(6 years ago...)
Suara dentuman pintu dorm yang Faira sengaja banting tidak hanya memutus keheningan sore di asrama, tapi praktis membuat Sarah dan Michelle yang sedang menikmati quality time sambil berbincang hangat dengan sekotak pizza di ruang tengah nyaris melompat dari sofa.
Potongan pizza di tangan Michelle bahkan belum sempat mencapai mulutnya saat pintu itu terbanting menutup, menyisakan getaran yang terasa sampai ke bingkai foto di dinding.
Faira berdiri di sana, bersandar pada pintu kayu ek yang dingin dengan napas memburu—perpaduan antara habis berlari dan sisa adrenalin dari kejadian di kampus. Tangannya yang satu masih mencengkeram buket... bukan bunga mawar atau Blue Irises yang dibelinya di High Street Market, melainkan sebuah buket cokelat wafer Beng Beng yang dibungkus kertas krep cokelat sederhana.
Pemandangan yang luar biasa absurd bagi Faira Adrianna, mahasiswi Fisika Oxford yang biasanya dikenal paling santai dengan selera humornya yang terkenal sangat receh, kini tampak seperti orang yang baru saja memenangkan lotre tapi bingung cara mencairkannya.
Michelle menatap buket itu, lalu beralih ke wajah Faira yang memerah hingga ke telinga. Ia berusaha sekuat tenaga menelan tawanya, namun bahunya yang berguncang hebat tidak bisa berbohong.
Sarah, yang sejak Faira masuk sambil terengah-engah tadi menyadari anomali yang terjadi diantara kedua temannya, menoleh bergantian dengan dahi berkerut. "Ada apa, sih? Faira, wajahmu kenapa merah sekali begitu? Kamu baru saja memenangkan maraton atau habis dikejar anjing di University Parks?"
Faira berkacak pinggang, napasnya berangsur stabil namun matanya menatap Michelle dengan tajam, siap menebas kepala Michelle kapan saja, "Tidak ada anjing, Sarah. Hanya ada konspirator penghianat di ruangan ini."
Ia menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali sisi "Faira yang cuek" meski jantungnya masih berdegup dengan ritme yang sangat tidak ilmiah. "Forgive me for being dramatic, but nothing happened, Sarah. Aku hanya perlu memberi sedikit 'kuliah umum' untuk Michelle."
Lalu mata Faira yang tajam kembali melayang ke wajah Michelle yang merah padam karena sekuat tenaga menahan tawa, "Young Man, could i speak to you for a second before i throw that damn pizza right on your face?"
Faira mengucapkannya dengan nada ramah dibuat-buat yang mampu membuat siapapun yang mendengarnya jadi bergidik ngeri.
Michelle segera menaruh pizzanya kembali ke kotak, lalu mengangkat kedua tangan seolah menyerah pada sahabat karibnya yang sepertinya bersiap mengamuk sebentar lagi.
"Doakan aku selamat di tangan ilmuwan ini, Sarah," bisik Michelle dengan nada dramatis, sebelum mengikuti Faira masuk ke kamar.
Begitu pintu kamar tertutup, Faira membantingnya sekali lagi.
Sengaja. Biar dramatis. Biar Michelle tahu dia sedang tidak bercanda.
Michelle yang sejak tadi menahan diri, kini meledak dalam tawa yang luar biasa keras sampai harus memegangi perutnya.
"Puas, hah!?" Faira melempar buket Beng Beng itu ke atas kasurnya yang berantakan dengan buku-buku teks fisika kuantum. "Kenapa kamu tiba-tiba berbelok haluan jadi mak comblang, Michelle? Since when did you become his sidekick? Sejak kapan kamu jadi intel pribadinya Hero Maxwell Campbell?"
Michelle terbahak sambil menyeka sisa air mata di sudut matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.
"Faira, darling, listen to me. Sejak pesta malam tahun baru kemarin itu, cowok British seksi bermata se jernih berlian itu memang sudah terang-terangan menunjukkan kalau dia lebih tertarik padamu dibanding Angela! I’m just helping the universe find its course! Nothing more!"
Faira mendengus kesal, ingin sekali di cekik nya Michelle.
Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi meja belajar, memutar kursi itu dengan gusar.
