(6 years ago...)
Siang itu, Faira tengah tenggelam dalam deretan persamaan rumit di kelas Astrophysics: Galactic Dynamic and Cosmology. Fokusnya sepenuhnya terserap pada proyeksi layar yang menampilkan simulasi tabrakan galaksi, sampai suara pintu ruang kuliah yang berat itu terbuka dengan dentum yang sengaja dikencangkan dan mendramatisir.
Professor Higgins,dosen senior yang terkenal jarang sekali tersenyum baru saja hendak melayangkan protes dengan kalimatnya yang dikenal tajam nan sinis.
Namun, suaranya tertelan oleh kehadiran dua sosok mahasiswa yang entah asalnya dari mana ini, merangsek masuk dengan kepercayaan diri setinggi aktor Broadway.
Tom, pria jangkung yang wajahnya tidak begitu asing karena pernah bermain di drama-drama Shakespeare yang diadakan teatrikal di kampus mereka, kini mengenakan wig hitam panjang yang begitu legam. Ia memaksakan tubuh atletisnya masuk ke dalam jas lab putih yang kancingnya nyaris meledak tidak mampu menjangkau lebarnya bahu pria itu.
Di sampingnya, Oliver—si jenius teater yang eksentrik—memakai wig cokelat terang yang sedikit miring, berusaha meniru gaya milik seseorang yang sangat Faira kenal.
"Maaf, Professor!" Oliver mengangkat tangan dengan gestur teatrikal sebelum Profesor Higgins sempat protes keras, "Kami sedang dalam misi darurat menyangkut masalah hati seseorang. Sains memang mempelajari hukum alam, tapi drama yang kami bawa ini adalah hukum hati yang tidak bisa lagi ditunda-tunda!"
Awalnya, Faira terkekeh bersama mahasiswa lainnya, menyaksikan adegan konyol dua pemuda di depan podium kelasnya yang entah punya agenda apa siang-siang begini. Ia mengira ini hanyalah tradisi prank mahasiswa Oxford yang memang seringkali terkenal eksentrik dan sering bikin terkejut.
Namun, tawa Faira perlahan membeku.
Tom kemudian mulai memeragakan gestur membenahi kacamata dengan gaya yang dibuat-buat feminin—parodi sempurna memeragakan seseorang yang membuat Faira tiba-tiba saja jadi punya firasat tidak enak.
"Oh, Hero!" Tom berseru dengan suara melengking gila-gilaan. "Apakah kecepatan orbit jantungku ini selaras dengan hukum Kepler ketiga saat aku melihatmu? Ataukah aku hanya sedang mengalami delusi akibat terlalu banyak menghitung massa lubang hitam diseberang galaksi Andromeda?"
Faira membelalak dan praktis menganga sampai tangannya bergerak reflek untuk menutup mulutnya.
Mereka sedang memeragakan... Faira dan Hero.
Oliver, yang Faira yakini sedang berlakon menjadi "Hero", memegang tangan Tom seraya menatapnya dengan intensitas yang terlalu berlebihan.
"Faira sayangku, cinta dalam hidupku, ketahuilah bahwa perasaanku padamu lebih masif daripada supermassive black hole di pusat Bima Sakti. Kamu adalah satu-satunya singularitas di dalam cakrawala hidupku."
Profesor Higgins memutus sejenak adegan lakon khas drama sabun murahan didepan kelasnya dengan memukul lapisan papan tulis menggunakan spidolnya hingga menciptakan bunyi sangat keras untuk meminta atensi kelas yang sudah begitu terpecah.
"Apa-apaan ini? Apakah kalian tersesat dalam perjalanan menuju kelas interpretasi drama teater?" gerutu Higgins dengan nada rendah yang mengancam. "Ini kelas Astrofisika, bukan tempat audisi untuk drama medioker West End!"
Tom, yang memakai jas lab putih seketat kulit sosis dan wig hitam yang miring ke kanan, sama sekali tidak gentar. Ia berpose dramatis ala diva opera.
"Maafkan kami, Professor yang terhormat. Tapi hukum termodinamika menyatakan bahwa energi tidak bisa dimusnahkan, dan energi asmara yang kami bawa ini sedang berada di titik didih yang harus kami selamatkan!"
Oliver menyenggol rusuk Tom sambil menggeleng kepala, lalu dengan merendah Oliver menimpali, "Maksudnya kami ini sedang berakting untuk seorang gadis incaran teman kami, Sir. Hatinya akan terus-terusan merana kalau tidak segera kami bantu dengan membuatnya jadi teatrikal seperti ini."
Masih mengabaikan wajah kaku Profesor Higgins yang hendak protes lagi, Tom kembali berjalan meliuk-liuk di depan podium, membetulkan kacamata kosongnya dengan kelingking yang terangkat.
"Dengar, kalian berdua badut sirkus," akhirnya Profesor Higgins tidak bisa menahan emosinya lagi untuk waktu lebih lama. Suaranya naik satu oktaf. "Jika dalam tiga detik kalian tidak mengangkat pantat kalian dari lantai kelas saya, saya akan memastikan kalian menghabiskan sisa semester ini dengan menghitung butiran debu di perpustakaan bawah tanah!"
"Maaf, Professor, tapi sains yang anda ajarkan ini masih bisa menunggu, sementara romansa teman kami ini sifatnya urgensi!"
Seluruh penghuni kelas meledak dalam sorak-sorai. Beberapa teman di baris depan bahkan sampai menoleh ke arah Faira, bersiul menggoda.
Wajah Faira begitu memanas sampai rasanya ingin sekali ia menghilang saja ke dalam lubang hitam mana pun yang paling dekat dengan jaraknya duduk saat ini.
Dan puncak dari kejutan memalukan dikelasnya ini adalah ketika Oliver yang masih memeragakan sebagai "Hero" palsu berlutut dengan dramatis di hadapan Tom.
"Faira Adrianna, maukah kamu pergi kencan denganku? Atau aku harus menunggu satu putaran revolusi Pluto untuk mendapatkan jawabanmu?"
Wajah Faira sudah semerah buah ceri ditengah gagap gempita tepuk tangan meriah yang kini begitu memekakkan telinga Faira.
Namun, sebelum Tom sempat memberikan jawaban konyol, mereka berdua tiba-tiba berdiri tegak, merapikan pakaian, dan membelah jalan di tengah lorong meja kuliah.
Lalu, dari balik pintu, muncul sosok yang asli. Hero yang asli.
Tanpa wig konyol, tanpa dialog yang dipaksakan. Hero melangkah masuk dengan balutan turtleneck hitam yang kontras dengan kulitnya, membawa aura yang seketika membungkam tawa konyol di ruangan itu.
Ia menaiki undakan tangga satu per satu, menuju barisan tempat duduk Faira yang kini terpaku, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Di depan Faira, Hero berlutut. Ia tidak membawa sebuket bunga Iris—bunga favorit Faira yang ironisnya sangat ia benci jika dijadikan gestur bersifat romansa.
Sebaliknya, Hero menyodorkan sebuket... cokelat wafer Beng-Beng.
Faira ternganga. Itu adalah camilan dari tanah airnya yang hampir mustahil ditemukan di lorong-lorong supermarket Oxford. Ia tahu, Hero pasti telah menempuh perjalanan berjam-jam menuju toko grosir Indonesia yang pernah didatangi Faira bersama Michelle beberapa waktu yang lalu di London Selatan. Karena hanya Michelle yang tahu jenis snack favorit Faira.