Layar bertuliskan "User not found" itu masih terbayang di pelupuk mata Dafa saat ia melangkah gontai menuju kamar bapaknya. Ruangan berukuran kecil itu pengap, beraroma campuran minyak angin dan obat-obatan generik. Di atas ranjang kayu yang berderit pelan, bapaknya terbaring dengan napas yang terdengar berat. Tubuh rentanya yang dulu tegap saat memimpin doa di balai desa, kini terlihat menyusut termakan usia dan penyakit.
Dafa duduk di tepi ranjang, perlahan menggenggam tangan bapaknya yang terasa dingin. Pria tua itu membuka mata, menatap anak pertamanya dengan pandangan sayu.
"Pak," panggil Dafa pelan, suaranya sedikit bergetar. "Dafa ditawari kerjaan di kota. Di gudang logistik. Gajinya lumayan, Pak. Dafa... Dafa mau pamit berangkat pagi ini."
Mata bapaknya seketika membelalak lemah. Cengkeraman tangannya pada jari Dafa tiba-tiba menguat, seolah enggan melepaskan. Pria tua itu menggeleng pelan, raut wajahnya menyiratkan kecemasan yang mendalam.
"Jangan pergi, Daf..." Suara bapaknya parau dan terputus-putus. "Bapak ini sudah tua, sakit-sakitan begini. Umur Bapak nggak ada yang tahu, Nak. Kalau kamu jauh di kota, siapa yang bantu Ibumu? Siapa yang jaga rumah kalau... kalau Bapak tiba-tiba dipanggil?"
Dada Dafa terasa sesak mendengar permohonan itu. Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam ulu hatinya. Ia ingin sekali mengangguk, memeluk bapaknya, dan berkata ia akan tetap tinggal. Namun, bayangan saldo tabungannya yang terkuras habis dan rengekan Riko semalam memaksanya untuk menelan ego.
"Justru karena Dafa sayang Bapak dan Ibu, Dafa harus pergi," ucap Dafa lembut, menahan air mata yang mulai menggenang. "Di sini Dafa nggak bisa apa-apa, Pak. Orang-orang di luar sana menghina keluarga kita, menyebar fitnah karena mengira kita sudah jatuh miskin dan lemah. Dafa butuh uang buat beli kursi roda Bapak, buat berobat ke dokter spesialis, dan... buat kasih modal Riko biar dia bisa mandiri."
Bapaknya terdiam, dadanya naik turun menahan isak yang tak bersuara. Ia tahu putranya benar. Rasa tidak berdaya sebagai seorang kepala keluarga yang tak lagi bisa menafkahi justru membuatnya semakin terpukul.
"Dafa janji, Pak. Ini nggak akan lama," Dafa mengusap punggung tangan bapaknya, berusaha meyakinkan. "Tiap bulan Dafa kirim uang. Kalau Bapak sudah sehat, Dafa pulang. Dafa mohon restunya, Pak. Tanpa doa Bapak, langkah Dafa di kota pasti berat."
Hening merayap di antara mereka selama beberapa saat. Perlahan, dengan tangan yang gemetar, bapaknya membelai puncak kepala Dafa. Air mata menetes dari sudut mata pria tua itu, membasahi bantalnya yang menguning.
"Pergilah, Nak," bisik bapaknya dengan suara bergetar yang sarat akan keikhlasan sekaligus luka. "Bapak restui langkahmu. Jaga dirimu baik-baik di kota orang. Jangan tinggalkan salat, dan cepatlah pulang."
Dengan restu yang terasa berat di dada, Dafa menjejalkan beberapa potong kaus usang ke dalam tas ranselnya. Di ambang pintu depan, ibunya sudah berdiri menanti dengan mata sembab.
"Kamu yakin mau berangkat sekarang, Daf?" Suara ibunya tertahan, menatap anak sulungnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
"Dafa sudah pamit sama Bapak, Bu. Dafa berangkat dulu," jawab Dafa seraya mencium punggung tangan ibunya dalam-dalam.
Perjalanan bus antarkota selama enam jam itu menjadi transisi yang mengubah hidup Dafa. Setibanya di kota, udara panas yang bercampur debu jalanan dan asap knalpot menyambutnya. Kontrakan petak berukuran tiga kali empat meter yang ia sewa bersama tiga pekerja gudang lainnya menjadi saksi bisu hari-harinya yang melelahkan. Dafa bekerja keras bak mesin. Mengangkat kardus, mengepak barang, menahan lapar demi menabung setiap rupiah. Ia bahkan rela memakai sepatu bot yang solnya sudah menipis demi memastikan gaji pertamanya utuh.