The Gravity Of Us

Farah Maulida
Chapter #4

Singularity of the Heart

(6 years ago...)

Siang itu, ruang baca tua di Bodleian Library menjadi satu-satunya tempat yang terasa cukup stabil untuk menampung kepanikan Faira.

Langit di atas Oxford menggantung kelabu—abu-abu elegan yang membuat menara-menara batu kapur terlihat seperti lukisan lama. Cahaya tipis menembus jendela tinggi berkaca patri, jatuh di atas meja-meja kayu panjang yang sudah menyaksikan ratusan tahun ambisi manusia. Skripsi, disertasi, manifesto, bahkan mungkin patah hati.

Sunyi di sana bukan sekadar hening, ia terasa seperti pelukan. Dan Faira butuh itu.

Satu jam lagi.

Satu jam sebelum tesisnya resmi mendarat di inbox Profesor Orwell.

Faira menatap layar laptopnya dengan mata yang terasa seperti pasir gurun.

Dua bulan terakhir hidupnya diisi oleh grafik, jurnal, simulasi, dan kopi yang sudah kehilangan makna. Ia sempat berpikir bisa menyelesaikan bab terakhir di kamar asrama.

Pemikirannya memang sungguh optimistis, sekaligus bodoh.

Sarah, Angela, dan Michelle sedang menjadikan kamar mereka panggung konser dadakan. Lagu-lagu lama dinyanyikan dengan penuh penghayatan dan nada yang nyaris tragis. Lantai bergetar. Dinding ikut bersuara. Dan Faira tahu, kalau ia bertahan di sana lebih lama, bukan tesisnya yang selesai, melainkan kewarasannya.

Semua itu bukan tanpa alasan.

Malam ini adalah misi penyelamatan harga diri Angela.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah percintaan Angela—yang biasanya secepat promo midnight sale—ia benar-benar patah hati.

Setelah sesi pertemuan awalnya dengan Hero, Angela pulang malam itu dengan mata berbinar dan keyakinan yang hampir religius bahwa ada sesuatu di antara mereka. Cara Hero tertawa. Cara ia mendengarkan. Cara ia berdiri terlalu dekat di bawah lampu-lampu hangat pergantian tahun.

Tapi dua minggu setelahnya, tidak ada kelanjutan yang berarti. Tidak ada ajakan kopi. Tidak ada pesan larut malam yang ambigu tapi menjanjikan. Hanya percakapan sopan yang makin lama makin jarang. Dan bagi seseorang yang biasanya selalu menjadi pihak yang pergi lebih dulu, ditinggalkan—atau lebih tepatnya tidak dipilih—ini adalah pengalaman baru yang menyakitkan.

Faira sendiri sebenarnya tahu alasan di balik tidak berkembangnya pendekatan mereka. Ia tahu lebih dari yang Angela duga. Tapi Faira tahu, sepertinya akan lebih bijaksana untuk dirinya tetap tutup mulut dan membiarkan masalah itu diselesaikan sendiri dengan si empunya.

Maka karaoke malam ini adalah bentuk terapi kolektif. Dan atas nama persahabatan, Faira memilih mengalah saja dengan melipir ke perpustakaan supaya tenggat tesisnya ini selesai secepatnya

Padahal, kalau mau jujur, ia ingin sekali ikut. Menjerit kan lirik lagu, melompat-lompat tanpa memikirkan teori kosmologi yang membuat kepalanya hampir meledak. Tapi tesis ini sudah terlalu lama menggantung di atas kepalanya seperti pedang Damocles versi akademik. Ia ingin selesai. Ia ingin bebas.

Dan akhirnya—klik.

Email terkirim.

Attachment terunggah.

Nama “Orwell” muncul di kolom penerima dengan segala aura intimidatif nya yang sungguh juara.

Faira menatap layar laptop beberapa detik lebih lama, memastikan tidak ada yang salah pada saat mengirimkan hasil tesis terakhirnya. Lalu tubuhnya merosot perlahan ke sandaran kursi kayu. Seolah gravitasi tiba-tiba bekerja dua kali lebih kuat khusus untuknya.

