"Ada yang bilang, cinta beda dunia adalah kutukan gravitasi yang paling sunyi.
Kamu adalah bintang yang berpijar di lapisan langit tertinggi, sementara aku adalah Event Horizon—titik tanpa kembali yang perlahan menarik segalanya masuk ke dalam kegelapan. Jika kamu melangkah satu inci saja lebih dekat ke duniaku yang sedang runtuh, gravitasi ku hanya akan menghancurkan cahaya mu, mengoyak jiwamu menjadi serpihan atom yang tak lagi dikenali.
Kita tercipta di lapisan semesta yang berbeda, di mana menyatu berarti saling membinasakan."
💫💫💫💫💫
Surat itu tidak hanya sekadar datang. Ia menginvasi ruang kerja Faira yang biasanya hanya dipenuhi tumpukan jurnal teknis dan aroma kopi susu yang mulai mendingin.
Di atas meja kerja yang permukaannya sudah agak mengelupas, amplop putih berlogo resmi European Centre for Space Applications and Telecommunications (ESCAT) itu tampak seperti sebuah anomali. Terlalu bersih, terlalu berwibawa untuk suasana kantor birokrasi yang lebih sering meributkan anggaran ATK daripada eksplorasi galaksi.
Faira menjabat sebagai Fungsional Peneliti Ahli di Pusat Riset Antariksa BRIN, sebuah gelar yang kedengarannya cukup mentereng di kartu nama, namun sering kali terasa seperti administrator dokumen di dunia nyata.
Sudah hampir satu jam ia hanya menatap lembaran itu. Jemarinya masih menyisakan sensasi dingin saat pertama kali menerima amplop besar tersebut dari staf umum pagi tadi, tepat ketika ia masuk ke koridor kantor dengan napas memburu karena harus mengejar absen sidik jari.
Faira tidak menyangka hari yang pernah ia tulis dalam wishlist lima tahun lalu di Oxford ini benar-benar mewujud.
Selembar kertas di tangannya menegaskan bahwa ia telah lolos seleksi sebagai Astrophysicist and Planetary Researcher.
Ini bukan sekadar tawaran kerja. Ini adalah sisa mimpi yang pernah ia kubur dalam-dalam bersama kenangan pahit di bandara Heathrow dulu, saat ia harus memutar balik takdirnya demi mendampingi sisa waktu sang Mama di Jakarta.
Kini, tawaran itu membawanya kembali ke Harwell, Oxfordshire. Sebuah tempat yang pernah menjadi rumah bagi seluruh cita-citanya, sekaligus tempat di mana ia meninggalkan hatinya tanpa sempat berpamitan dengan layak.
Seharian itu, fungsionalitas Faira sebagai ilmuwan menurun drastis.
Pikirannya melayang, terjebak di antara data kuasai dan bayangan masa lalu.
Anika, rekan kerja Faira yang biasanya paling vokal, alias berisik, berkali-kali harus menepuk meja hanya untuk memastikan Faira masih berada di dimensi yang sama.
"Fay, ih, fokus lo offside banget sih hari ini. Gue tanya soal revisi parameter satelit nih daritadi. Lo malah bengong kayak lagi ngitungin bintang di siang bolong deh," tegur Anika sebal.
Faira hanya bisa melempar cengiran tipis demi menghindari amukan Anika.
Kegelisahan itu mengikuti Faira sampai ke rumah.
Sejak pulang, ia mengurung diri di kamar, menatap amplop yang kini terasa seperti beban moral. Ada rasa bersalah yang merayap di sela-sela kegembiraannya.
Setiap kali ia membayangkan dirinya mendarat di Inggris, ia selalu teringat pada satu variabel yang tak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Adiknya.
"Aduh, aku udah nggak tahan banget lihat Kakak nelangsa begitu. Kak, udah terima aja, deh. Berhenti pasang tampang merana begitu. Udah tiga hari nih mukanya aneh terus."
Faira tersentak. Fanya, adiknya yang kini menjelma menjadi mahasiswi Matematika Murni di Universitas Indonesia, berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap. Fanya yang baru berusia 20 tahun itu selalu punya cara untuk membaca jalan pikiran Faira, bahkan sebelum Faira sempat merumuskannya sendiri.
"Aku sudah lihat surat dari ESCAT itu, Kak. Aku tahu Kakak ragu karena mikirin aku. Tapi, please, don't let my existence jeopardize your dream. Aku tuh sudah dewasa, Kak."
Faira menggigit bibir bawahnya, menatap Fanya dengan sorot cemas yang nyata.
"Tapi Dek, kamu kan belum lulus. Kamu itu satu-satunya keluarga yang Kakak punya. Kalau Kakak nekat balik ke Inggris, kamu di sini sendirian sama siapa? Makan kamu gimana? Kalau ada apa-apa gimana?"
Fanya berdecak sebal, melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur Faira.
"Kak, kalau Kakak ngomong begini lima tahun lalu waktu Mama baru meninggal, mungkin aku masih bisa maklum. Tapi sekarang aku sudah bukan anak remaja yang perlu diingatkan makan. Aku bakal lebih sibuk sama duniaku nanti daripada yang Kakak duga. I can take care of myself."
Faira masih bungkam, menunduk menatap jemarinya sendiri. Fanya akhirnya menghela napas, suaranya melunak namun tegas.
