The Gravity Of Us

Farah Maulida
Chapter #5

The Adrianna Gravity

"Faira sayang, kamu sedang tidak sibuk, kan?"

Suara Sarah di ponsel memecah kesunyian laboratorium yang hanya diisi oleh dengung halus sistem pendingin server.

​Faira melepaskan kacamata yang sejak beberapa jam terakhir bertengger di pangkal hidungnya. Ia memejamkan mata sejenak, menghalau rasa perih yang baru menyerang setelah ia membiarkan dirinya tenggelam dalam barisan data statistik dan pengamatan teleskop tanpa jeda. Di ECSAT, waktu seolah bergerak dalam dimensi yang berbeda. Satu detik keterlambatan bisa berarti kehilangan momentum transisi benda langit yang langka.

Sambil menjepit ponsel di antara bahu dan telinga, Faira melepas jas laboratorium putihnya dengan gerakan yang sedikit susah payah.

"Aku hampir lupa caranya bernapas dengan benar sejak hari pertama di ECSAT, but don't you worry, babe. I’ll always have time for your wedding plans," ujarnya sembari menyampirkan jas itu ke pengait di dinding. Ia merapikan kemeja katunnya yang mulai kusut, sedikit meraba-raba kerah bajunya untuk memastikan penampilannya masih dalam batas 'profesional'.

​"Bagus," sahut Sarah dari seberang sana, suaranya terdengar penuh kemenangan. "Karena mulai hari ini, kamu resmi menerima deretan tugas Maid of Honor yang harus dijalankan dengan patuh, terampil, dan presisi. Aku tahu sifatmu yang serba perfeksionis dan terobsesi pada detail, jadi aku benar-benar berharap tugas ini tidak akan memberatkanmu, Nona Ilmiah."

Faira menyemburkan tawa kecil yang sedikit serak. "Nona Ilmiah? Panggilan macam apa itu, Sar?"

​Ia melangkah masuk ke ruang kerjanya yang lebih privat, melewati beberapa kolega yang sedang berdiskusi rendah di depan peta konstelasi bintang.

Di mejanya, segelas kopi hitam yang ia seduh tadi pagi masih teronggok di sana—dingin, pahit, dan nyaris tak tersentuh karena ia terlalu tenggelam dalam laporan statistik yang harus segera diserahkan ke atasan.

​"Kirim saja detailnya lewat email. Nanti akan ku selipkan beberapa agenda tambahan di sela-sela jadwalku, hitung-hitung bride’s treat dari maid of honor-mu ini," tawar Faira.

​Anehnya, Sarah tidak langsung menyahut dengan antusiasme yang meledak-ledak. Ada jeda yang janggal, sebuah gumaman ragu yang membuat Faira mengernyitkan dahi.

"Actually... aku baru saja mengirim kurir ke tempatmu untuk mengantar paket tugas ini secara fisik. Dan seharusnya sih... dia sudah sampai ya."

​Faira baru saja akan bertanya mengapa Sarah repot-repot mengirim kurir ke Institut Harwell—yang jaraknya cukup jauh dari pusat Oxford—ketika telepon di meja kerjanya berdering.

Lampu kuning di konsol teleponnya berkedip-kedip, menandakan panggilan dari Marley, sekretaris departemen.

​"Sarah, hold on for a second," Faira menjauhkan ponselnya untuk mengangkat telepon di meja kerjanya. "Ya, Marley?"

​"Miss Adrianna, ada seorang tamu yang ingin menemui Anda di lobi. Beliau membawa dokumen penting untuk Anda. Do you wish to meet him now?"

​Faira mengiyakan, berasumsi bahwa itu adalah kurir yang dimaksud Sarah.

"Okay, tell him i'll be down in a sec."

​Ia kembali pada ponselnya. "Kamu ini niat sekali sih sampai kirim kurir segala ke ECSAT hanya untuk memberiku daftar tugasnya? Padahal kamu bisa kirim saja lewat email. Dasar pemborosan!"

​Sarah mendesah di ujung telepon, sebuah desahan yang terdengar seperti campuran antara rasa bersalah dan kenekatan.

"Yah, anggap saja pemborosan terakhir sebelum jadi istri orang," Sarah tertawa sumbang, lalu suaranya mendadak berubah serius. "Faira... jangan membenciku ya setelah ini."

​Langkah kaki Faira yang baru saja keluar dari lift menuju lobi lantas terhenti. "Membencimu? Memang untuk alasan apa aku harus membenci mu?"

​"Untuk alasan yang sebentar lagi akan kamu temui di lobi bawah. Gotta go. Bye!"

​Sambungan diputus sepihak, membuat mulut Faira terbuka dramatis menatap layar ponselnya sambil merutuk dalam hati dan merasa ingin sekali menghanyutkan sahabatnya itu ke dasar laut terdalam.

Namun, saat ia melangkah keluar dari area akses terbatas menuju lobi utama yang beratap kaca tinggi, kemarahannya mendadak membeku di udara.

​Udara Oxfordshire yang dingin yang merembes masuk dari pintu otomatis seolah membawa seleret aroma yang sangat ia kenal, yang entah bagaimana setiap helaan udara yang ia hirup, menciptakan degupan aneh pada jantungnya.

​Faira terpaku. Pandangannya tertuju pada sosok pria yang berdiri di dekat meja resepsionis yang dikelilingi ornamen miniatur satelit.

Pria itu mengenakan kartu visitor di saku jaket bomber hitam-putihnya, berdiri dengan gestur andalannya, yaitu menggenggam pergelangan tangannya sendiri sambil menatap arsitektur langit-langit lobi yang modern.

