(5 years ago...)
"Namanya Angela Santos, mahasiswi kedokteran Oxford yang rencananya akan mengambil spesialis dermatologi. Dia terkenal paling cantik diangkatannya, sampai para pria mengantri untuk mengajaknya kencan. Tapi, temanku yang satu ini memang sangat pemilih. Rekor pacar terlamanya hanya sampai 1 bulan."
Sarah Hasting menyesap segelas sampanye nya dalam tegukan panjang.
Dan sebelum yang diajaknya bicara ini merespon, jari telunjuknya terangkat didepan wajah sambil melanjutkan penuturannya, "Tapi aku yakin, begitu dia lihat kamu, pasti matanya akan sulit berpaling ke yang lain. Karena aku tahu semua mantan-mantannya yang tampangnya tidak seberapa itu. Kalau kamu masuk dalam list laki-laki yang dikencani Angela, kamu bakal jadi kandidat terbaik untuk bisa jadi pacar Angela."
Hero Campbell yang sejak tadi sudah ingin sekali menyelak, sekarang jadi kehilangan kata-kata. Didepan Sarah, kekasih sahabatnya yang sejak seminggu yang lalu gencar sekali ingin menjodohkannya dengan salah satu sahabat Sarah, Hero menenggak habis sebotol bir ditangannya dalam sekali tegukan.
Joseph yang sejak tadi menghilang entah kemana, muncul ditengah keramaian orang-orang yang sedang menikmati pesta tahun baru yang diselenggarakan oleh para anggota College System di gedung asrama Balilol College.
Sambil menenggak sebotol bir yang barusaja ia ambil di lemari pendingin, Joseph menyerukan sesuatu tepat didaun telinga Hero.
"Sudah ketemu, belum?" tanya Joseph, nyaria berteriak ditengah dentuman musik pesta yang semakin malam semakin meriah.
Hero menggelengkan kepala, "Sarah bilang dia masih di toilet. Memangnya mahasiswi kedokteran seperti Angela mau dengan mahasiswa teater sepertiku? Bukannya jadi malah turun kasta?"
Tawa Joseph mengudara melawan kebisingan suara orang-orang yang berpesta disekitarnya, "Angela sedang ingin punya pacar orang British tulen katanya. Dan kamu jadi calon yang pas, menurut pengamatannya Sarah."
Hero menyandarkan bahunya ke dinding marmer dibelakangnya, memutar sebotol bir di tangannya dengan gerakan ritmis tanpa arah pasti. Di bawah pendar lampu kristal yang menggantung ditengah ruangan, rambut cokelat terangnya menangkap cahaya, memantulkan gradasi keemasan yang sering kali membuat para casting hunter enggan mengubah tatanan rambutnya.
Sosoknya adalah anomali visual di antara kerumunan mahasiswa teater lainnya—terlalu rupawan untuk sekadar disebut manusia biasa.
Namun, daya tarik utama Hero bukanlah pada rahangnya yang tegas, melainkan pada pancaran kedua matanya. Sepasang mata birunya yang sejernih samudera, namun menyimpan kedalaman yang sulit ditebak.
Hero punya ciri khas pada pandangan tajamnya yang dikenal sanggup membungkam siapapun lawan bicaranya tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata. Pandangan yang bagi banyak wanita di Oxford terasa seperti sebuah undangan, namun bagi Hero, itu hanyalah sebuah benteng untuk menyembunyikan rasa bosan yang akut.
"Aku mau ambil minuman lagi," seru Hero memekak kan telinga, sebuah alasan yang lebih terdengar seperti pengumuman melarikan diri dari Joseph.
Setelah Joseph mengangguk singkat, Hero segera bergegas menyelinap di antara punggung-punggung manusia yang sedang asyik menari mengikuti dentuman musik yang menghentakkan lantai asrama.
Namun lucunya, tujuan Hero bukan ke bar. Ia malah berjalan memutar, mengambil rute yang membawanya tepat ke belakang meja camilan.
Dan ketika matanya sedang berpendar untuk memilih camilan mana yang ingin dia ambil, sudut mata Hero menangkap seorang gadis yang muncul sambil tergopoh-gopoh menaruh tumpukan keripik berbagai jenis diatas meja.
