Malam itu, embusan angin yang menyusup dari celah ventilasi kontrakan terasa menyejukkan. Di layar laptopnya yang sudah panas, Dafa menatap dasbor platform Blogger dengan mata berbinar. Blog rintisannya akhirnya membuahkan hasil. Setelah penantian panjang, perbaikan artikel siang-malam, dan suntikan modal dari aplikasi pinjaman, pemberitahuan persetujuan dari Google AdSense akhirnya terpampang jelas.
Dafa mengeklik menu penghasilan. Ada garis grafik hijau yang merangkak naik. Saldo pertamanya tertera: $4.50.
Jika dirupiahkan, jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membeli dua porsi nasi padang. Namun bagi Dafa, angka kecil itu adalah sebuah validasi emas. Ini adalah bukti bahwa usahanya bukan isapan jempol belaka. Di tengah area abu-abu antara ekspektasi keluarganya dan realita hidup yang keras, Dafa akhirnya menemukan jalan keluar. Ia membayangkan bulan depan grafiknya akan naik menjadi seratus dolar, lalu dua ratus dolar, hingga ia bisa membawa bapaknya ke rumah sakit terbaik.
Dafa meregangkan otot punggungnya sambil tersenyum puas. Ia melirik kalender kecil di pojok layar laptop. Tanggal dua belas.
Senyum di wajah Dafa perlahan memudar. Keningnya berkerut. Tanggal dua belas?
Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ia segera menyambar ponselnya yang sedang diisi daya. Benar saja. Tanggal jatuh tempo pinjaman online itu adalah tanggal sebelas. Karena terlalu fokus mengejar target artikel dan menunggu persetujuan AdSense, Dafa melewatkan tenggat waktunya satu hari.
"Ah, cuma telat sehari. Paling kena denda lima puluh ribu," gumam Dafa mencoba menenangkan diri, meski firasat buruk mulai merayap di tengkuknya.
Ia membuka aplikasi berlogo koin emas tersebut. Saat layar utama terbuka, Dafa mematung. Angka tagihan yang seharusnya lima juta rupiah dan ingat, ia hanya menerima tiga setengah juta saat pencairan kini membengkak tak masuk akal menjadi Rp7.850.000. Denda keterlambatan satu hari dihitung dengan bunga berbunga harian yang mencekik leher.
Belum sempat Dafa memproses angka gila tersebut, ponsel di tangannya bergetar hebat. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor tak dikenal. Begitu cepat dan beruntun, seolah dikirim oleh sistem balasan otomatis.
PING!!! PING!!! WOY MALING! BAYAR HUTANG ANDA DI APLIKASI KAMI! JATUH TEMPO SUDAH LEWAT!
Dafa menelan ludah. Tangannya mulai gemetar. Pesan berikutnya menyusul beserta sebuah foto kolase. Wajah Dafa saat memegang KTP disandingkan dengan tulisan merah kapital: "DICARI BURONAN MALING UANG PERUSAHAAN! TOLONG SAMPAIKAN KE ORANG INI UNTUK BAYAR HUTANG!"