mampir kantin. Tadi katanya mau pinjam catatan.”

“Makanya bukunya jangan diberesin dulu.”

Raka keluar bersama dua siswa lain. Aruna mengikuti mereka dengan pandangan sampai pintu, lalu kembali kepada Hana. Kursi Raka yang ditinggalkan membuat bagian kelas itu terasa lebih lapang. Di depan, beberapa teman membicarakan soal yang baru dikumpulkan, sementara seseorang membuka bungkus makanan di belakang mereka.

“Itu temanmu yang kemarin?” Hana bertanya.

“Raka. Dia sering duduk di sini.”

“Aku dengar dia mengingatkan kamu supaya jangan terlambat.”

Aruna tertawa pelan. “Aku memang pernah datang pas gerbang hampir ditutup. Sejak itu dia merasa perlu mengingatkan setiap ada olahraga.”

“Kamu terlambat karena bangun kesiangan?”

“Nyari kaus kaki. Yang sebelah masuk ke sarung bantal setelah dicuci.”

Hana tertawa, cukup jelas hingga Aruna ikut tertawa lagi. Ia baru sadar betapa jarangnya ia menceritakan hal semacam itu kepadanya. Selama ini, setiap ada kesempatan berbicara, pertanyaannya selalu kembali pada hujan atau hal-hal yang mungkin Hana ketahui tentang dirinya sendiri.

“Besoknya ketemu?” tanya Hana.

“Ketemu sore. Pagi itu aku pakai pasangan lain.”

“Jadi sebenarnya kamu punya yang lain.”

“Ada, tapi aku telanjur yakin yang itu pasti di dekat lemari.”

Hana menggeleng sambil tersenyum. “Lain kali pakai yang ketemu dulu.”

“Nanti kamu sama Raka bisa gantian mengingatkan aku.”

Ucapan itu membuat Hana melirik ke kursi kosong di hadapan mereka. Senyumnya masih ada ketika ia kembali melihat Aruna, meskipun ia menjawab lebih pelan. “Kalau aku ada.”

Aruna menyentuh ujung pulpen di atas meja. Dari balik kaca, air mengalir menuju kusen bawah, menampung tetesan baru yang terus datang. Ia punya beberapa pertanyaan yang bisa diajukan, tetapi Hana tadi ingin mengobrol, dan ia belum memberinya banyak kesempatan untuk memilih pembicaraan.

“Kalau sedang di sini,” katanya, “kamu boleh mengingatkan. Aku memang suka lupa hal-hal kecil.”

Hana mengangguk, lalu matanya turun ke saku seragam Aruna. Ujung buku kecilnya tampak sedikit di sana.

“Hari ini kamu belum menulis?”

“Tadi malam sudah.”

“Tentang apa?”

Aruna menarik buku itu keluar, tetapi menahannya di atas paha. Ia masih ingat dua kalimat yang ditulisnya saat kamar sudah sepi. Membacanya sendiri saja sempat membuatnya malu; sekarang Hana menunggu jawaban dengan jarak yang jauh lebih dekat.

“Tentang hari kemarin,” jawabnya. “Ada bagian yang mungkin nanti aku tunjukkan.”

Hana tidak meminta buku itu. Ia hanya mengangguk, kemudian menyandarkan punggung ke kursi. “Kalau begitu, nanti saja. Aku masih ingin dengar cerita kamu.”

Aruna menyimpan kembali bukunya. “Cerita soal kaus kaki tadi?”

“Soal apa saja. Kemarin kamu pulang lewat mana?”

Ia menyebut jalan di depan sekolah dan persimpangan kecil tempat ia berhenti sebelum menyeberang. Hana mendengarkan, lalu bertanya tentang toko di sudut jalan yang pernah mereka lewati. Aruna mulai menjelaskan sambil menggambar belokan dengan jarinya di permukaan meja. Ketika Raka kembali membawa botol yang sudah terisi, ia memindahkan tangan ke atas buku pelajaran, tetapi menyisakan ruang di sebelahnya agar Hana tetap bisa melihat.

Raka menarik kursinya mendekati meja, lalu membuka buku Aruna pada halaman latihan yang baru selesai dibahas. Percakapan mereka terputus ketika ia menunjuk salah satu jawaban dengan ujung pulpen. Aruna memiringkan buku agar lebih mudah dibaca, sementara Hana kembali bersandar, memberi ruang bagi mereka untuk membicarakan soal.