Dibelakang gadis itu, seorang cowok berkepala botak dengan kulit gelap dan sedikit gemulai, tengah cemberut ingin merebut sesuatu dari gadis itu.
Hero tanpa sadar terkekeh sendiri. Gelagat lucu dua orang itu entah kenapa menarik perhatiannya.
"Michelle, demi Tuhan kalau kamu sampai ambil chips ini tanpa izin dariku, aku pastikan pintu kamar dorm-ku tidak akan aku bukakan tengah malam nanti!"
Hero melirik sekilas. Di depannya, seorang gadis tengah terlibat dalam sebuah operasi logistik yang sangat serius, yaitu menuangkan bungkusan besar keripik kedalam mangkok kaca besar. Wajahnya serius sekali saat memotong bungkusan bagian atas, seperti seorang kurator yang tengah melakukan presisi karya didepannya agar tampak pas untuk dipamerkan didalam museum.
Di sampingnya, Michelle—si cowok botak berkulit cokelat yang dari tadi tidak bisa diam—lagi-lagi berusaha mencoba peruntungannya. Dengan gerakan tangan yang gemulai namun penuh tipu daya, Michelle menyelinapkan jarinya untuk menarik satu bungkusan keripik dari hadapan gadis itu.
Hero memperhatikan bagaimana gadis itu tidak perlu melihat untuk menyadari ancaman yang menyelinap dibawah lengannya. Tidak butuh waktu lama, gadis manis itu langsung melempar reaksi cepat.
Tanpa mengalihkan fokus dari mangkuknya, ia melayangkan tangan yang tengah memegang gunting ke arah jemari cowok yang dipanggil Michelle.
"Michelle, get off or I'll cut your balls!"
Ancaman itu meluncur begitu saja, tajam dan tanpa filter, membuat Michelle menarik tangannya seolah ia baru saja tersengat listrik. Bibirnya kembali manyun, tampangnya sakit hati mengahadapi teman gadisnya yang galak sekali itu.
"Dasar diktator camilan! Pantas laki-laki belum mendekatimu saja sudah lari terbirit-birit. Orang kamu ini benar-benar galak sekali, apalagi dengan manusia suci seperti Michelle Gerard! Tuhan, kasihini lah umat-Mu ini atas kekejaman tirani wanita yang sungguh pelit sekali ini. Untung saja aku sayang dengan sahabatku yang satu ini, Tuhan. Kalau tidak mungkin sudah ku gunduli saja rambut indahnya ini supaya kami seperti kembar beda Ibu." Michelle mencebik panjang lebar sembari mengibaskan tangannya dengan gaya melambai yang sangat khas, bikin gadis disebelahnya melotot tajam menyuruh Michelle diam.
Setelahnya, gadis itu terus menuangkan keripik kedalam mangkok, membiarkan suara kemresek garing memenuhi udara di antara mereka.
"Masalahnya bukan aku pelit, Michelle. Tapi pesta besar ini adalah pesta pertama yang dibuat Joseph dan Sarah. Dan kamu itu punya masalah mengontrol tingkat adiksimu soal MSG. Kalau aku beri sekarang, dalam lima menit mangkuk ini cuma akan menyisakan remah-remah dan penyesalannya saja. Aku tidak mau menghabiskan malam tahun baru dengan perut keroncongan hanya karena kamu tidak bisa berhenti mengunyah, dan kepalamu harus kena tebas amarah Sarah kalau tahu porsi cemilan untuk pesta ini habis sebelum waktunya!"
Hero, yang hanya berjarak satu lengan dari mereka, gagal menahan diri. Sebuah kekehan rendah, berat, dan sangat maskulin lolos dari bibirnya. Suara itu, yang biasanya ia latih untuk proyeksi diatas panggung teater, rupanya memiliki efek magnetis juga di dunia nyata.
Gadis itu menoleh.
Untuk satu detik yang terasa seperti durasi film slow-motion, Hero membiarkan mata birunya—yang kata orang sejernih samudera namun sebenarnya seringkali terasa seperti es yang membeku—terkunci pada netra cokelat gadis didepannya. Ada kilatan terkejut di wajah cantiknya yang khas, kontras dengan gunting yang masih ia genggam erat.