You looked a bit down there, young lady.”

Suara rendah itu muncul begitu dekat bak petir menyambar.

Suaranya familiar, dan terlalu dekat untuk sebuah kebetulan.

Faira tersentak.

Di antara rak-rak buku tua dan bayangan cahaya kelabu, berdiri seorang laki-laki dengan mantel hitam panjang yang jatuh rapi di tubuhnya. Rambutnya yang kecokelatan terang sedikit berantakan seperti baru saja melintasi Radcliffe Camera dengan langkah cepat. Tatapan tajamnya yang khas tampak tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini—lebih fokus.

Lebih pasti.

“Hero?” Faira berbisik, otomatis menurunkan volume suaranya mengikuti aturan tak tertulis Bodleian.

Terakhir kali mereka bertemu adalah di pesta tahun baru dua minggu lalu. Malam duka yang sebenarnya tidak Faira duga justru akan dihabiskannya dengan pria asing yang seharusnya bertukar tawa bersama Angela. Pria yang entah kenapa malah menyingkir dari keramaian gerilya tahun baru hanya untuk menemani malam sendu Faira di balkon teras asrama Joseph.

“Kamu ngapain di sini?”

Senyum Hero muncul pelan. Hangat, tapi tidak berlebihan.

“Kenapa? Emangnya Bodleian cuma buat mahasiswa fisika yang lagi krisis eksistensial seperti kamu ini?”

Faira mendesis pelan. “Mahasiswa teater seperti kamu biasanya ke sini cuma kalau lagi hafalin naskah Shakespeare. Atau,” ia mencondongkan tubuh sedikit, “membawa gadis ke sudut rak buku buat adegan improvisasi.”

Bibir Hero menganga dramatis, "Astaga, Faira Adrianna. Memangnya pria macam apa aku ini dimatamu? Kamu sering lihat kejadian itu di sini, atau jangan-jangan itu proyeksi dari keinginan terpendam mu, ya?"

​"Hero!" Faira melotot, nyaris melempar pulpen Parker kesayangannya kalau saja Hero tidak tertawa duluan. Suara tawa Hero yang renyah langsung disambut desisan tajam dari meja seberang.

​​"Okay, enough with the jokes," bisik Faira sambil menahan senyum. "Kamu kebetulan lewat, atau memang ada perlu denganku?"

Hero memasang tampang pura-pura berpikir. Ia tetap berdiri, kedua tangannya meremas sandaran kursi kosong di depan Faira, seolah menahan diri agar tidak bergerak terlalu impulsif.

"Ingat saran mu dua minggu lalu? Tentang menyuruhku untuk mengejar gadis yang kusukai? So, I’m taking your advice today."

Mata Faira membelalak dramatis. Ia menutup mulutnya yang ternganga, "Benarkah? Ya Tuhan, kupikir ucapanku itu cuma masuk kuping kanan keluar kuping kiri," Faira terkekeh antusias. "Jadi orangnya ada di sini? Kamu janjian sama dia?"

​"Aku sempat mampir ke Departemen Fisika, tapi dia ternyata tidak ada di sana. Jadi aku mencoba menghubungi salah satu temannya, katanya dia sedang di perpustakaan. Rupanya dia memang sedang di sini, bersembunyi di balik tumpukan buku."

​"Departemen Fisika?" Kening Faira berkerut. "Tunggu, jadi gadis yang kamu incar itu satu departemen denganku? Ya Tuhan, Campbell. Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin? Aku mungkin tidak kenal semua mahasiwa di Departemen Fisika, tapi setidaknya kalau aku tahu namanya, aku jadi bisa bantu kamu untuk cari tahu jadwalnya supaya kalian bisa lebih enak untuk buat janji temu." Fraya mendesah senang, ikut bahagia untuk Hero, "Jadi siapa namanya?"

Lihat selengkapnya