"Tapi Sarah kan sudah menjodohkan mereka, Michelle! Kamu tahu sendiri betapa ambisiusnya Sarah kalau sudah jadi Matchmaker! Kamu tidak bisa main memberi info pribadiku ke Hero begitu saja tanpa melihat situasinya terlebih dahulu. Kamu tahu tidak, apa yang dia lakukan hari ini? Dia membuat kegaduhan di kelas Mr. Higgins! Melibatkan teman-temannya yang sama-sama anak teater untuk membuat pertunjukan murahan yang sukses bikin heboh satu kelas!"
Mata Michelle membelalak, kali ini benar-benar terkejut. "Mr. Higgins? Profesor yang seleranya sekaku patung selamat datang di depan gerbang utama Oxford? Memangnya apa yang nekat dilakukan Hero di kelasnya?"
Faira memutar bola matanya, menceritakan kejadian itu dengan gaya khasnya yang ekspresif. Lalu ia menceritakan dengan kilat kekesalan yang tidak bisa lagi di bendung nya atas kejadian 'Drama Kolosal' kacangan di kelas Astronomi nya tadi.
Dan sepanjang Faira menceritakan, sepanjang itu pula senyum Michelle semakin tersungging lebar di bibirnya yang cokelat.
"Baby girl," Michelle mendekat, menepuk pundak Faira begitu temannya sudah lebih tenang setelah selesai bercerita,
"Kalau aku jadi kamu, aku pasti sudah pingsan di tempat dapat perlakuan semanis itu. Yang walaupun kata kamu, itu absurd dan konyol sekali. Mendapat perlakuan se-berani itu dari pria bermata biru paling seksi se-Inggris raya? Itu seperti adegan di film-film komedi romantis yang biasa kita tonton sambil makan es krim, Faira!"
Faira menggeram, walaupun tidak ada makian yang pas untuk dilemparkan pada Michelle.
Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, Faira diam-diam mengamini ucapan sahabatnya.
Sepasang mata biru Hero memang se menawan itu. Hero memang bukan satu-satunya kenalan Faira yang punya mata biru dan berambut cokelat terang.
Tapi kalau Faira berani mengakui, hanya mata tajam dengan bola biru sejernih milik Hero yang mampu membuat darah Faira berdesir hebat.
Bahkan ingatannya melompat jauh ke malam itu. Malam saat mereka duduk berdekatan di balkon asrama Joseph. Malam saat dunia Faira terasa hancur karena kabar sakit dari Mama di Jakarta.
Di bawah langit Oxford yang dingin, entah kenapa Faira menemukan kenyamanan untuk berbagi kepedihannya dengan orang yang bahkan baru ia kenal. Hero hanya diam mendengarkan, namun tatapan birunya seolah memberikan kekuatan yang tidak bisa dijelaskan oleh rumus fisika mana pun.
Faira kini tahu kenapa Angela sampai sekarang bisa sampai segalau ini oleh Hero yang menggantung status pendekatan mereka.
Faira menghela napas panjang. Faira memang senang sekali menonton film ber genre romance comedy yang seringkali membuat Faira dan Michelle terkadang suka heboh sendiri. Tapi bayangan adegan yang sering ditontonnya di tv tidak pernah ia duga akan ia alami sendiri di dunia nyata.
Faira sama sekali belum pernah berpacaran. Dunianya selama ini hanya berisi angka, logika, dan tawa bersama teman-temannya.
Lalu tiba-tiba saja Hero datang seperti sebuah komet yang menghantam atmosfer ke tenangannya, menciptakan ledakan perasaan yang tidak pernah ia kalkulasikan sebelumnya.
"Faira," Michelle melangkah menuju kasur, meraih buket itu dan tanpa berdosa mengambil satu wafer Beng Beng lalu memakannya seolah ia punya jatah sendiri untuk ambil wafer cokelat itu.
"Kita berdua tahu kan, untuk mendapatkan wafer ini kita harus ke seberang kota, lebih tepatnya ke London Selatan, mencari supermarket Asia kecil yang menjual snack favoritmu ini, dan untuk kesana saja kita harus menghabiskan waktu berjam-jam di jalan. Kalau pria seperti Hero sampai rela repot seperti ini, kamu pikir dia melakukannya hanya karena iseng saja?"
Michelle menggigit wafer itu dengan nikmat, mengabaikan wajah Faira yang mulai jengkel lagi, "Waktu Hero menghubungi aku beberapa hari yang lalu, aku sudah tahu bahwa tujuannya bukan menanyakan Angela. Sejak malam tahun baru, dia tidak berhenti menatapmu. Setiap gerakanmu, setiap tawamu, selalu tertangkap oleh matanya. Aku melihat binar matanya yang memuja kamu, Faira. Kamu saja yang tidak sadar karena kamu terlalu sibuk, seperti biasa, dengan duniamu sendiri."