Hero berdeham kecil, mencoba menetralisir suasana. "Maaf," ucapnya, suaranya terdengar berat dan tenang, "aku cuma setuju soal strategimu soal mempertahan porsi Chips untuk jatah cemilan para tamu yang hadir di pesta ini. In an Oxford party like this, chips are definitely more valuable than champagne once it hits midnight."
Gadis itu tidak lantas tersipu atau salah tingkah. Ia justru mendongak, menatap Hero dengan ekspresi datar yang seolah berkata bahwa mata biru pria itu tidak lebih menarik daripada bungkusan sour cream and onion di tangannya.
"See? Thank you for saying that by standing up for what i believe in, which is to protect these chips at all costs," sahut gadis itu santai sekaligus lega.
Sementara itu, di sebelah gadis itu, cowok yang sejak tadi dipanggil Michelle tampak seperti baru saja melihat penampakan malaikat yang jatuh dari langit Oxford. Ia terpaku, matanya tidak berkedip menatap Hero—mulai dari rambut cokelat keemasan yang berantakan dengan sempurna hingga mata biru yang tajam itu.
Michelle bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal, tangannya yang tadi lincah kini menggantung kaku di udara.
Hero menyadari reaksi Michelle, tapi fokusnya tetap pada gadis disebelahnya. Gadis unik nan cuek yang anehnya malah tampak begitu menawan di mata Hero. Ia sedikit terkejut melihat respon gadis itu yang begitu... biasa saja.
Hero tertawa kecil melihat betapa acuhnya gadis itu.
"Joseph bilang, Sarah menghabiskan waktu berminggu-minggu buat menyusun strategi malam ini. Katanya, dia ingin mengenalkan aku sama seseorang yang 'spesial' dan 'punya dunianya sendiri'." Hero memperhatikan sweter oversized gadis itu, lalu ke gunting di tangannya, dan terakhir ke binar matanya saat membicarakan keripik. "Melihat caramu menjaga makanan ini seolah-olah itu harta karun terakhir di bumi, aku mulai paham maksud Joseph soal 'punya dunianya sendiri' itu."
Gadis bermata bulat kecokelatan itu menghentikan aktivitasnya sebentar, menatap Hero dengan sebelah alis terangkat.
"Oh, jadi kamu sudah diberi tahu soal 'proyek perjodohan' yang sudah diatur Sarah dan Joseph?"
"Sulit buat pura-pura tidak tahu kalau Joseph sendiri sudah seperti agen humas yang tugasny promosi terus setiap lima menit sekali," jawab Hero, kini dengan senyum yang lebih santai. "Dia bilang aku bakal langsung tahu orangnya begitu kita satu ruangan. Dan jujur, di antara semua orang yang mencoba tampil perfect malam ini, cuma kamu yang kelihatan... nyata."
Pikiran Hero langsung menyimpulkan satu titik.
Gadis ini cerdas, punya selera humor yang aneh, tidak terpengaruh oleh pesonanya, dan merupakan teman dekat Sarah.
Semuanya cocok dengan deskripsi Angela Santos yang digembar-gemborkan Joseph—seorang mahasiswi kedokteran yang punya daya tarik kuat.
"Jadi," Hero mencondongkan tubuh sedikit, membiarkan pandangan tajamnya mengunci mata gadis didepannya.
"Apa skenario selanjutnya, Angela? Apa kita harus pindah ke tempat yang lebih tenang supaya Joseph berhenti mengawasi kita dari jauh, atau kamu mau lanjut mengancam Michelle dengan gunting itu?"
Mendengar nama "Angela" disebut, Michelle yang tadinya membatu langsung tersedak ludahnya sendiri sampai terbatuk-batuk dramatis.
Gadis yang rambutnya digelung keatas dengan asal-asalan itu kini meletakkan guntingnya perlahan ke atas meja.
Ia menatap Hero dengan tatapan yang sulit diartikan—antara ingin tertawa dan merasa kasihan.
"I hate to break it to you, Buddy, but you’ve got the wrong orbit," kata gadis itu sambil melipat tangan di depan dada.
Senyum di wajah Hero membeku. "Wrong orbit?"
"I'm not Angela Santos. I'm Faira," ucapnya santai sambil mengambil satu keping keripik lagi.