"Kak, Mama pasti bakal lebih sedih kalau tahu Kakak masih terjebak di sini cuma karena merasa harus menjagaku. Sejak dulu, tempat Kakak itu memang di sana, di pusat ilmu pengetahuan dunia yang lebih luas, lebih besar. Ilmu astronomi yang Kakak pelajari bertahun-tahun nggak akan berkembang kalau cuma berakhir jadi tumpukan proposal di laci kantor birokrasi yang bahkan nggak paham bedanya komet sama asteroid."
Fanya tersenyum, lalu menepuk punggung tangan Faira dengan mantap. "Soal aku, aku bakal cari program beasiswa S2 di Inggris. Aku ini anak Matematika, angka nggak pernah bohong soal peluang. Kita berdua sudah juga nggak punya siapa-siapa lagi di Indonesia. Bukannya lebih masuk akal kalau kita berdua sekalian saja membangun hidup baru di sana?"
Mendengar itu, Faira merasa seperti baru saja menemukan solusi dari persamaan yang paling sulit dalam hidupnya. Dadanya yang sejak tadi sesak perlahan melonggar. Ia menatap adiknya dengan sorot takjub yang tak mampu disembunyikan.
"Dek, yang Kakak itu aku loh. Kenapa kamu bisa jauh lebih rasional daripada Kakak, sih?" gerutu Faira, berusaha menutupi harunya.
"Karena Kakak tuh terlalu pakai perasaan kalau sudah urusan keluarga," balas Fanya sambil menyambar kerupuk dari toples di meja, menghasilkan bunyi kress yang cukup heboh. "Lagian, siapa yang tahan sih lihat Kakak pulang kerja misuh-misuh terus karena birokrasi di BRIN yang bikin pusing? Aku tahu hati Kakak nggak pernah puas cuma jadi peneliti administratif."
Faira terdiam, mengakui bahwa Fanya benar-benar telah 'mengkhatamkan' jalan pikirannya.
"Emang kelihatan banget ya kalau Kakak nggak betah?"
"Ya iyalah! Kakak itu ilmuwan, bukan pengumpul berkas. Kakak tuh butuh laboratorium yang nyata, bukan sekadar ruang rapat yang isinya perdebatan anggaran doang."
Faira meringis, bahunya merosot saat memori tentang tumpukan map cokelat dan rapat-rapat panjang yang lebih seringnya tidak menghasilkan apa pun itu kecuali kantuk kembali menyerbu.
"Lama-lama Kakak bisa burnout di sana, Fan. Bawaannya harus banyak-banyak istighfar tiap kali lihat revisi proposal yang nggak masuk akal. Masa anggaran riset planet disuruh potong buat beli nasi kotak acara seremonial? It’s a literal black hole for my sanity," keluh Faira dengan ekspresi nelangsa yang dibuat-buat, namun terselip kejujuran yang nyata.
Fanya tertawa geli, berdiri sambil menumpuk dua piring kosong dengan gerakan efisien.
"Tuh, kan! Bahkan logika Kakak aja sudah mulai protes. So, what are you waiting for? Jangan sampai peluang seumur hidup ini menguap jadi debu angkasa cuma karena Kakak kelamaan bengong."
Fanya berjalan menuju dapur, namun kepalanya melongok kembali ke arah kamar.
"Kirim jawaban ke ESCAT sekarang, Kak! Sudah tiga hari itu surat mengendap di meja. Kalau sampai tawarannya hangus gara-gara Kakak telat balas email, aku bakal bilang ke seluruh dunia kalau kakaku yang jenius ini sebenarnya dikalahkan oleh tombol 'Send'."
Faira mendengus, namun sudut bibirnya terangkat. "Dih, ngancem! Kamu nggak tahu ya, proses berpikir ilmuwan itu memang butuh waktu. Harus presisi sampai ke titik desimal terkecil."
"Presisi atau emang hobi menunda?" Fanya berteriak dari dapur, disusul suara gemericik air keran.
"Buruan, Kak! Jangan sampai nanti pas Kakak akhirnya mau balas, posisi itu sudah diambil orang lain yang nggak pakai drama mikir-mikir kayak Kakak gini!"
Faira tertawa kecil, rasa sesak di dadanya perlahan menghilang, berganti dengan percikan semangat yang sudah lama padam.
Ia menarik napas panjang, menatap Macbook nya yang masih menyala, lalu jemarinya mulai mengetikkan baris demi baris jawaban yang akan mengubah garis orbit hidupnya selamanya.
💫💫💫💫💫
Tepat satu bulan sejak ia memutuskan untuk menyerah pada tarikan masa depannya di ESCAT, Faira Adrianna kembali menghirup udara Oxfordshire.
Kualitas oksigen disini memang terasa begitu jomplang. Begitu murni, dingin, dan tajam, sangat kontras dengan udara Jakarta yang biasanya pekat oleh debu dan asap sisa pembakaran kendaraan bermotor.
Namun, paru-parunya yang kini mulai terbiasa dengan kemurnian itu terkadang masih merindukan "sesak" yang familiar di Jakarta. Ia merindukan bunyi klakson yang bersahutan di jam pulang kerja, aroma sate padang yang menyeruak dari pinggir jalan Thamrin, dan tentu saja, cerewetnya Fanya yang hobi memprotes segala hal.
Sebulan lalu, semua itu adalah dunianya. Kini, dunianya menyempit dalam kesunyian apartemen minimalis di Harwell yang baru dihuninya beberapa hari.
Faira sedang sibuk menata barang-barang di lemari susun yang baru dibelinya secara online di situs Wayfair UK—setelah berjam-jam berkutat dengan instruksi rakitan yang membingungkan dan hampir membuatnya menyerah—ketika ponselnya melengking nyaring, memecah kesunyian.