The Governess

nuralitayu
Chapter #3

#3 PEMBERITAHUAN PEKERJAAN

"Tidak usah dipikirkan. Istirahatlah, Nadine."

Kecanggungan yang sejak tadi menyelimuti perlahan sirna begitu Yohan menyodorkan selimut berwarna biru lembut ke arahnya. Di dalam batinnya Nadine menghembuskan nafas lega. Yohan memang yang paling baik, yang paling mengerti dirinya. Setidaknya untuk saat ini mereka berdua tidak perlu membahas hal yang serius tentang perasaan. Sesuatu yang selalu Nadine khawatirkan akan merusak hubungan akrab yang selama ini ia coba pertahankan dengan Yohan.

Yohan tersenyum tipis kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu. Sementara Nadine masih memeluk selimut pemberian lelaki itu tanpa beranjak dari tempatnya berdiri.

Meski Yohan menangkisnya lagi kali ini, meski lelaki itu kembali berpura-pura mengenyampingkan perasaannya, meski itu semua seharusnya adalah sesuatu yang Nadine patut untuk syukuri... entah mengapa rasanya tetap saja berat. Seperti punya beban di kedua pundaknya yang harus segera dituntaskan. Nadine berbalik dan menatap pintu kamar Yohan yang sudah tertutup rapat dengan tatapan melemah.

Ia tidak bisa lagi merepotkan lelaki itu lebih dari ini.

***

Pagi itu Nadine terbangun dalam kondisi rambut yang sudah acak-acakan di atas sofa. Selimut biru muda pemberian Yohan nampak melorot hanya menutupi kakinya, pertanda bahwa semalam tidurnya entah nyenyak atau kebanyakan bergulat dalam mimpi panjangnya. Di sisi kiri bawah sofa, terlihat sepiring roti telur beserta segelas susu hangat dengan sepucuk kertas catatan yang mengingatkannya untuk jangan lupa sarapan sebelum keluar mencari pekerjaan kembali hari ini. Sudah bisa ditebak sarapan dan catatan semua itu adalah pemberian Yohan, sang pemilik tempat ini.

Tidak langsung meraih piring itu, Nadine malah menengadahkan kepalanya ke atas. Lelaki itu masih sempat membuatkannya sarapan sebelum pergi bertugas. Lelaki itu masih mengizinkannya tinggal di sini bahkan memberikan kamar pribadi untuk dirinya meski Nadine menolak dan bersikeras untuk terus tidur di sofa ruang tamu saja.

Satu pertanyaan muncul dalam benaknya.

'Sampai kapan ini terus berlangsung?'

Sudah terlalu banyak yang lelaki itu lakukan untuk dirinya, dan hingga detik ini ia hanya bisa terus menjadi parasit dalam hidup Yohan.

Lihat selengkapnya