The Gravity Of Us

Farah Maulida
Chapter #7

The Perihelion Point

“Keep this number, will you? You can ring me whenever you need anything. Perhaps to talk about Sarah and Joe’s wedding preparations.”

​Pesan itu sudah terpaku di layar ponselnya selama tujuh puluh dua jam terakhir. Tiga hari yang terasa seperti keabadian yang tak berujung.

Barisan kata itu sebenarnya fungsional, praktis, bahkan cenderung sopan untuk standar dua orang dewasa yang terjebak dalam misi menbantu tetek bengek pernikahan sahabat mereka.

Namun bagi Faira, pesan dari nomor asing yang rasanya tidak se asing itu bagi dirinya terasa seperti sebuah hantaman gelombang yang merusak seluruh sistem navigasi batinnya.

​Faira menatap deretan kalimat dari Hero itu lagi yang mendarat di ponselnya tiga hari yang lalu. Yang sama sekali belum dibalasnya.

Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk menghapus deretan angka dari memori jangka pendeknya, apalagi Hero pasti sudah berganti nomor berkali-kali seiring dengan kenaikan kasta sosialnya menjadi aktor papan atas taraf dunia.

Namun, ada sesuatu yang sangat "Hero" dalam susunan kalimat pesan singkatnya, khas Hero sekali. Sebuah rasa percaya diri yang tenang namun menuntut, yang membuat Faira tahu dari siapa pesan yang mendarat di ponselnya tanpa harus Faira simpan dulu nomornya.

Pesan itu seperti bom atom di pusat ketenangannya, meluluhlantakkan pertahanan yang Faira bangun dengan susah payah selama ini di Indonesia.

​"Faira, earth to Faira!"

​Suara Rosamund Hayes memecah gelembung lamunan Faira. Rekan kerjanya di ECSAT itu menyembulkan kepala di balik dinding cubicle dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu yang mengganggu Faira.

​"Kolega-kolegaku tidak berhenti bertanya tentang pria yang bersamamu kemarin di laboratorium JWST," Rosamund menumpu dagu di tangannya, "Ada yang bilang pria tampan dan seksi yang bersamamu kemarin itu mirip sekali dengan aktor Inggris yang sedang naik daun sekarang ini. Yang memerankan detektif di sekuel Sherlock Holmes terbaru di Netflix. Siapa namanya?"

​Seorang staf yang sedang melintas sambil membawa tumpukan dokumen menyahut tanpa perlu diminta, "Hero Campbell!"

​Rosamund menjentikkan jari dengan antusias. "Nah, itu! Hero Campbell. Katanya mirip sekali. Dia siapa? Kekasihmu?"

​Faira merasakan sudut bibirnya berkedut, perpaduan antara keinginan untuk terpingkal dan rasa pahit yang berbaur menjadi satu.

Jika satu departemennya sampai tahu bahwa pria "seksi" yang mereka bicarakan dengan heboh itu adalah mantan kekasihnya di Oxford dulu, yang pernah membuat dunianya jungkir balik, mungkin sejarah keilmuan di kantor ini akan berubah menjadi rubrik gosip permanen yang akan berlangsung samgat heboh selama sebulan penuh.

Faira mengerling pahit. Kekasih? Ia mendapati dirinya tersenyum sendiri, jenis senyum yang lebih mirip dengan cara seseorang mengasihani dirinya sendiri.

​"Dia... teman lama. Kami satu kampus di Oxford dulu," jawab Faira, berusaha terdengar se faktual mungkin.

​Rosamund tetap tidak puas. Ia bahkan menyeret kursi kosong, duduk tepat di sebelah Faira dengan aura setara detektif amatir.

"Faira, kemarin itu aku sempat melihatnya dari jauh. Dia benar-benar tampan sekali. Benar-benar setampan itu. Temanmu itu seperti baru keluar dari sampul majalah Mens Style," Rosamund mulai mengetikkan sesuatu di kolom pencarian internet dan menunjukkan profil Hero Campbell yang langsung muncul di halaman utama.

​"Kalau kamu tidak tahu Hero Campbell yang seperti apa, ini dia orangnya. Temanmu itu seperti kloningan aktor ini. Aku memang belum pernah menonton filmnya, tapi setelah pulang kantor nanti aku akan marathon filmnya di Netflix. Temanmu ini sudah punya pacar belum? Namanya siapa?"

​Tawa Faira akhirnya meledak juga, sebuah reaksi refleks yang membuatnya langsung menutup mulut, namun sisa-sisa tawa itu masih mengudara dengan sisa-sisa sesak. Ia tidak tahu kehadiran Hero kemarin ternyata sudah menciptakan kegemparan di ECSAT.

​"Namanya?" Faira menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa, "Namanya Hero Maxwell Campbell."

​Keheningan mendadak jatuh. Rosamund tertegun, matanya berpindah dari layar ponsel ke wajah Faira, lalu kembali ke layar dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. "Maksudmu... temanmu itu adalah Hero Campbell? The Hero Campbell? Si aktor yang ku maksud itu? Astaga Faira, kenapa kamu tidak bilang dari awal!"