“Gue dapatnya beda di sini,” kata Raka. “Tadi lo pakai angka yang atas atau yang bawah?”

“Yang bawah. Yang atas sudah dicoret.”

“Pantes. Dari belakang kelihatannya masih dipakai.”

Aruna mengambil pulpen dan menuliskan ulang satu langkah di tepi halaman. Raka memperhatikannya sambil mencocokkan dengan buku sendiri. Di sebelah mereka, Hana mengalihkan pandangan ke jendela. Air menuruni kaca dalam jalur-jalur tipis, membuat halaman sekolah terlihat samar. Aruna sempat mengikuti pandangannya sebelum Raka menanyakan bagian berikutnya.

Mereka baru selesai ketika guru masuk membawa setumpuk lembar tugas. Raka mengembalikan buku itu dan memutar kursinya menghadap depan. Aruna merapikan halaman yang terlipat, lalu mendekatkan buku ke tengah meja seperti sebelumnya.

“Tadi sampai toko dekat persimpangan,” bisik Hana sebelum guru mulai berbicara.

Aruna menoleh. “Kamu masih mau dengar?”

“Kamu belum cerita tokonya jual apa.”

“Roti. Biasanya aku lewat saja, tapi kemarin sempat berhenti lihat dari luar.”

Hana mengangguk, lalu ikut menghadap depan ketika guru meminta mereka menyimpan buku lain. Aruna mengeluarkan buku yang sesuai dari tasnya. Ia menaruhnya terbuka di antara mereka, dengan bagian tepi sedikit melewati batas mejanya.

Pelajaran berikutnya diisi tugas membaca dan menjawab beberapa pertanyaan. Suasana kelas lebih tenang setelah lembar soal dibagikan, meskipun sesekali terdengar siswa meminjam penghapus atau menanyakan halaman. Aruna membaca paragraf pertama dua kali sebelum mulai menulis. Hana ikut memperhatikan bacaannya, cukup dekat hingga ia bisa melihat ujung rambut gadis itu di sisi buku.

Pada pertanyaan ketiga, Aruna ragu memilih jawaban. Ia kembali membaca bagian yang ditandai, kemudian melirik Hana.

“Menurutmu dia pergi karena marah?”

Hana menunduk untuk melihat kalimat yang dimaksud. “Dia sudah mau pergi sebelum mereka bertengkar. Mungkin memang ada urusan.”

Aruna menelusuri baris sebelumnya dengan jari. Ada keterangan yang tadi terlewat olehnya. “Oh, benar. Aku cuma baca bagian setelahnya.”

“Kamu ingin cepat selesai?”

“Supaya bisa melanjutkan cerita tadi.”

Hana menatapnya, lalu tersenyum sambil menggeser pandangan kembali ke buku. “Kalau jawabannya salah, nanti malah disuruh memperbaiki.”

Aruna menghapus dua kata yang sudah terlanjur ditulis. Sesudah itu ia membaca lebih teliti, sementara Hana sesekali membantunya menemukan kalimat yang berkaitan dengan pertanyaan. Mereka berbicara pelan, berhenti setiap kali guru berjalan mendekati deretan meja mereka. Saat jawabannya selesai, Aruna memeriksa ulang dari nomor pertama sebelum meletakkan pulpen.

Hana masih membaca paragraf terakhir.

“Aku tunggu,” katanya ketika Hana hendak menjauh dari buku. “Masih ada waktu.”

Gadis itu kembali menunduk. Aruna membiarkan halaman tetap terbuka, lalu melihat teman-temannya yang belum selesai. Raka sedang menghapus hampir satu baris penuh, sedangkan siswa di depan mereka menghitung jumlah jawaban dengan ujung jari. Untuk beberapa menit, Aruna hanya duduk, mendengarkan gesekan pulpen dan hujan yang masih turun.

Menjelang siang, hujan mulai terdengar lebih jelas lagi. Langit di luar cukup gelap sehingga lampu kelas tetap dinyalakan sampai pelajaran terakhir selesai. Ketika bel pulang berbunyi, beberapa siswa langsung mendekati jendela untuk melihat keadaan halaman. Yang lain membereskan tas sambil membicarakan cara pulang.

Raka memasukkan buku-bukunya, lalu meraba saku depan tas.

“Lo bawa payung?” tanyanya kepada Aruna.

Lihat selengkapnya