The Grey Area: Garis Batas Realita

Abdul Djafar K Yahya
Chapter #2

BAB 1 Riuh di Ruang Tengah

Cahaya pucat dari layar laptop tua itu memantul di wajah Dafa, menyoroti kantung matanya yang menghitam. Di layar, dasbor situs web yang susah payah ia bangun berbulan-bulan hanya menampilkan angka statistik yang seolah mengejek ekspektasi di kepalanya. Realitanya, dunia digital yang ia kira bisa menjadi jalan pintas untuk mengangkat derajat keluarga justru terasa seperti labirin tanpa jalan keluar. Dafa memijat pelipisnya yang berdenyut, mencoba mengusir rasa penat setelah seharian mencari celah agar situsnya bisa segera menghasilkan uang.

Namun, belum sempat ia menutup laptop, derit panjang pintu kayu dari ruang depan memecah keheningan malam.

Langkah kaki yang terseret terdengar mendekat. Itu ibunya, baru saja pulang dari keliling desa menawarkan jasa pijat. Aroma khas minyak urut menguar hingga ke kamar Dafa, namun malam ini aroma itu bercampur dengan atmosfer yang berat. Dafa bisa mendengar isak tertahan ibunya di balik dinding papan.

Belum sempat Dafa beranjak, suara bariton remaja yang tergesa-gesa menyela tanpa empati.

"Bu, pokoknya Riko harus nikahin Sinta secepatnya! Riko udah telanjur janji sama dia. Kalau kelamaan, nanti dia telanjur dijodohkan orang tuanya. Soal kerjaan mah gampang, nanti Riko cari. Yang penting nikah dulu, Bu!"

Dafa menyingkap tirai kamarnya, melangkah keluar dengan rahang yang mengeras. Suara napas berat yang sesekali diselingi batuk dari kamar sebelah menyadarkannya bahwa ayah mereka masih berjuang, sementara di luar sana, dunia dengan kejam membicarakan kematiannya.

Di ruang tengah, Riko berdiri agak membungkuk ke arah sang ibu yang terduduk lemas di kursi rotan pudar. Pemuda yang baru saja melepas seragam putih abu-abunya itu bertindak sepenuhnya berdasarkan impuls emosi, sama sekali buta terhadap realita tanggung jawab yang menanti di depan mata.

Lihat selengkapnya