​Faira mengangguk susah payah. "Kalau aku bilang dari awal, aku akan kehilangan momen melihatmu dengan penuh percaya diri menunjukkan fotonya seolah aku tidak tahu siapa dia."

​Rosamund merengut, bibirnya mengerucut sebal karena merasa dikerjai. Namun sedetik kemudian, binar matanya kembali menyala, kali ini penuh harapan, "Jadi, bagaimana? Kamu mau mengenalkannya padaku, kan? Kapan lagi aku punya kenalan aktor ternama Inggris! Apalagi sampai punya pacar seorang aktor ternama seperti dia."

​Faira meringis iba, sebuah gestur perlindungan diri yang halus. Ia menyandarkan tubuhnya, berbisik lirih pada Rosamund, "Sayang sekali, Ros. He’s off the market. Dia sudah punya kekasih."

​Antusiasme Rosamund menguap seketika. Ia menghempaskan punggung di sandaran kursi sambil bersedekap.

"Ah, sial. Kenapa yang berkualitas selalu sudah habis di pasaran?" Ia mendesah kecewa, namun kembali memekik pelan, "Tapi aku boleh minta tanda tangannya, kan? Ngomong-ngomong, kemarin itu dia sedang apa di ECSAT? Apakah dia akan syuting disini?"

​Tepat sebelum Faira menjawab serangan pertanyaan Rosamund, ponsel Faira kembali berdenting.

Layarnya menyala, menampilkan notifikasi dari nomor tanpa nama yang sama, yang membuat jantungnya kembali melakukan lompatan kecil yang sangat tidak ilmiah.

When can i see you again?

​Sebuah kalimat pendek yang mampu merubuhkan seluruh tesis hidup Faira tentang "melupakan masa lalu".

Ingin rasanya ia tumpahkan seluruh isi umpatan di kepalanya ini ke dalam kolom balasan pesan Hero.

Bagaimana kalau menunggu kamu sampai bukan milik orang lain dulu, baru kita bisa bicara soal pertemuan?

Namun untuk kesekian kalinya, Faira hanya mampu mengulum senyum pahit, membiarkan pesan itu menggantung tanpa balasan lagi, tepat sebelum sebuah panggilan darurat dari Sarah masuk disaat yang sama.

Secepat kilat Faira menekan tombol jawab dan menempelkannya ke telinga,

"Halo Sar--"

"FAY, I NEED YOUR HELP!"


💫💫💫💫💫


Di sisi lain kota di London, di dalam studio pengeditan yang dingin dan dipenuhi layar monitor, Hero Maxwell Campbell sedang berperang dengan pikirannya sendiri.

Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, membiarkan matanya yang perih menatap hasil penyuntingan adegan untuk proyek film besar yang tengah ia garap sebagai salah satu produser utama.

Dua tahun terakhir, Hero sukses membangun benteng kesibukan di belakang layar sebagai seorang produser film.

Ini adalah bentuk lain yang sudah digelutinya selama bertahun-tahun ketika kesibukannya menjadi aktor belum berhasil membuat bising didalam kepala dan hatinya tak kunjung mereda.

Mengejutkannya, menambah kesibukan dibalik layar sebagai produser justru menjadikannya sebagai strategi mekanisme pertahanan agar pikirannya tidak terus-menerus tergelincir ke arah satu orang yang sama.

​Faira Adrianna.

​Pertahanan yang sudah digelutinya dengan susah payah itu selama bertahun-tahun rusak seketika dalam satu malam pesta Sarah kemarin.

Hero merogoh ponsel di sakunya. Hembusan napasnya terdengar berat di ruang studio yang sunyi itu.

Ia membuka kembali jendela percakapan yang ia kirimkan pada Faira tiga hari lalu.

Statusnya masih sama: read. Tanpa balasan, tanpa tanda-tanda kehidupan.

​"Berhenti menatap benda itu sebelum kamu melubanginya dengan matamu, Hero."

​Ronald Winston, pimpinan editor sekaligus orang yang telah menemani Hero sejak masa-masa awalnya merintis karir, masuk sambil menyodorkan segelas kopi hangat. Hero menerimanya tanpa suara, membiarkan aroma kafein yang tajam sedikit menyentak kesadarannya.

​"Masih belum ada balasan?" Ronald bertanya sambil menarik kursi di sebelah Hero, mengenakan kembali headphone-nya dan membiarkannya menggantung di leher.

​Hero menggeleng pelan, pandangannya terpaku pada uap kopi. "Mungkin dia memang sudah tidak ingin punya urusan denganku, Ron. Lima tahun itu ternyata cukup ampuh untuk mengubah seseorang menjadi begitu asing. Sekalipun kami berdua pernah saling bergantung dan mencintai."

​Ronald terdiam sejenak, menyesap kopinya sendiri sebelum menyahut dengan nada yang lebih tenang.