Pipi Faira jadi merona hebat, sebuah perasaan asing yang membuat dia ingin menutup wajahnya dengan buku fisikanya yang paling tebal.
"And i have to say" lanjut Michelle dengan mulutnya yang masih penuh mengunyah Beng Beng, "pria tampan itu sudah jatuh cinta padamu, bagaimanapun kamu menyangkalnya. Sekuat apapun Angela membuatnya tertarik, mata biru pria mu itu hanya selalu tertuju padamu sekalipun kamu duduk di paling pojok ruangan."
Faira lagi-lagi berdecak frustasi. Ia merasa semakin dilema.
Tangannya meraih bantal dan melemparnya ke arah Michelle, yang dengan sigap ditangkap oleh temannya itu.
"Lalu bagaimana dengan Angela? Kamu kan lihat sendiri bagaimana dia sangat mengharapkan Hero! Dia yang paling antusias saat Sarah bilang Hero tertarik. Dan Sarah... bagaimana kalau dia tahu teman Joseph itu justru tertarik pada orang yang 'salah'? I can't deal with this thing, Michelle. Hidupku sudah cukup penuh dengan urusan kuliah dan berita tentang Mama di Jakarta. Aku tidak punya kapasitas untuk drama cinta pertama!"
Michelle ikut duduk di tepi kasur, suaranya melunak, melihat keraguan yang nyata di mata sahabatnya.
"Sekarang aku tanya, perasaanmu sendiri ke Hero bagaimana? Karena kalau memang kamu tidak suka, kamu kan tinggal bilang terus terang saja."
Faira terdiam lagi. Buntu lagi. Dia paling mahir menyelesaikan soal fisika se rumit apapun, namun jika berkaitan tentang pertanyaan tentang perasaannya sendiri, kemampuan Faira nyaris seperti seorang bayi yang dipaksa masuk kelas Fisika.
Michelle menyelidiki wajah Faira, lalu tersenyum nakal. "You’re interested in him as well, aren't you?"
Wajah Faira langsung memerah padam, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Michelle, I can't do this. This gonna hurt Angela so badly. Aku memang yang menyuruh Hero mengejar gadis yang ia sukai, tapi mana ku tahu kalau gadis yang Hero maksud adalah aku! Dan aku pikir juga Angela tidak akan seserius itu mengingat track record kencannya secepat Great Western Railway. Kenapa semuanya jadi berkebalikan!"
Ketukan di pintu kamar Faira seketika membuyarkan percakapan heboh mereka.
Suara Sarah terdengar menyahut dari luar pintu dengan nada khawatir. "Faira, are you alright? Can i come in? Aku membawakan satu potongan pizza terakhir buatmu."
Faira menggeleng cepat ke arah Michelle, matanya menyiratkan permohonan agar rahasia ini tetap tersimpan.
"We'll be out in a second, Darling! Jangan lupa sisakan bagian ku, kalau kamu tidak mau kepalamu aku buat se plontos kepalaku." teriak Michelle.
Ia kembali menatap Faira, kali ini dengan nada yang lebih serius. "Faira, kamu tidak bisa memaksa Hero memilih Angela hanya karena kamu takut merasa bersalah. Ini tidak adil untuk Hero, dan juga tidak adil untuk kamu."
Michelle menepuk pundak Faira dengan lembut. "Aku bisa lihat kamu punya perasaan yang sama. Kalau tidak, mana mungkin kamu bakal se gusar ini hanya karena sebuah ajakan kencan. I can see clearly that you have the same feeling like he did to you. Bedanya, kamu selalu lebih sibuk menyangkal daripada mengakuinya. Dan aku paham alasannya, karena kamu belum pernah jatuh cinta pada laki-laki sebelumnya. Tapi percaya padaku, rasa ini tidak seburuk yang kamu bayangkan."
Faira menghela napas panjang, menatap buket cokelat yang kini sudah tidak utuh lagi karena dimakan Michelle.
"Jadi apa yang harus aku lakukan? Hatiku rasanya aneh sekali semenjak dia memberikan cokelat ini. Aneh yang..."
"Menyenangkan?" sela Michelle.
Faira mengangguk lemah, diikuti senyum kecil yang teramat malu-malu. Senyum yang biasanya ia simpan sendiri.