​Rambut cokelat terangnya tampak rapi, namun tetap menyisakan kesan berantakan yang sialnya sangat begitu indah untuk dipandang mata. Alis tebalnya memberikan kesan tajam yang mengintimidasi, namun mata birunya... mata yang bersinar seperti pendar bintang di tengah kegelapan ruang hampa, sedang menatap sekelilingnya dengan tenang.

​Lalu, mata itu bergerak. Berpendar sejenak menyisir ruangan, sampai akhirnya berhenti tepat di satu titik. Ke tempat Faira berdiri.

​Untuk satu detik yang rasanya melampaui waktu 13,5 miliar tahun galaksi yang baru saja ia amati, dunia di sekitar Faira menjadi senyap.

Tatapan tajam yang dulu pernah menjadi bagian paling ia cintai kini kembali hadir, menghapus seluruh jarak dan waktu yang ia gunakan untuk membangun benteng pertahanan.

​Hero tersenyum. Sebuah senyuman menawan yang sanggup meruntuhkan seluruh hukum fisika yang Faira agungkan. Pria itu melambaikan tangan perlahan, seolah menyapa seseorang yang sudah lama ia tunggu di pelabuhan.

Dan di lobi ECSAT yang luas itu, Faira Adrianna benar-benar lupa bagaimana caranya menarik napas dengan benar.


💫💫💫💫💫


Jika saja Hero masih berada di dimensi masa lalunya, dimensi di mana ia tidak perlu harus melalui perpisahannya dengan Faira selama lima tahun, mungkin Hero akan langsung menerjang Faira begitu gadis itu muncul dibalik pintu kaca bergeser itu.

Hero akan merengkuh tubuh Faira dalam dekapan yang seolah ingin mematahkan seluruh rindu, menyeret Faira ke mobil, dan mencumbu gadis itu habis-habisan dengan intensitas posesif yang sama seperti dulu saat ia menunggu Faira keluar dari laboratorium atau menunggu gadis itu keluar dari kelas.

​Tapi Faira yang berdiri di sana sekarang adalah sosok yang membuat seluruh logika Hero lumpuh.

Taraf kecantikannya bagi Hero sudah berada di level yang tidak masuk akal.

Mantan kekasihnya itu tampak jauh lebih matang. Rambutnya yang hitam legam kini dibiarkan terurai panjang hingga melewati bahu, jatuh dengan gelombang alami yang sempurna. Setiap kali Faira melangkah, helaian rambut itu ikut berayun, memberikan kesan anggun sekaligus misterius yang belum pernah Hero lihat sebelumnya.

​Ia mengenakan kemeja putih oversized yang dimasukkan ke dalam celana bahan berpotongan lurus, dipadukan dengan sepatu kets andalannya, sebuah kontradiksi gaya yang entah mengapa tetap terlihat sangat elegan pada dirinya.

​Hero bertanya-tanya, bagaimana bisa Tuhan menciptakan makhluk seperti Faira Adrianna, yang memiliki bakat alami untuk tidak sadar bahwa dirinya begitu indah tanpa harus berusaha lebih.

Saat langkah Faira semakin mendekat, sebuah aroma menyusup ke indra penciuman Hero, menembus pertahanannya tanpa permisi.

​Aroma itu.

​Campuran antara white musk yang lembut dengan sentuhan citrus yang segar dan sedikit aroma earthy yang menenangkan. Sialnya, Hero masih mengingatnya dengan sangat jelas. Itu adalah parfum yang sama yang sering tertinggal di bantalnya lima tahun lalu, aroma yang pernah menjadi definisi dari kata "pulang" bagi Hero.

Ternyata, meski waktu telah merombak banyak hal, Faira masih memilih untuk tetap wangi seperti masa lalu mereka—seolah-olah aroma itu adalah satu-satunya jembatan yang sengaja ia biarkan tetap utuh.

​Mata Faira sempat membesar ketika iris mereka berbenturan, namun hanya sesaat, sebuah reaksi spontan yang segera ditekan habis-habisan.

Setelah Hero melambaikan tangan untuk menegaskan eksistensinya, Faira mencoba mengukir senyum sembari berjalan menghampirinya.

​"Jangan bilang kamu kurir yang dimaksud Sarah untuk mengantar daftar tugasku sebagai Maid of Honor?" tandas Faira begitu ia berdiri tepat di hadapan Hero.

​Untuk sesaat, Hero kehilangan kosakata.

Berdiri sedekat ini dengan wanita yang pernah menjadi poros hidupnya, dengan wajah Faira yang diterpa sinar matahari Harwell yang memantul melalui jendela kaca, membuat Hero terpana.

​Dengan susah payah, tanpa ingin terlihat goyah, Hero berdeham. "Sarah tahu kamu itu penganut perfeksionisme akut. Dia cuma ingin memastikan tugas ini sampai dalam bentuk fisik, supaya kamu nggak punya alasan untuk melewatkan satu detail pun."

​Hero menyerahkan amplop cokelat itu. Ia bisa merasakan telapak tangannya sedikit berkeringat—sebuah reaksi tubuh yang menyedihkan untuk aktor sekelas dirinya. Faira menerimanya dengan dahi berkerut, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan menyelidik yang sangat familiar.

​"Tapi kamu juga tahu aku bukan se konservatif itu jadi orang, Hero. Email-ku terbuka 24 jam. Kirim digital jauh lebih efisien daripada menyuruhmu menempuh perjalanan jauh ke sini."

Lihat selengkapnya