The Gravity Of Us

Farah MAULIDA
Chapter #1

(Still) Orbiting You

🌠


Dalam fisika, sebuah objek akan tetap berada dalam lintasan lurus kecuali ada gaya luar yang memaksanya berubah.

Selama lima tahun, Faira Adrianna mengira ia telah berhasil membelokkan lintasannya sendiri. Ia membangun dinding di ESA, mengubur diri dalam data satelit, dan meyakinkan logikanya bahwa jarak ribuan mil antara London dan Jakarta telah membunuh setiap sel memori tentang Hero Campbell.

​Namun, fisika tidak pernah memperhitungkan variabel bernama rindu.

​Lantai marmer itu terasa sedingin es di bawah sepatunya. Faira melangkah di belakang Sarah, namun pandangannya seolah ditarik magnet tak kasat mata menuju ujung altar.

Di sana, Hero Campbell berdiri.

​Hero tidak menatap sang pengantin. Ia juga tidak menatap kerumunan. Matanya terkunci pada Faira, seolah-olah seluruh dunia di sekitar mereka hanyalah background yang kehilangan fokus. Wajah yang kini sering menghiasi layar lebar itu tidak sedang berakting. Hero tahu benar mengapa Faira pergi lima tahun lalu—tentang diagnosa ibunya, tentang beban yang dipikul bahu mungil itu sendirian di Indonesia.

Hero tidak mendendam pada keputusan Faira. Ia hanya hancur karena ia tidak pernah diberi kesempatan untuk berjuang di sisi Faira Adrianna, pusat gravitasi dunianya, dan pusat alam semesta Hero Campbell.

​Saat Faira sampai di altar, langkahnya tertahan. Jarak mereka kini hanya satu meter. Faira melihat jakun Hero bergerak—tanda gugup yang masih sama sejak malam-malam mereka di Oxford, tempat pertama kali mereka memadu kasih sebagai sepasang kekasih.

Tidak ada sinisme, Hero justru menatapnya dengan kelembutan yang menyakitkan. Tatapan seseorang yang menyadari bahwa waktu lima tahun ternyata gagal menjalankan tugasnya untuk menghapus rasa.

​"You're back," bisik Hero. Suaranya tidak tajam, melainkan parau, seperti seseorang yang baru saja menemukan oksigen setelah tenggelam sekian lama.

​Faira mencoba tetap tegak, meski dunianya sudah oleng. "Aku kembali untuk pernikahan Sarah, Hero."

​Hero tersenyum tipis—sebuah senyum sedih yang membuat hati Faira seperti diremas.

"Aku menghabiskan lima tahun meyakinkan diri bahwa aku sudah berhenti mencarimu di setiap kerumunan. Aku bermain di puluhan film, memeluk wanita lain di depan kamera, dan berpura-pura hatiku sudah mati."

​Hero menarik napas gemetar, suaranya nyaris tenggelam oleh megahnya musik organ. "Tapi melihatmu di sini... aku sadar aku hanyalah pembohong besar. Aku masih di titik yang sama saat kamu meninggalkanku di balkon itu. Aku masih terlalu mencintaimu, dan itu menakutkan."

​Faira merasakan matanya panas. Logikanya berteriak untuk lari, namun gravitasi di mata Hero menguncinya di tempat.

Hero tidak marah karena ditinggalkan.

Ia hanya marah pada dirinya sendiri, karena setelah semua pencapaiannya di dunia hiburan, ia tetap tidak bisa berhenti menginginkan Faira.

​Di bawah kubah gereja itu, Faira akhirnya menyerah pada satu kenyataan: lima tahun hanyalah angka, dan cinta mereka bukanlah variabel yang bisa dihapus oleh waktu.

Mereka adalah dua objek yang ditakdirkan untuk saling memutari, terjebak dalam orbit yang sama selamanya.


💫💫💫💫💫


Dalam cerita yang seringkali hadir di metropop, pesta pernikahan selalu menjadi tempat paling ironis untuk sebuah pagelaran reuni.

Di sini, semua orang merayakan masa depan, sementara Faira dan Hero terjebak dalam masa lalu yang sama-sama belum selesai.

Lihat selengkapnya