"You should've called her instead of texting her. Pesan singkat hanya memberi ruang untuk berspekulasi yang tidak-tidak."

​Hero terkekeh parau, tawa yang terdengar sangat letih. "Meneleponnya? Untuk apa? Untuk membuat diriku terlihat semakin menyedihkan ketika kulihat ia begitu biasa saja seolah kami tidak pernah jadi apa-apa lima tahun yang lalu?"

Hero kembali menghempaskan punggungnya di sandaran kursi sambil bersedekap. Terlihat merana sekali,

"Aku sudah punya Arianna, Ron. Seharusnya aku sudah cukup bahagia sekarang. Aku punya karir, aku punya kekasih yang mencintaiku... tapi kenapa rasanya ada yang salah?"

​Ronald memutar posisi duduknya hingga menghadap penuh ke arah Hero. Matanya menatap tajam sahabatnya yang tampak begitu merana di balik gemerlap statusnya sebagai aktor besar.

"You want me to be honest, do you?"

​Hero hanya mengangkat alisnya sedikit, memberi isyarat agar Ronald melanjutkan.

​"Aku sudah bersamamu selama empat tahun, Hero. Aku melihatmu berkencan dengan beberapa wanita, sampai akhirnya kamu menjatuhkan pilihan mu pada Arianna. Tapi dari semua itu, aku belum pernah melihatmu di fase se menyedihkan ini. Hanya karena pesan yang tidak dibalas? Come on, Campbell. Khalayak tidak akan percaya sosok Hero Campbell sang aktor ternama di Inggris ini bisa merana hanya karena seorang wanita yang bahkan bukan kekasihnya. Bahkan waktu ada satu film mu yang gagal di pasaran, kamu tidak pernah terlihat se menyedihkan ini."

Ronald menepuk pundak Hero dengan mantap, lalu melanjutkan, "Kembalinya Faira ke Inggris bukan sekadar reuni teman lama bagimu. Itu adalah kepulangan yang tidak kau duga akan terjadi setelah lima tahun kalian berpisah. Tapi ingat satu hal, jangan sampai kamu menjadi pihak yang egois dengan menyakiti kedua hati perempuan itu hanya karena kamu tidak bisa memutuskan di mana hatimu sebenarnya berada."

​Hero terdiam, merasa kata-kata Ronald baru saja menelanjangi semua rasa bersalah yang ia sembunyikan di balik raganya yang sudah porak poranda di menit mata birunya mendarat pada sepasang mata cokelat Faira.

Ia merasa seperti pengkhianat di atas panggung sandiwaranya sendiri. Kehadiran Faira di Inggris seolah menyedot seluruh atensi dan cahayanya, membuat dunia di sekelilingnya—termasuk keberadaan Arianna kemarin di pesta pertunangan Sarah—menjadi kabur dan kehilangan makna.

​"Dia kembali ke Inggris untuk menetap, Ron. She's back for good," bisik Hero dengan nada yang sangat rendah, seolah ia sedang mengakui sebuah dosa besar. "Dan setiap kali aku menutup mata, aku masih bisa merasakan bagaimana gravitasi perasaannya menarik ku kembali ke masa itu. Bahkan pidatoku di pesta Joseph kemarin sampai terputus begitu mataku menyadari kehadirannya ditengah pesta."

​Ronald menghela napas panjang, ikut merasakan beban melankoli yang menggantung di ruangan itu. "Kalau begitu, selesaikan, Hero. Jangan dibiarkan menggantung. Jangan biarkan dia—dan dirimu—terperangkap dalam orbit yang tidak memiliki tujuan. Yang kulihat, kalian jelas-jelas memang belum selesai. Atau, kamu memang belum bisa mengakhiri semuanya."

​Keheningan kembali menyelimuti mereka selama beberapa menit, hanya suara dengung mesin pendingin ruangan yang terdengar, sampai akhirnya ponsel di saku Hero bergetar hebat.

Hero nyaris menjatuhkan kopinya—sebuah refleks impulsif yang selalu muncul setiap kali ada notifikasi masuk ke ponselnya—berharap ada keajaiban bahwa Faira mencarinya.

​Namun binar kegembiraan di matanya langsung surut saat melihat nama Joseph yang muncul.

Ia segera menjawab, mendengarkan kepanikan sahabatnya itu selama satu menit penuh tanpa memotong.

​"Sepertinya tugas Best Man-ku baru saja dimulai dengan sedikit drama. Sudah kuduga kekacauan ini akan datang secepat yang bisa diperkirakan." gerutu Hero sambil menyambar mantelnya dengan gerakan cepat, mencoba mengalihkan rasa sesaknya ke hal lain.

​Ronald tertawa rendah, mencoba mencairkan suasana. "Memangnya apa lagi ulah Joseph kali ini?"

​Hero mendesah pasrah saat membuka kenop pintu studio, matanya berkilat dengan kombinasi rasa lelah dan tekad, "I'll tell you some other time, Ron."


💫💫💫💫💫


Lihat selengkapnya